M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
ilustrasi pemakaman tua (Unsplash/Sandra Seitamaa)
Tika Maya Sari

Kukira, pertemuanku dengan keluarga Pakdhe Harmaji bakal biasa saja sebagaimana sesama tamu di pesta pernikahan Mas Aji, putra sulung Pakdhe Eko. Mengingat mereka berdua adalah rekan kerja Bapak yang berasal dari luar kota. Namun siapa sangka, esensi percakapan antar emak-emaknya justru mengusung genre horor.

Ini tentang pengalaman nggak menyenangkan Budhe Wardiyah–istri Pakdhe Harmaji–yang pernah di prank dedemit di depan rumahnya sendiri. Begini kronologinya.

Jalan raya hiruk pikuk dengan kepulangan para pekerja, mengingat ini sudah petang dan kawasan ini dekat dengan kawasan industri berskala nasional. Budhe Wardiyah duduk di beranda rumah, sambil mengamati lalu lintas jalan antar provinsi yang padat. Sudut matanya melirik gerbang taman pemakaman umum yang berada di seberang rumahnya.

“Ah, mungkin cuma perasaanku saja,” gumamnya kala merasa agak merinding.

Pemakaman tersebut sangatlah luas, dan kerap terdengar kisah-kisah mistis dari orang-orang. Kendati daerah ini merupakan kawasan perkotaan sekaligus kawasan industrial, tetapi yang namanya demit tetaplah usil.

“Ini sudah mau maghrib, Buk. Nggak masuk dulu?” tanya Intan, putrinya.

“Iya, sebentar lagi,” jawab Budhe Wardiyah.

Petang mulai merayap naik, berbarengan dengan deru-deru motor dari pekerja yang lelah. Bersinggungan dengan nyala lampu-lampu jalanan, dan semilir angin lembut menerpa bulu roma. Seperti ada energi yang turut hadir, diantara lautan manusia sore ini.

“Buk, bakso kersa nopo mboten? Spesial bakso urat sapi,” Budhe Wardiyah menengok ke arah lelaki berperawakan tinggi kurus, berkupluk warna biru yang tampak usang. “Seporsi 5000an saja. Sudah lengkap pentol kecil dan besar.”

Budhe Wardiyah tertarik. Jiwa emak-emaknya menggelora mendengar penawaran tersebut. “Boleh, Pak. Saya beli banyakan tapi saya ambil panci dulu.”

“Siap, Buk.”

Budhe Wardiyah segera masuk ke rumah guna mengambil panci alumunium ukuran sedang miliknya. Kebetulan hari ini sayur dan lauk sudah habis, dan dia berencana menjadikan bakso sebagai lauk makan malam.

Namun, sekelibat kecurigaan menghampiri. Sebagai penduduk yang sudah bertahun-tahun tinggal disini, Budhe Wardiyah sudah hafal siapa saja penjual bakso yang selalu lewat. Pun beserta suara mesin motor dan ritme pukulan kentongannya. Oke, penjual bakso keliling disini lazimnya menggunakan bunyi kentongan bambu kecil sebagai penanda jualan bakso ya. Di lain tempat mungkin berbeda.

“Apa penjual bakso baru ya? Eh, atau intel menyamar? Lagipula, tadi dia bawa gerobak dorong atau gerobak motor sih? Ah embuhlah…”

Budhe Wardiyah menggeleng dan cepat-cepat keluar guna memberikan wadah panci itu kepada penjual baksonya. Namun, nafasnya tercekat saat mendapati Bapak penjual bakso justru berdiri mematung, dengan ekspresi datar yang aneh.

“Pak, halo? Ini saya mau beli bakso sepanci.”

Si penjual bakso justru menundukkan kepala. Semula seperti gerakan mengheningkan cipta dalam upacara. Namun lama-lama kepalanya justru semakin menurun hingga jatuh menggelinding di tanah. Suasana ujug-ujug sepi, seolah para pekerja yang pulang sudah terhenti sama sekali.

“Ciluk ba!!”

Kepala yang menggelinding itu kemudian menampilkan ekspresi jenaka, seolah mengejek manusia yang sedang terperangah sambil membawa panci. Dengan mata hitam gelap tak berdasar, kulit pucat khas orang mati, dan bibir yang tertawa dengan jejak-jejak darah mengering.

“Ini pentol besarnya, wuahahaha!!!”

“Demit edan! Demit kucluk! Pulang saja ke negerimu sendiri sana!!”

Budhe Wardiyah dengan membabi buta justru memukuli badan sosok tersebut yang masih berdiri atau bahkan sedikit bergoyang dengan panci sambil misuh-misuh, yang disambut gelak tawa melengking. Tanpa ketakutan, seolah sedang memukuli pohon pisang. Sosok tubuh beserta kepala menggelinding itu kemudian terbirit-birit kabur sebelum menghilang begitu saja. Seperti tidak pernah ada.

“Nggak manusia nggak dedemit, kok hobi banget ngibul! Awas kalau kamu muncul lagi, kutempeleng pakai sepatu!!”

Setelahnya, Budhe Wardiyah masih bisa mendengar suara tawa mengejek entah darimana. Lalu, esensi kehidupan kawasan perkotaan kembali terdengar dan tersaji. Jalan raya kembali diisi oleh volume kendaraan dan deru mesin yang riuh.

“Lho, jenengan nggak takut, Mbak War?” tanya Budhe Sri. “Itu kepala ujug-ujug putus di depanmu?”

Budhe Wardiyah menyeruput teh manis. “Halah kalau kita ketakutan, mereka makin suka mengganggu.”

“Tapi setelah itu, itu dedemit masih suka ganggu nggak?”

“Nggak. Tapi sejak hari itu, setiap ada tukang bakso keliling pasti kuamati kakinya dulu. Kalau nempel tanah berarti manusia.”

“Tapi kejadian begitu nggak sering terjadi kan? Kalau aku jadi jenengan, lama-lama stres sih..”

“Awal-awal dulu keganggu sih. Tapi lama-lama jadi terbiasa. Bahkan sudah mulai jarang gangguin..”

Aku selalu salut pada jiwa emak-emak yang dikenal sebagai ras terkuat itu. Apa ya, mereka selalu multitalenta bahkan nggak ada takut-takutnya menghadapi dedemit. Kalau aku ada di posisi Budhe Wardiyah, pasti bakal lari tunggang langgang deh.

Siapa juga yang nggak jantungan kalau di prank dedemit menyamar tukang bakso dan dapat reward kepala putus begitu?