Sepulang kerja dan menyetel satu channel televisi, aku langsung terpesona dengan sajian film bertajuk Saranjana: Kota Ghaib. Satu judul yang menggugah rasa penasaran, mengenai suatu urban legend perihal kota misterius tersebut.
Melansir IMDb, Saranjana: Kota Ghaib merupakan film bergenre horor, fiksi ilmiah, dan petualangan yang disutradarai oleh Johansyah Jumberan yang rilis pada 26 Oktober 2023. Film berdurasi 98 menit nggak hanya sekadar menjual konspirasi semata, melainkan pesona adat dan budaya Kalimantan Selatan yang sukses mencuri perhatian. Nggak melulu mistis, tapi alasan tragis yang relevan.
Berawal dari Konflik Internal, Merembet ke Lintas Dimensi
Film ini mengisahkan anggota band bernama Signifikan asal Jakarta yang sedang konser di Kalimantan. Namun, terdapat konflik internal dan perbedaan pendapat antara dua vokalis yakni Sitha (Adinda Azani) dan Rendy (Luthfi Aulia). Di satu sisi keduanya berhasil ditenangkan oleh rekan setim yaitu Dion (Irzan Faiq), Vey (Ajeng Fauziah), dan manajer mereka Fitri (Betari Ayu).
Di sisi lain, Sitha yang memiliki masalah pribadi dengan orang tuanya mulai mengalami keanehan di hotel. Dia berjumpa dengan seorang lelaki berbusana adat Banjar yang mengajaknya pergi. Puncaknya, saat Sitha pergi dengan menaiki perahu dan hilang begitu saja di satu malam.
Rekan band yang khawatir pun menuntut tanggung jawab Anwar (Mourys Sam) selaku ketua EO. Segala pencarian dilakukan, tapi nihil. Dan opini liar muncul kala mengaitkan fenomena orang hilang dengan kota misterius Saranjana.
Petualangan mereka mencari Sitha pun resmi dimulai. Ketika nalar logika dan esensi ghaib mulai disatukan. Perjalanan berbahaya dilakoni demi menemukan kawan yang hilang. Berhasilkah mereka menemukan Sitha? Atau, akankah mereka kalah dan tewas dalam perjalanan yang beringas?
Mistisnya Kena, Mental Penonton Dibuat Bersuara
Takjub sekaligus takut. Itu perasaanku saat menonton film ini. Aku sendiri dibuat terpukau dengan ide kreatif yang menggugah minat, pun setting lokasi yang real. Bukan sekadar hutan ala-ala, tapi hutan belantara yang betul-betul nyata. Dengan sinematografi film yang penuh misteri, dengan komposisi warna dingin nan pekat, berpadu dengan kawasan hutan yang mistisnya tuh nembus layar.
Sepintas, gaya take berbumbu misterinya tuh mirip serial Masalembo.
Film ini juga nggak sekedar menjual teori konspirasi Saranjana, atau jumpscare murah ala dedemit saja. Memang sih ada beberapa scene horor yang bikin berteriak kaget. Melainkan dilema psikologis ketika orang yang dikasihi lenyap tanpa jejak. Rasanya nggak hanya pekat, tapi menyajikan teror dan kegilaan yang membunuh akal. Segala cara bakal dilakukan, tanpa ketakutan sama sekali.
Aku mendapati bahwa horor absolutnya bukan pada demit yang muncul. Namun pada manusia itu sendiri yang sanggup bertindak di luar nalar. Entah karena tekanan pribadi, atau pemicu tertentu dalam hidupnya. Hal ini sejatinya masih dan tetap relevan hingga sekarang. Sebagaimana kenekatan Fitri, Dion, Rendy, dan Vey demi menemukan Sitha. Maupun aksi nekat Gina (Gusti Midah) demi menemukan adiknya yang hilang
Pengenalan Adat dan Budaya Khas Kalimantan yang Otentik
Terlepas dari jerat petualangan dan misteri yang nyandu, aku akui bumbu adat dan budaya yang disajikan kian menambah ciri khas dan keotentikan filmnya. Sepanjang film, ada banyak sekali budaya khas Kalimantan yang dikenalkan.
Seperti Bahasa Banjar yang turut masuk dialog, kesakralan Mandau sebagai senjata khas, budaya menyirih yang dilakukan Acil Mas, tatacara pemakaman air, sampai kehadiran tari topeng. Semuanya lengkap, bahkan berpadu dengan esensi hantu Kuyang yang lekat dengan Kalimantan.
Selain itu, sajian lanskap lokasi syuting juga nggak kaleng-kaleng. Film ini mengambil beberapa lokasi di Kabupaten Kotabaru terutama kawasan wisata Siring Laut dan Teluk Lamiang yang keren bak negeri dongeng lengkap dengan jembatan dan hutan mangrove, Kabupaten Hulu Sungai Selatan dengan kawasan sungainya yang syahdu nan tenang, dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah dengan hutan belantara yang pekat otentik abis.
Ada juga esensi lintas dimensi dimana portal antara Saranjana dan Kotabaru adalah via air, alias menyelam ke laut. Hal ini membuatku teringat versi cerita fiksi Wattpad bertajuk Pengantin Rajendra yang memiliki konsep serupa, kendati lokasinya adalah sungai Mahakam. Apakah konsep lintas dimensi via air ini lazim di Kalimantan?
Kebocoran Take yang Pengaruhi Konsep
Kendati konsep petualangan dan teori konspirasi tentang Saranjana sebagai kota ghaib berteknologi tinggi tuh matang banget, tapi eksekusi filmnya sedikit mengecewakan. Okelah kalau wujud kerajaan dan sistem pemerintahannya tidak dieksplor karena unsur misteriusnya tadi. Namun, ada buanyak hal yang harus dibahas lho.
