Lintang Siltya Utami | Agustian Pamungkas
Ilustrasi Women Empowerment. (Unsplash)
Agustian Pamungkas

Jargon pemberdayaan perempuan atau women empowerment semakin nyaring terdengar di ruang publik dan media sosial. Dari seminar formal hingga unggahan Instagram, isu kesetaraan terus mendapat perhatian. Banyak lembaga, komunitas, bahkan perusahaan berlomba-lomba menggaungkan slogan ini sebagai bentuk kepedulian mereka.

Namun, di balik ramainya kampanye tersebut, ada kontradiksi yang patut dipertanyakan: apakah kita benar-benar mendukung kebebasan perempuan atau hanya menerima pilihan yang sesuai dengan pandangan sendiri?

Bagi sebagian perempuan, pemberdayaan kerap terdengar indah dalam wacana, tetapi belum sepenuhnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Istilah Pancatera yang merujuk pada lima aspek mendasar manusia, yaitu pikiran, ucapan, sikap, tindakan, dan karya, seharusnya menjadi landasan dalam menghargai hak setiap individu.

Sayangnya, nilai-nilai tersebut sering kali tidak berjalan selaras. Narasi kesetaraan yang lantang disuarakan justru bisa kehilangan makna ketika seseorang masih gemar menghakimi pilihan hidup perempuan lain.

Standar Ganda dalam Mengadili Tubuh dan Pakaian

Salah satu contoh paling nyata terlihat dari cara masyarakat menilai pilihan berpakaian perempuan. Ada kelompok yang mengaku mendukung kebebasan berekspresi, tetapi justru merendahkan perempuan yang memilih berpakaian tertutup atau syar'i. Pilihan tersebut kerap diberi label kuno, kolot, bahkan dianggap sebagai tanda bahwa seseorang belum terbebas dari budaya patriarki.

Di sisi lain, perempuan yang memilih pakaian terbuka atau kasual juga tidak luput dari penghakiman. Mereka sering dicap kurang menjaga kehormatan diri atau dianggap sekadar mencari perhatian. Penghakiman dari dua arah ini memperlihatkan bahwa kebebasan berpakaian belum sepenuhnya dihormati.

Perempuan seolah harus mengikuti standar kelompok tertentu agar dianggap pantas dan terberdayakan. Menurut saya, pemberdayaan tidak seharusnya menjadikan cara berpakaian sebagai ukuran kecerdasan, kehormatan, ataupun kualitas seorang perempuan.

Menghargai kebebasan berarti memberikan ruang bagi setiap individu untuk menentukan pilihannya sendiri selama tidak merugikan orang lain. Kita boleh memiliki prinsip yang berbeda, tetapi perbedaan tersebut bukan alasan untuk merendahkan orang lain.

Pilihan Karier dan Urusan Domestik Rumah Tangga

Kontradiksi serupa juga muncul dalam urusan karier, pernikahan, dan peran sebagai orang tua. Ada anggapan bahwa perempuan hebat harus memiliki jabatan tinggi, berkarier di perusahaan besar, atau membangun bisnis sendiri. Tanpa disadari, pandangan seperti ini dapat meremehkan perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga dan mengurus keluarga secara penuh waktu.

Padahal, inti pemberdayaan adalah memberikan kebebasan kepada perempuan untuk menentukan jalan hidup tanpa tekanan sosial. Perempuan yang mengejar pendidikan tinggi dan menunda pernikahan berhak mendapat penghargaan yang sama dengan mereka yang memilih menikah muda.

Begitu pula ibu bekerja yang menitipkan anak di tempat penitipan tidak semestinya langsung dicap egois atau dianggap mengabaikan keluarga. Setiap pilihan memiliki pertimbangan dan tantangannya masing-masing. Karena itu, tidak adil jika satu jalan hidup dianggap lebih unggul daripada yang lain.

Jika women empowerment justru digunakan untuk membenarkan satu pilihan sekaligus merendahkan pilihan berbeda, gerakan ini telah kehilangan esensinya. Pemberdayaan seharusnya membuka ruang bagi keberagaman keputusan, bukan menciptakan standar baru yang membatasi perempuan.

Menyelaraskan Pikiran dan Tindakan Demi Kesetaraan

Untuk mengatasi kontradiksi tersebut, kita perlu mulai menyelaraskan pikiran, ucapan, sikap, tindakan, dan karya sebagaimana nilai yang terkandung dalam Pancatera. Perjuangan menciptakan ruang aman bagi perempuan tidak cukup hanya dengan membagikan kutipan tentang kesetaraan di media sosial.

Dukungan harus terlihat dalam perilaku sehari-hari, termasuk dengan berhenti mengomentari tubuh, status pernikahan, pilihan berpakaian, hingga cara orang lain mengasuh anak. Solidaritas antarsesama perempuan atau sisterhood juga perlu diwujudkan melalui tindakan yang saling menguatkan.

Kita tidak harus memiliki pandangan atau pilihan hidup yang sama untuk bisa saling menghormati. Justru kedewasaan dalam memahami perbedaan terlihat ketika kita mampu menerima keputusan orang lain tanpa merasa perlu menghakiminya.

Women empowerment bukan tentang siapa yang paling modern, mandiri, atau paling benar dalam menjalani hidup. Pemberdayaan seharusnya memastikan setiap perempuan memiliki kesempatan dan rasa aman untuk menentukan pilihannya sendiri.

Sebab, kesetaraan akan sulit terwujud jika perempuan masih harus menghadapi penghakiman, bahkan dari orang-orang yang mengaku memperjuangkan kebebasan mereka.