Hayuning Ratri Hapsari | Ken Hitana
Ilustrasi Buku The Metamorphosis (unsplash/mouad bouallayel)
Ken Hitana

Metamorfosis atau Die Verwandlung dalam judul aslinya, adalah karya sastra klasik populer dari penulis Jerman, Franz Kafka, yang terbit pada 1915. Punya premis absurd, Metamorfosis bercerita tentang Gregor Samsa yang bangun tidur lalu menemukan dirinya berubah menjadi seekor serangga raksasa.

Terdiri dari 70-an halaman, novela ini dengan cepat menggambarkan 'metamorfosis' Samsa dari segi psikisnya sendiri hingga perlakuan keluarganya. Rupanya, kisah Gregor Samsa ini berkaca dari kehidupan nyata orang-orang yang mulai kehilangan jati diri. 

Meskipun sedikit surealis, novela kondang karya Franz Kafka ini sarat akan pelajaran hidup yang berharga, khususnya untuk orang-orang yang sedang menapaki kedewasaan. Mulai dari hubungan dengan orang sekitar hingga kaitan emosional dengan diri sendiri. Ingin tahu apa saja? Simak 5 moral value yang bisa diambil dari kisah Gregor Samsa ini!

1. Kehilangan Identitas Lebih Buruk dari Perubahan Fisik

Ilustrasi Patung Merenung (unsplash/Avery Evans)

Dalam novela tersebut, Samsa tak hanya melewati metamorfosis fisik. Perlahan ia mulai kehilangan kebiasaan, pekerjaan, dan perannya sebagai pencari nafkah, di mana itu adalah identitasnya di rumah itu. Hal ini menunjukkan bahwa identitas seseorang terkadang terlalu erat dikaitkan dengan pekerjaan, status, atau peran yang dijalankan untuk orang lain. Ketika semua itu hilang, seseorang bisa merasa kehilangan arah dan tidak lagi mengenali dirinya sendiri. 

2. Jangan Sampai Pekerjaan Mengambil Alih Kehidupan

Ilustrasi Meja Kerja Berantakan (unsplash/Robert Bye)

Sebelum berubah menjadi serangga, Samsa bekerja sebagai sales. Sebenarnya, ia tak terlalu menyukai pekerjaan itu. Meskipun begitu, ia tetap bekerja untuk menafkahi seluruh anggota keluarga. Pekerjaannya ini mengharuskannya untuk selalu bepergian dengan kereta yang membuat kehidupannya dipenuhi urusan pekerjaan sampai-sampai tak sempat memikirkan keinginannya sendiri. 

Misalnya, ketika Gregor harus bangun sangat pagi, bahkan sebelum matahari terbit, untuk mengejar kereta demi sampai ke tempat kerja tepat waktu. Ia tak peduli dengan tubuhnya yang lelah atau pikirannya yang mulai stres. 

3. Jangan Ukur Harga Diri dari Produktivitas

Ilustrasi Orang Memegang Kepala (unsplash/Malachi Cowie)

Samsa menjadi tulang punggung keluarganya dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka. Bahkan setelah berubah menjadi serangga, hal pertama yang ia pikirkan justru pekerjaannya. Ia masih merasa khawatir tidak bisa masuk kerja dan tidak dapat memenuhi tanggung jawabnya sebagai pencari nafkah.

Ketika ia berubah dan sudah tidak dapat bekerja, ia merasa dirinya menjadi beban. Karena produktivitasnya menurun, ia mulai merasa tersisih dan menganggap dirinya tak lagi berharga. Padahal, seharusnya harga diri seseorang tidak ditentukan dari apa yang dia berikan. Seseorang tetap memiliki nilai, bahkan ketika ia sedang tidak produktif atau tidak mampu memenuhi ekspektasi orang lain.

4. Hubungan Bisa Terasa Asing Bahkan dengan Keluarga

Ilustrasi Orang Berdiri di Depan Jendela (unsplash/Sasha Freemind)

Setelah berubah menjadi serangga raksasa, Gregor Samsa kesulitan untuk berpindah tempat sehingga interaksinya dengan keluarga juga berkurang. Ia juga mulai kesulitan berbicara yang membuat keluarganya sulit memahami apa yang dikatakannya. Samsa yang sebelumnya memiliki peran penting di keluarganya, perlahan mulai tersisih dan terlupakan. Ia merasa sedih saat keluarganya berbincang bersama di ruang tengah tanpanya.

Menariknya, rasa terasing tersebut sebenarnya sudah muncul bahkan sebelum metamorfosis terjadi. Kehidupan Samsa yang hanya berpusat pada pekerjaan dan kewajibannya membuatnya tidak memiliki banyak ruang untuk dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

5. Identitas Kita Lebih dari Sekadar Pekerjaan

Ilustrasi Perempuan Berlari (unsplash/Aditya Saxena)

Sebelumnya, peran Gregor Samsa adalah tulang punggung di keluarganya. Semenjak tak bekerja, ia mulai kehilangan identitas yang sangat melekat dengan dirinya itu. Ketika pekerjaannya hilang, ia merasa kehilangan arah dan tanggung jawab besar yang biasa ia pegang. Ia tidak lagi tahu siapa dirinya di luar pekerjaan dan tanggung jawab tersebut.

Memang, pekerjaan merupakan hal yang penting bagi seseorang. Tapi, identitas diri tak melulu tentang peran di dalam pekerjaan. Kita tetap memiliki identitas, keinginan, dan nilai sebagai manusia di luar jabatan, penghasilan, maupun bagaimana impact kita bagi orang lain.

Meski telah terbit lebih dari seabad lalu, karya Franz Kafka ini masih tetap relevan di tengah kehidupan saat ini yang mengukur segalanya dari produktivitas hingga lupa siapa jati dirinya. Metamorfosis Gregor Samsa bukan hanya tentang perubahan wujud, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bisa perlahan kehilangan dirinya ketika terlalu lama hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Gimana, relate?