Hayuning Ratri Hapsari | Ken Hitana
First Look Serial Pride and Prejudice (Netflix)
Ken Hitana

Siapa yang tidak mengenal kisah cinta Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy? Meski pertama kali diterbitkan lebih dari dua abad lalu, Pride and Prejudice karya Jane Austen masih jadi salah satu kisah cinta terbaik sepanjang masa. Bukunya masih dibaca dan telah beberapa kali diadaptasi ke layar kaca.

Kisah tentang perempuan yang salah menilai seorang pria kaya dan terkesan angkuh ini bahkan kembali mendapatkan adaptasi baru dalam bentuk series Netflix yang akan tayang pada 3 Desember 2026. Versi baru dari series Pride and Prejudice ini menandakan minat audiens pada karya Austen ini.

Nah, sebelum melihat bagaimana kisah Elizabeth dan Mr. Darcy dikemas dalam versi terbaru, ada banyak hal menarik di balik Pride and Prejudice yang mungkin belum kamu ketahui.

1. Novelnya Sempat Ditolak Penerbit

Ilustrasi Buku Pride and Prejudice (unsplash/Elaine Howlin)

Siapa sangka kalau novel klasik besar ini naskahnya pernah ditolak penerbit? Bahkan, pihak penerbit yang bernama Thomas Cadell menolak mentah-mentah naskah Austen ini tanpa membacanya terlebih dulu. 

Sampai-sampai, Austen kemudian merevisi naskah tersebut selama 15 tahun hingga akhirnya mengubah judulnya. Naskah yang awalnya sudah selesai ditulis pada 1797 dengan judul First Impressions, kemudian berubah menjadi Pride and Prejudice sebelum diterbitkan pada 1813. Alhasil, ia menulis draft lain yang justru menjadi karyanya yang pertama, Sense and Sensibility, yang terbit pada 1811. Setelah kesuksesan penerbitan Sense and Sensibility, Pride and Prejudice bisa dipublikasikan 2 tahun kemudian melalui penerbit yang sama, Thomas Egerton.

2. Jadi Anak Kesayangan Jane Austen

Klip Teaser Pride and Prejudice (Youtube/Netflix)

Tidak hanya pembaca yang memiliki kesan khusus terhadap Pride and Prejudice. Jane Austen sendiri ternyata memiliki hubungan yang cukup personal dengan novel tersebut. Dalam suratnya kepada kakaknya, Cassandra, ia menyebut Pride and Prejudice sebagai 'my own darling child' atau anak kesayanganku.

Sebutan ini rupanya menarik mengingat proses penerbitan buku Pride and Prejudice yang cukup menantang. Namun, dari rintangan tersebut, novel ini justru menjadi best seller hingga kini.

Menariknya lagi, Elizabeth Bennet menjadi salah satu karakter fiksi yang ia kagumi karena memiliki kesamaan sifat dan humor dengannya. 

3. Beberapa Kali Diadaptasi Jadi Film dan Series

Film Pride and Prejudice 2005 (IMDb)

Kisah cinta Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy ternyata tidak hanya hidup dalam novel. Sejak diterbitkan pada 1813, Pride and Prejudice telah berkali-kali diadaptasi ke layar lebar maupun televisi dengan berbagai pendekatan. Ada total 11 adaptasi dalam bentuk film atau serial yang tercatat dari tahun 1940 hingga 2000-an.

Salah satu yang paling dikenal adalah film Pride & Prejudice (2005) yang dibintangi Keira Knightley dan Matthew Macfadyen. Sebelum itu, Miniseri BBC dengan judul yang sama tayang pada 1995 diperankan oleh Jennifer Ehle dan Colin Firth. Versi ini digambarkan cukup mendetail dalam 6 episode dari novelnya yang membuatnya disukai oleh penonton masa itu.

Yang terbaru, Pride and Prejudice akan tayang di Netflix dalam bentuk series 6 episode yang diperankan oleh Emma Corrin sebagai Elizabeth Bennet dan Jack Lowden sebagai Mr. Darcy.

4. Novelnya Anonim Selama Austen Hidup

Ilustrasi Buku Pride and Prejudice (AbeBooks)

Ketika Pride and Prejudice pertama kali diterbitkan pada 1813, pembaca tidak akan menemukan nama Jane Austen di sampul bukunya. Alih-alih mencantumkan nama, edisi pertama novel tersebut hanya menyebut penulisnya sebagai 'By the Author of Sense and Sensibility' atau 'A Lady'.

Hal ini juga terjadi pada karya-karya Austen yang lain semasa hidupnya, seperti Sense and Sensibility, Emma, dan Mansfield Park. Nama Jane Austen baru resmi dicetak pada sampul buku-bukunya pada 1933, 16 tahun setelah kematiannya.

Bukan tanpa sebab, rupanya anonimitas ini merupakan cara Austen menyembunyikan identitasnya dari profesi penulis perempuan yang tabu di abad 19. Apalagi, ia datang dari keluarga menengah ke atas yang mana perempuan diharapkan fokus pada tugas domestik dan pernikahan. 

5. Kisah yang Masih Relevan Hingga Kini

Klip Teaser Pride and Prejudice (Youtube/Netflix)

Lebih dari 2 abad setelah pertama kali diterbitkan, Pride and Prejudice masih terasa dekat dengan kehidupan modern. Daya tarik novel ini memang tidak hanya berasal dari kisah cinta Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy, tetapi juga dari berbagai persoalan sosial yang mengelilingi hubungan mereka.

Kelas sosial menjadi salah satu persoalan penting dalam cerita. Elizabeth dan Darcy berasal dari latar belakang yang berbeda sehingga hubungan mereka tidak hanya berhadapan dengan perasaan pribadi, tetapi juga pandangan masyarakat. 

Elizabeth sendiri menarik karena ia memiliki sifat yang bertolak belakang dengan perempuan saat itu. Ia berani menentang anggapan bahwa perempuan harus menikah demi mendapatkan kehidupan yang aman.

Kisah Elizabeth dan Darcy memang menjadi daya tarik utamanya, tetapi persoalan sosial masa itu membuat ceritanya tetap relevan. Berbagai adaptasi juga membuktikan bahwa cerita klasik tidak harus selalu disajikan dengan cara yang sama. Dengan hadirnya versi serial terbaru Netflix, menarik untuk melihat bagaimana kisah Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy kembali diadaptasi untuk penonton masa kini. Kamu nungguin series Netflix ini juga?