Waktu sedang beristirahat dan menatap langit-langit rumah yang berupa genting tanah liat, aku seketika terperanjat lantaran melihat ada wajah yang melotot padaku.
Oalah, bukan wajah betulan, kok. Melainkan noda putih bekas hujan yang tertinggal di genting, dan membentuk pola mata, hidung, dan bibir. Tapi, pernah tidak sih kawan-kawan menemui objek-objek random yang membentuk pola wajah begitu?
Sindrom Pareidolia: Melihat Kemiripan Bentuk pada Objek Acak
Melansir laman Psychology Today, fenomena di mana seseorang melihat kemiripan pada gambar acak, umumnya berbentuk wajah, postur hewan, pada objek random semisal awan atau formasi batuan disebut pareidolia.
Hal ini bukanlah suatu gangguan atau penyakit, kok. Sebab, otak manusia memiliki kecenderungan untuk memberikan makna di mana pun kita berada.
Asal Muasal Fenomena Pareidolia
Pareidolia sendiri berasal dari bahasa Yunani yakni para yang bermakna di samping atau berdampingan, dan eidos yang bermakna gambar atau bentuk.
Makalah penelitian fisikawan, filsuf, dan psikolog Jerman Gustave Fechner pada akhir 1800-an pun turut membahas kecenderungan manusia untuk melihat wajah pada objek random.
Sebab, otak mempunyai kecenderungan untuk memberi makna. Kinerja girus fusiformis di lobus temporal korteks aktif untuk pengenalan wajah, dan juga kehadirannya sebagai hasil sampingan dari evolusi manusia. Manusia purba lebih mampu mengenali apakah wajah tersebut adalah teman yang dikenal ataukah musuh yang tidak dikenal.
Bentuk Wajah yang Dipengaruhi Pengalaman
Pernah tidak sih kamu menjumpai bentuk wajah pada objek-objek random? Atau wujud-wujud hewan?
Aku sendiri kerap menjumpai bentuk-bentuk unik di berbagai objek. Mulai dari bentuk wajah bermata melotot yang merupakan noda hujan pada genting tanah liat, ekspresi sedih pada pijakan kaki (footstep) motor, sampai wujud mirip beruang yang sebetulnya adalah lumut pada tembok.
Hal ini menurutku dipengaruhi pengalaman sih, yang mana kita sudah pernah menjumpai bentuk tersebut sebelumnya. Semisal ekspresi sedih, sudah sering ditemui lewat drama visual digital mengingat internet sudah sangat masif sekali. Kemudian bentuk yang menyerupai hewan, ya karena kita sudah pernah melihat bentuknya baik secara langsung maupun lewat media digital.
Semisal wujud yang mirip naga. Aku percaya bahwa hampir semua orang belum pernah bertemu makhluk mitologi ini. Namun, bukankah objeknya sudah pernah kita lihat di internet? Baik fasad naga Asia yang menyerupai ular ramping memanjang, dengan empat kaki pendek sebagaimana naga bayang Fang dari animasi BoBoiBoy; atau fasad naga Eropa yang memiliki empat kaki tegak, dan badan yang menyerupai hewan berkaki empat sebagaimana naga dalam film Game of Thrones.
Momentum Menghibur Diri
Aku mendapati pareidolia sebagai hiburan tersendiri, mengingat otak kita yang mengenali objek tersebut sebagai wajah atau bentuk tertentu. Justru, aku kerap mencari objek yang sekiranya mirip eksistensi makhluk hidup, baik pada pohon, batu, atau benda lain, dan menjadikannya inspirasi menulis. Atau minimal menghibur diri di negeri mayapada yang aduhai ini.
Namun, terkadang pareidolia bisa terasa menyeramkan juga. Pada siang hari, objek berbentuk wajah terlihat unik dan menawan. Tapi pada malam hari, hal tersebut justru terasa menakutkan. Alih-alih terpesona, aku kerap lari terbirit-birit karena mengira itu adalah penampakan demit.
Pareidolia sejatinya adalah sistem mekanisme otak yang mengirimkan sinyal tertentu supaya kita waspada. Walaupun demikian, hal tersebut normal dan terkadang cukup menguntungkan, lo. Misalnya seperti kejadian camilan jagung Cheetos yang bentuknya mirip gorila Harambe, yang terjual senilai $99.900 di eBay.
Waktu aku membaca artikel tersebut, asli aku terpukau dan tertawa ngakak. Kok bisa sih? Kira-kira, wajah sedih di karet pijakan motorku laku berapa ya? Atau bentuk beruang grizzly hasil noda semen di tembok rumahku bisa kena berapa nih?
Jadi, kawan-kawan pernah tidak mengalami fenomena pareidolia ini? Kalau iya, bentuk apa saja dan pada objek apa saja nih?
Baca Juga
-
Sisi Protektif Victor Ma Pada Zhao Lusi yang Relate dalam Drama Hidden Love
-
Shadow Beauty: Sinematografi Dingin yang Menguak Misteri Sang Influencer
-
Bring it On, Ghost: Horor Komedi Kompleks yang Dieksekusi Seringan Awan
-
Menyoal Tulisan di Bak Belakang Truk: Viral, Vulgar, Atau Puitis Saja Sih?
-
Our Generation: Setting Lokasi Cakep dan Nuansa Psikologis Menggigit Abis!
Artikel Terkait
-
3 Micellar Water Khusus Anak untuk Angkat Kotoran di Wajah Tanpa Iritasi
-
Anti Ribet! 5 Pembersih All-in-One Pria dari Ujung Kepala hingga Kaki
-
Setelah Peeling Wajah Tidak Boleh Pakai Apa? Ini Kandungan Skincare yang Harus Dihindari
-
5 Moisturizer Gel untuk Mencerahkan Wajah Kusam dan Flek Hitam, Cocok buat Kulit Berminyak
-
Jangan Asal Tumpuk, Ini 7 Tips Layering Serum agar Wajah Glowing dan Bebas Iritasi
Health
-
Apa yang Tersembunyi di Dalam Daun? Mengenal 3 Senyawa Ajaib Tanaman Obat
-
Viral Podcast Raditya Dika: Bongkar Rahasia Bertahan Hidup dari Gigitan Ular
-
Bahaya Tersembunyi di Balik Kemudi: Mengenal dan Mencegah Ancaman Microsleep
-
Membedah Fenomena Bedtime Procrastination: Ketika 'Lima Menit Lagi' Merampas Waktu Tidur
-
"Anak Saya Sehat, Perlu Vaksin?" Ini Alasan Mengapa Anggapan Itu Bisa Berbahaya
Terkini
-
Review Dukun Magang: Komedi Absurd yang Sukses Bikin Merinding Sekaligus Ngakak!
-
Bukan Karena Malas, 5 Hal Ini Jadi Alasan Utama Kenapa Kamar Anak Kos Cepat Berantakan
-
100 Tahun Naar de Republiek Indonesia: Menelanjangi Neokolonialisme 2026, Republik untuk Siapa?
-
Tanpa Jeda
-
Review The Gangster, The Cop, The Devil: Adu Brutal Polisi Nekat dan Bos Mafia Melawan Sang Iblis