M. Reza Sulaiman | Leonardus Aji Wibowo
Steven Wongso bersama 2 binaragawan Ade Rai (kiri), dan Deddy Corbuzier (kanan) (instagram/steven__wongso)
Leonardus Aji Wibowo

Kebiasaan bermedia sosial kembali menjadi sorotan setelah sebuah konten viral memicu perdebatan publik. Banyak yang mulai mempertanyakan batas antara kebebasan berekspresi dan sensitivitas terhadap isu tertentu.

Nama Steven Wongso ikut ramai dibicarakan setelah videonya menyebar luas di berbagai platform. Dalam video tersebut, ia menyampaikan pernyataan yang dianggap menyinggung orang dengan berat badan berlebih.

Video itu diunggah melalui akun Instagram pribadinya, @steven__wongso, dan mulai ramai dibicarakan pada Rabu, 8 April 2026. Potongan videonya kemudian beredar luas melalui berbagai unggahan ulang di media sosial.

Dalam salah satu bagian video, ia mengatakan, "Emang bedanya kalian sama anjing apa?". Ucapan tersebut langsung memicu reaksi dari warganet.

Ia kemudian melanjutkan dengan pernyataan lain yang tidak kalah menuai kritik. "Bahkan kalian orang gendut ini lebih rendah daripada anjing, lho!" ucapnya.

Pernyataan tersebut menuai banyak respons, mulai dari kritik hingga kecaman dari publik. Sejumlah figur publik juga ikut menyoroti konten tersebut karena dinilai tidak sensitif.

Di balik polemik itu, muncul pembahasan yang lebih luas mengenai obesitas sebagai isu kesehatan. Banyak yang mulai melihat bahwa topik ini tidak sekadar soal penampilan, tetapi juga kondisi tubuh secara menyeluruh.

Melansir kanal YouTube Raditya Dika pada Senin (13/4/2026), binaragawan Ade Rai menjelaskan bahwa obesitas berkaitan erat dengan cara tubuh mengelola energi dan pola makan sehari-hari.

Ia menyoroti konsumsi berlebih, khususnya karbohidrat, sebagai pemicu utama gangguan metabolisme. "Ketika kita mengonsumsi karbohidrat yang berlebihan itu, makanya akhirnya elevasi gula darah kita itu kayak enggak pernah berhenti," ujar Ade Rai.

Kondisi tersebut membuat tubuh terus memproduksi insulin dalam jumlah tinggi. Ia menjelaskan, "Ketika produksi insulin terlalu berlebihan, makanya kenapa pada akhirnya nanti terjadi yang namanya sel kita tidak sensitif lagi terhadap insulin."

Menurutnya, kondisi ini menjadi akar dari berbagai penyakit serius. "Itulah yang menjadi *the root cause of the problem* daripada profil daripada penyakit-penyakit," jelasnya.

Ade Rai juga menekankan bahwa kelebihan energi dalam tubuh akan disimpan sebagai lemak. "Ketika kita makan kelebihan, kelebihannya disimpan di dalam sel lemak kita," katanya.

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini bisa berdampak luas pada kesehatan. Ia menyebut, "Ketika gula darah yang terlalu tinggi tadi, makanya permasalahan jantung dan pembuluh darah," yang berkaitan dengan berbagai penyakit kronis.

Ia juga mengingatkan bahwa proses ini sering tidak disadari banyak orang. "Semua itu terjadi dalam diam," ungkapnya.

Artinya, seseorang bisa merasa sehat meski tubuhnya sedang mengalami gangguan metabolisme. Hal ini yang membuat obesitas kerap dianggap sepele hingga akhirnya terlambat ditangani.

Dalam perbincangan tersebut, Raditya Dika juga menyoroti bagaimana banyak orang kerap meremehkan kondisi ini. Ia menilai dampak obesitas tidak selalu terlihat langsung, tetapi berkembang perlahan seiring waktu.

Meski begitu, cara menyampaikan isu ini tetap menjadi perhatian penting. Banyak pihak menilai edukasi kesehatan seharusnya dilakukan dengan pendekatan yang lebih empatik dan tidak merendahkan.

Kasus yang melibatkan Steven Wongso ini menjadi pengingat bahwa pembahasan soal tubuh dan kesehatan bukan sekadar bahan konten. Ada aspek kemanusiaan yang perlu diperhatikan dalam setiap penyampaiannya.

Pada akhirnya, obesitas merupakan kondisi kesehatan yang nyata dan serius. Namun, cara membicarakannya juga menentukan apakah pesan tersebut bisa diterima dengan baik atau justru menimbulkan luka.