Pertama, CGI kasar. Sewaktu tiba di Saranjana, lanskap gedung bertingkatnya tuh tampak fake banget. Rasanya seperti nonton serial dengan editan seadanya. Padahal ekspektasi yang dijanjikan pada penonton tuh tinggi mengenai kota misterius tersebut.
Kedua, sistem keamanan blunder. Konon prajurit kerajaan Saranjana di film ini mampu mendeteksi keberadaan orang-orang dari dunia manusia lewat sistem canggih. Makanya Fitri, Rendy, dan Vey dikejar. Nah yang aneh tuh, kok keberadaan Hendra aman? Dia kan bukan penduduk asli Saranjana?
Ketiga, kebocoran take adegan. View kawasan Siring Laut dan Teluk Lamiang sebagai lanskap Saranjana tuh keren pol. Berpadu dengan konsep ala kerajaan dengan busana adatnya. Namun karena syuting di kawasan umum, alhasil banyak lalu lalang wisatawan dan penduduk lokal. Konsep ala kerajaan dengan fashion khasnya ditepis jauh, ketika masyarakat berbusana kasual ikut masuk ke kamera.
Keempat, ending menggantung. Mungkin karena mengedepankan konsep misteri, jadi ending dibikin menggantung. Namun, aku mempertanyakan nasib Pangeran Saranjana yang ditinggal kabur Sitha. Woy, kasihan lah…
Plot Kompleks yang Penuh Moral
Sejatinya film Saranjana: Kota Ghaib nggak hanya seputar horor lokal berbumbu misteri semata. Plotnya lebih kompleks mengenai ambisi, perbedaan opini, dan langkah penuh marabahaya.
Film ini nggak cuma menceritakan budaya mistis yang terkemuka, tetapi hukum sebab akibat yang dieksekusi terbuka dan gamblang. Bahwa setiap langkah memiliki konsekuensi tersendiri. Mungkin termasuk konsep gerbang ilegal berupa Pohon Halohalo dan portal resmi via laut ya.
Karena view horor dan sedikit gore, film ini sebaiknya ditonton untuk usia 13 tahun ke atas kendati bukan scene berdarah-darah yang bikin mual ya. After all, menilik totalitas produksi dan ide segar ala fantasi dan misteri lokal, aku memberikan nilai 7,5 untuk Saranjana: Kota Ghaib.
Identitas Film
- Judul: Saranjana: Kota Ghaib
- Sutradara: Johansyah Jumberan
- Genre: misteri, horor, fiksi ilmiah, petualangan
- Rilis: 26 Oktober 2023
- Distributor: DHF Entertainment
- Negara Asal: Indonesia
- Bahasa: Bahasa Indonesia, Bahasa Banjar
- Durasi: 98 menit
Baca Juga
-
Sambal Tumpang: Eksekusi Yin dan Yang dalam Proses Mengolah Tempe Bosoknya
-
Teringat Rekan Kerja Cantik yang Selalu Menunduk: Pahitnya Menjadi Target Catcalling
-
Hujan Tidak Mengganggu Kerjamu, Hujan Justru Mengajakmu untuk Berhenti Sejenak
-
Ritel Adalah Cermin Sosial: Membaca Karakter Pelanggan dari Gaya Belanja Mereka
-
Lebih dari Sekadar Kungfu: Mengapa Tai Chi Master adalah Film Jet Li yang Paling Ngenes?
Artikel Terkait
-
Dosa Masa Lalu yang Tak Pernah Mati: Ulasan Mendalam Film Lastri Arwah Kembang Desa
-
Film Horor Tanpa Teror Hantu, Juminten Edan Buktikan Ketakutan Sesungguhnya Ada pada Manusia
-
Aisyah Aqilah 'Siksa' Emosi demi Sajen Satu Suro: Lebih Melelahkan dari Teror Horor
-
Terinspirasi Kisah Nyata, Film AUTOPSY: Dead Body Can Talk Kupas Misteri Lewat Ruang Autopsi
-
Di Balik Soundtrack Film 402: Rumah Sakit Angker Korea, Ada Sisipan Notasi 'Laa Ilaha Illallah'
News
-
Tolak Intimidasi Sejak Dini: Ratusan Siswa SMAN Titian Teras Jambi Gelar Deklarasi Anti-Perundungan
-
Final Piala Dunia 2026: Spanyol dan Dialektika Tiki-Taka yang Mengubah Sejarah
-
Kemenhub Percepat Dekarbonisasi, LINTAS Jadi Ruang Diskusi Transportasi Berkelanjutan
-
Beban Ganda Perempuan Kepala Keluarga: Bangun Jam Lima pagi, Malam Masih Menghitung Setoran
-
Sudah Saatnya Night Eating Syndrome Menjadi Perhatian Nasional
Terkini
-
Ryan Hurst Cedera saat Syuting Serial God of War, Bakal Diganti Aktor Baru
-
Gaya Hidup DINK: Keputusan Egois atau Pilihan Paling Rasional di Era Modern?
-
Spanyol Kampiun Piala Dunia 2026: Saat Cocokologi dan Kualitas di Lapangan Berjalan Beriringan
-
Mau Wisuda Kekinian tapi Tetap Hemat? Ini 6 Tips yang Bisa Dicoba
-
Ulasan Series Running Point, Ketika Ratu Pesta Menjadi Presiden Klub Basket