Apakah kamu pernah mendengar istilah catastrophizing? Mungkin istilah ini cukup asing, tetapi kamu pasti pernah mengalaminya. Secara umum, catastrophizing dapat diartikan sebagai pola pikir masa depan suram. Kamu pasti pernah berpikir sesuatu yang negatif seperti takut akan mendapat nilai buruk, lalu dimarahi orang tua, lalu tidak lulus mata pelajaran tertentu, hingga pikiranmu tanpa sadar membuatmu berpikir bahwa kamu mungkin tidak akan naik kelas.
Jika pernah, maka kamu bisa dikatakan sedang melakukan catastrophizing atau pola berpikir catastrophic (bencana).
BACA JUGA: Bukan Nasi, Resep Lontong Cap Go Meh Ini Dibuat dari Sagu: Menyehatkan Pencernaan
Berdasarkan postingan instagram dari @studiodjiwa, catastrophizing merupakan sebuah fenomena ketika kamu berpikir segala kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi, serta cenderung melebih-lebihkan sesuatu yang bahkan belum terjadi di masa depan.
Catastrophizing tidak lantas terjadi begitu saja. Berikut ini adalah beberapa mekanisme dalam catastrophizing yang harus kamu ketahui.
1. Ruminasi
Mekanisme yang pertama adalah ruminasi. Mekanisme ini terjadi ketika kamu cenderung terlalu fokus pada masalah yang sedang terjadi dan melupakan cara untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kamu terlalu memberi perhatian lebih pada masalah, bukan pada cara menyelesaikan masalah tersebut.
BACA JUGA: Terpopuler Lifestyle: Rizky Billar Pamer Parfum Jutaan, Kaesang Masak untuk Erina
2. Magnifikasi
Mekanisme selanjutnya setelah ruminasi adalah magnifikasi. Mekanisme ini terjadi ketika kamu mencoba meramal dan menebak-nebak secara berlebihan hal buruk apa yang akan terjadi di masa depan akibat masalah yang sedang kamu hadapi saat ini. Magnifikasi akan membuat kamu terus memikirkan kemungkinan terburuk.
3. Helplessness
Mekanisme terakhir adalah helplessness. Mekanisme ini terjadi ketika kamu akhirnya tidak ammpu untuk mencari solusi dalam menyelesaikan permasalahan yang sedang kamu hadapi. Kamu hanya bisa berdiam diri dan tenggelam dalam perasaan takut dan cemas. Hal ini dapat terjadi karena kamu tidak bisa mengatasi catastrophizing sejak mekanisme pertama.
Itulah tiga mekanisme dalam catastrophizing yang harus kamu ketahui dan pahami dengan baik. Sebelum berlanjut ke mekanisme selanjutnya, kamu harus bisa mengatasinya secepat mungkin. Jangan biarkan pikiran buruk dan perasaan tidak berdaya membuatmu terjebak dalam masalah tanpa tahu cara menyelesaikannya.
Tidak apa-apa jika kamu memerlukan bantuan orang lain, jangan sungkan untuk meminta pertolongan orang lain ketika kamu merasa tidak sanggup untuk mengatasinya seorang diri.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Ikuti Perjalanan Hampa Kehilangan Kenangan di Novel 'Polisi Kenangan'
-
3 Novel Legendaris Karya Penulis Indonesia, Ada Gadis Kretek hingga Lupus
-
Geram! Ayu Ting Ting Semprot Netizen yang Hujat Bilqis Nyanyi Lagu Korea
-
Haji Faisal Akui Sempat Syok dengan Konten Atta Halilintar yang Disebut Netizen Sentil Fuji
-
Outfit Bandara Seowon UNIS Jadi Sorotan, K-netz Perdebatkan Usia Debut
Artikel Terkait
Health
-
Bukan Sekadar Ruam Merah: Ini Bahaya Fatal Campak yang Diabaikan Setelah Pandemi
-
Bebas Lemas Sampai Lebaran: Rahasia Menu Sahur Rendah Gula ala Ibu Cerdas!
-
Jangan Asal Es Buah! Ini Cara Buka Puasa yang Benar Menurut Dokter Tirta
-
Campak Bukan Teman Kencan, Jangan Diajak Jalan-Jalan ke Tempat Umum!
-
Kulit Gampang Merah, Jerawat Makin Parah? Polusi dan Gaya Hidup Jadi Pemicu
Terkini
-
4 Skin Tint Coverage Ringan dengan SPF 30 yang Nyaman Dipakai Sehari-hari
-
Kutukan Cahaya di Ujung Purworejo
-
Perempuan Berpendidikan sebagai Calon Ibu: Upaya Terdidik Sebelum Mendidik
-
4 Inspirasi OOTD Bukber ala Dinda Hauw: Tampil Modest, Elegan, dan Classy!
-
Sajak Rindu: Belajar Memaafkan Masa Lalu dari Perspektif Remaja Bugis