Pernahkah kamu mendengar istilah PPOK? PPOK adalah singkatan dari Penyakit Paru Obstruktif Kronik. PPOK merupakan klasifikasi luas dari gangguan yang mencakup bronkitis kronik, bronkiektasis, emfisema, dan asma yang merupakan kondisi irreversibel yang berakitan dengan dispnea saat aktivitas dan penurunan aliran masuk serta keluarnya udara dari paru-paru.
Berdasarkan sumber dari buku yang berjudul Upaya Peningkatan Penyakit Paru Obstruktif Kronik karya Ari, PPOK merupakan salah satu kelainan paru-paru yang ditandai dengan gangguan fungsi paru berupa memanjangnya periode ekspirasi akibat penyempitan saluran napas.
Masih dari sumber yang sama, beberapa gejala yang biasanya terlihat pada penderita PPOK yang muncul setelah lima sampai sepuluh tahun merokok adalah batu yang disertai lendir.Batuk ini pada awalnya dianggap sebagai batuk biasa dan ringan. Selain itu, sering pula terjadi sakit kepala dan pilek. Pada saat pilek, dahak menjadi kuning atau hijau karena ada nanah akibat infeksi sekunder oleh bakteri. Gejala ini akan semakin sering terasa seiring berjalannya waktu.
Berdasarkan sumber dari buku yang berjudul sama, berikut beberapa penyebab dari PPOK yang bisa kita hindari.
1. Kebiasaan merokok
Seperti yang kita ketahui bersama, kebiasaan merokok adalah salah satu kebiasaan yang buruk dan dapat memberikan dampak negatif bagi kehidupan. Merokok sendiri merupakan faktor risiko yang paling umum pada penderita PPOK. Perokok memiliki prevalensi paling tinggi untuk mengalami gejala gangguan pernapasan dan penurunan fungsi paru.
Selain perokok aktif, paparan asap rokok bagi perokok pasif juga dapat menjadi faktor risiko terjadinya angguan pernapasan dan PPOK karena partikel dan gas yang masuk ke dalam pernapasan.
2. Polusi oleh zat-zat produksi
Berdasarkan penelitian Cohort Longitudinal menunjukkan bahwa ada hubungan antara polusi udara dan penurunan pertumbuhan fungsi paru di usia anak-anak hingga remaja. Hubungan ini diamati dengan ditemukannya karbon hitam di makrofag pada saluran pernapasan dan penurunan fungsi paru.
Oleh karena itu, anak-anak dan remaja atau orang yang sudah lanjut usia tidak seharusnya terlalu sering terpapar polusi oleh zat-zat produksi yang biasa dihasilkan di kota-kota besar.
3. Faktor genetik
Risiko genetik memang tidak bisa terlepas dari sebuah penyakit tertentu, termasuk dalam PPOK. Risiko genetik terhadap keterbatasan bernapas telah diamati pada orang-orang terdekat dari penderita PPOK berat yang juga perokok.
Faktor risiko genetik yang pernah ditemukan adalah adanya defisiensi berat antitripsin alfa-1 yang merupakan inhibitor dari sirkulasi serin protease. Meskipun hal ini hanya relavan pada sedikit populasi di dunia, tetapi hal ini tetap cukup menggambarkan interaksi antara genetik dan paparan lingkungan yang dapat menyebabkan PPOK.
Itulah tiga penyebab dari PPOK yang sebenarnya bisa kita hindari. Kita bisa menjaga kesehatan paru dan alat pernapasan dengan rajin berolahraga serta menghindari faktor risiko seperti merokok.
Tag
Baca Juga
-
Ikuti Perjalanan Hampa Kehilangan Kenangan di Novel 'Polisi Kenangan'
-
3 Novel Legendaris Karya Penulis Indonesia, Ada Gadis Kretek hingga Lupus
-
Geram! Ayu Ting Ting Semprot Netizen yang Hujat Bilqis Nyanyi Lagu Korea
-
Haji Faisal Akui Sempat Syok dengan Konten Atta Halilintar yang Disebut Netizen Sentil Fuji
-
Outfit Bandara Seowon UNIS Jadi Sorotan, K-netz Perdebatkan Usia Debut
Artikel Terkait
-
Ritual Leluhur Berujung Tragis: Pria Ini Diduga Picu Kebakaran Hutan Terburuk dalam Sejarah Korsel
-
Jangan Sampai Ban Pecah Saat Mudik! Simak Tips Penting Ini
-
Waspada Penyakit Ginjal! Ini Tanda-Tanda yang Muncul di Kulit
-
Pasien Jantung Tipe Ini Dilarang Mudik Lebaran Naik Pesawat, Apa Alasannya?
-
Harapan Baru Bagi Pasien Stroke: Operasi Brain Bypass STA-MCA Tingkatkan Peluang Kesembuhan
Health
-
Mengenal Metode Mild Stimulation Dalam Program Bayi Tabung, Harapan Baru Bagi Pasangan
-
Kenali Tongue Tie pada Bayi, Tidak Semua Perlu Diinsisi
-
Jangan Sepelekan Cedera Olahraga, Penting untuk Menangani secara Optimal Sejak Dini
-
3 Tips agar Tetap Bugar saat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadan
-
Intermittent Fasting vs. Keto, Mana yang Lebih Efektif untuk Panjang Umur?
Terkini
-
4 Skincare dengan Cactus Extract, Rahasia Hidrasi Kulit Tanpa Lengket!
-
Review Norma - Antara Mertua dan Menantu: Film Selingkuh Menariknya Apa?
-
4 Film Adaptasi Novel Stephen King yang Bisa Kamu Tonton di Netflix
-
Ulasan Your Friendly Neighborhood Spider-Man: Fresh, Fun, dan Penuh Aksi!
-
4 Padu Padan Outfit Girly ala Wonyoung IVE, Cocok untuk Gaya Sehari-hari