Lintang Siltya Utami | Ken Hitana
Ilustrasi kamus (pexels.com/pixabay)
Ken Hitana

Bahasa gaul atau slang tidak bisa lepas dari keseharian para anak muda, terutama Gen Z. Istilah-istilah, seperti mager, baper, cegil, dan masih banyak lagi, sangat mudah ditemui pada diskursus sosial media. Menariknya, kata-kata yang sering digunakan dalam percakapan santai tersebut ternyata sudah tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Fenomena unik ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti zaman dan para penuturnya. KBBI pun mengalami pemutakhiran secara berkala untuk mengakomodasi perkembangan kosakata. Penasaran apa saja slang yang masuk ke KBBI? Yuk, simak tujuh bahasa gaul yang tercatat KBBI ini!

1. Asbun (Asal Bunyi)

Istilah "asbun", yang merupakan akronim dari asal bunyi, digunakan untuk menggambarkan tindakan berbicara atau mengeluarkan pendapat tanpa dasar yang jelas. Di media sosial, kata ini sering muncul sebagai sindiran bagi pengguna yang memberikan komentar sembarangan, terutama ketika membahas isu yang belum dipahami sepenuhnya. Istilah ini bisa merujuk ke pernyataan serius saat sedang membahas isu-isu yang terjadi atau dalam konteks lawakan. 

2. Cuan

Kata "cuan" sudah cukup akrab dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika membahas uang, bisnis, dan keuntungan finansial. Dalam KBBI, istilah ini merujuk ke konteks keuangan dan keuntungan. Menariknya, kata "cuan" ini berasal dari bahasa Hokkien yang digunakan oleh sekelompok keturunan Tionghoa di Indonesia. Seiring penggunaannya yang meluas, cuan semakin dikenal dalam percakapan masyarakat Indonesia, termasuk di kalangan anak muda.

3. Gabut 

Saat istilah lain memiliki arti yang lebih spesifik, kata "gabut" justru memiliki dua makna yang berbeda. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan perasaan bosan karena tidak melakukan apa pun. Di sisi lain, "gabut" juga merupakan singkatan dari gaji buta, yaitu menerima gaji tanpa melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya. Karena memiliki makna yang berbeda, penggunaan kata "gabut" perlu disesuaikan dengan konteks pembicaraan.

4. Julid

Pernah melihat seseorang mengomentari pencapaian orang lain dengan nada sinis? Perilaku seperti ini sering disebut julid. Kata tersebut sudah akrab dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika membahas komentar negatif warganet di media sosial.

Istilah "julid" dikaitkan dengan kata binjulid dalam bahasa Sunda yang bermakna iri atau dengki. Hampir sama, kata "julid" di KBBI bermakna rasa iri dan dengki dengan keberhasilan orang lain. Slang ini biasanya muncul saat sedang bergosip tentang keadaan orang lain secara negatif.

5. Bucin (Budak Cinta)

Punya teman yang selalu mengutamakan pacarnya, bahkan rela membatalkan rencana bersama demi menghabiskan waktu berdua? itu namanya bucin atau budak cinta!

Dalam penggunaannya, bucin merujuk pada seseorang yang terlalu tergila-gila kepada pasangan hingga rela melakukan berbagai hal demi menyenangkan orang yang dicintainya. Istilah ini kerap digunakan sebagai candaan untuk menggoda teman yang sedang jatuh cinta dan mulai melupakan teman-temannya. 

6. Palugada

Salah satu istilah yang lahir dari pandemi beberapa waktu lalu adalah palugada. Terdengar seperti alat perkakas, nyatanya kata "palugada" berarti usaha yang menyediakan bermacam-macam barang atau apa lu mau gue ada. Slang ini muncul saat banyak orang menghadapi krisis ekonomi akibat pandemi dan akhirnya mencoba berbagai macam bisnis untuk bertahan hidup.

Selain itu, palugada juga bisa digunakan di luar konteks bisnis. Istilah ini terkadang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang serba bisa dan dapat diandalkan ketika orang lain membutuhkan bantuan. Singkatnya, seperti 1 orang yang bisa mengerjakan 7 pekerjaan dalam satu waktu.

7. Alay (Anak Layangan)

Dalam KBBI, "alay" memiliki arti anak layangan serta gaya hidup yang berlebihan untuk menarik perhatian. Maknanya tidak hanya berkaitan dengan cara seseorang menulis pesan, tetapi juga mencakup penampilan dan perilaku yang dianggap mencolok. Kata ini bisa menggambarkan sesuatu yang hiperbolik dalam banyak konteks, seperti cara berbicara, berekspresi, atau berpenampilan. Meski begitu, penilaian bahwa sesuatu terlihat alay bersifat subjektif dan dapat berbeda bagi setiap orang.

Masuknya sejumlah kata gaul atau slang yang kerap digunakan oleh generasi muda ke dalam daftar KBBI merupakan tanda bahwa bahasa bukan sesuatu yang statis. Kosakata dapat berkembang seiring dengan kebiasaan masyarakat dalam berkomunikasi, termasuk melalui media sosial. Istilah yang awalnya muncul karena candaan pun bisa tercatat dalam kamus seiring seringnya penggunaan suatu istilah.