Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby pada Minggu (20/9/2026), membuat media sosial kembali ramai. Setelah sebelumnya publik menikmati chemistry mereka dalam sejumlah tayangan komedi, kabar akad nikah keduanya mengubah bahan perbincangan. Potongan video, foto pengantin, ucapan selamat, hingga selisih usia mereka beredar dalam satu keranjang kegaduhan digital.
Di tengah riuhnya ucapan selamat dan candaan warganet, ada persoalan sosial yang lebih menarik daripada sekadar menebak chemistry di layar. Cara masyarakat menilai pasangan dengan selisih usia memperlihatkan bagaimana standar gender masih bekerja secara diam-diam. Pernikahan selebriti akhirnya menjadi cermin yang memantulkan kebiasaan kita sendiri.
Dalam sosiologi, dikenal istilah May–December relationship. Istilah ini menggambarkan hubungan romantis dengan perbedaan usia yang mencolok, ketika satu pihak berada pada fase kehidupan yang lebih muda dan pihak lainnya lebih tua. Seperti bulan Mei dan Desember, keduanya berada dalam musim kehidupan yang berbeda.
Studi lintas 130 negara yang diterbitkan dalam Population and Development Review menemukan bahwa laki-laki rata-rata berusia 4,2 tahun lebih tua daripada pasangan perempuannya. Angka tersebut menggambarkan pola umum, bukan aturan alam yang wajib diikuti setiap pasangan. Ketika selisih usia melebar hingga belasan tahun, perhatian sosial biasanya ikut meningkat.
Kajian psikologi memiliki penjelasan tersendiri mengenai dinamika pemilihan pasangan hidup. Sejumlah teorinya terutama Sexual Strategies Theory yang dirumuskan oleh David Buss (1993) menghubungkan preferensi laki-laki terhadap perempuan yang lebih muda dengan indikator fertilitas, sementara perempuan diasumsikan cenderung memilih laki-laki yang memiliki sumber daya dan stabilitas.
Kendati demikian, seperti yang ditekankan dalam Social Role Theory oleh Alice Eagly (1999), kerangka evolusioner ini tidak layak diperlakukan sebagai vonis genetis atas seluruh hubungan manusia. Faktor kontemporer seperti pergeseran budaya, kesetaraan gender, dan kemandirian ekonomi terbukti turut merekonstruksi ulang preferensi interpersonal masyarakat modern di luar batasan biologis purba.
Dalam tatanan patriarki, laki-laki lebih sering ditempatkan sebagai pemilik sumber daya dan pengambil keputusan. Perempuan kemudian dinilai melalui kecantikan, usia, serta kemampuan reproduktif. Hubungan romantis ikut terseret dalam sistem penilaian tersebut.
Di sinilah standar ganda penuaan bekerja. Laki-laki yang menua sering masih diberi ruang untuk tampil berwibawa, mapan, berpengalaman, bahkan semakin menarik setelah memiliki kekayaan. Perempuan yang menua justru lebih cepat dipaksa berhadapan dengan kecemasan tentang penampilan dan berkurangnya nilai sosial.
Ketimpangan itu terlihat ketika relasi dengan laki-laki lebih tua dianggap lumrah saja. Ketika perempuan yang lebih tua menjalin hubungan dengan laki-laki muda, label seperti cougar atau sugar mommy dapat muncul dengan cepat. Laki-laki mudanya pun dicurigai sebagai pemburu harta. Seolah-olah perempuan tidak mungkin dicintai tanpa menyertakan rekening bank dalam percakapan.
Karena itu, perbincangan mengenai Andre Taulany dan Amanda Rigby semestinya tidak berhenti pada selisih usia atau dugaan hubungan mereka. Kita perlu melihat bagaimana komentar publik bekerja. Apakah usia menjadi masalah karena relasinya berbahaya, atau karena masyarakat masih menganggap laki-laki memiliki hak lebih besar untuk menua tanpa kehilangan daya tarik?
Tentu, perbedaan usia dapat menghadirkan persoalan mengenai ketimpangan kuasa, pengalaman hidup, ketergantungan ekonomi, dan kerentanan emosional. Semua itu perlu diperiksa berdasarkan kondisi nyata dalam sebuah hubungan. Angka kelahiran saja tidak cukup untuk menetapkan seseorang sebagai korban atau pelaku.
Hubungan yang melibatkan orang dewasa membutuhkan persetujuan sadar, kedewasaan emosional, dan penghormatan terhadap otonomi masing-masing. Relasi juga perlu bebas dari manipulasi serta eksploitasi kekuasaan. Prinsip ini berlaku bagi laki-laki dan perempuan dengan ukuran yang sama.
Kita boleh menikmati sketsa komedi, mengomentari chemistry selebritas, dan ikut tertawa dalam kegaduhan budaya pop. Namun, jangan sampai kolom komentar menjadi ruang sidang yang hanya menghukum perempuan ketika mereka menua. Sebab, usia seharusnya menjadi bagian dari perjalanan hidup manusia, bukan alasan untuk membatasi siapa yang pantas dicintai.
Baca Juga
-
Ramai Isu Book Shaming: Saatnya Pembaca Bedakan Kritik Karya dengan Hinaan
-
Belajar dari KHW 400: Ini 5 Insight Storytelling Nadia Omara Bagi Kreator
-
Dilema Green Jobs: Solusi atas Krisis Iklim atau Ancaman Ekstraktif Baru?
-
Sebut Mirip Orba, Pakar UGM Kritik Pemasangan Kawat Berduri di Jogja
-
Bukan Hanya Kumpul Biasa, Saatnya Klub Buku Memiliki Kekuatan Politik Baru
Artikel Terkait
-
Ramai Tren "Stop the Wedding" di Medsos, Bukti Gen Z Makin Muak dengan Budaya Patriarki?
-
Ironi Women Empowerment: Standar Ganda di Balik Slogan Kesetaraan
-
Menelusuri Jejak Patriarki di Korea dalam Novel Kim Jiyeong Born in 1982
-
The Story of an Hour: Merasakan Satu Jam Kebebasan sebagai Perempuan
-
Fenomena Split Bill Gen Z: Mengurai Relasi Kuasa Patriarki di Meja Makan
Entertainment
-
Bahas Kepedihan Gen-Z! TXT Bagikan Preview Album Terbaru, Perfect Storm
-
Tayang 2 Desember, Enam Aturan Mengerikan Warnai Misi The Great Escape
-
Usai Zoro, Mackenyu Perankan Mash Burnedead di Film Live Action Mashle
-
Shin Min Ah, Lee Jin Wook, Yoo Teo Bintangi Drama Romantis Wed Thurs Fri
-
ZeroBaseOne EMP Hadapi Tantangan Lintas Generasi di Lagu Run x Dynamic Duo
Terkini
-
Bye Kusam dan PIH! 4 Moisturizer Alpha Arbutin Cuma di Bawah Rp50 Ribuan
-
Ramai Isu Book Shaming: Saatnya Pembaca Bedakan Kritik Karya dengan Hinaan
-
Jika Presiden Saja Bisa Disadap, Seberapa Aman Privasi Digital Kita?
-
Dari Tagar ke Aksi Nyata: Bukti Gen Z Vocal Awasi Isu Negara, Bukan FOMO!
-
The Old Money Rules: Pelajaran Finansial dari Para Konglomerat