Lintang Siltya Utami | Aryo Akhmad Maulana
ilustrasi menulis jurnal harian (pexels.com/Houssam benamara)
Aryo Akhmad Maulana

Bagi sebagian orang, menulis bukan termasuk aktivitas spesial. Biasa saja. Terutama bagi mereka yang telah menuntaskan pendidikan, mencatat di buku tulis dipandang hanya sebagai tugas seorang pelajar di bangku sekolah.

Saya pun dahulu berpikir demikian. Terlebih lagi dalam urusan membuat jurnal harian, itu sama sekali asing bagi diri saya di masa lalu. Ketika mendengar namanya saja, langsung terlintas gambaran sebuah buku warna-warni dengan beragam ornamen lucu. Akan tetapi, saya tidak menyangka jika aktivitas tersebut, kelak menjadi penolong dan lorong waktu bagi saya. Kesempatan untuk berkenalan dan berkunjung dengan diri sendiri di masa lalu.

Menulis jurnal sebagai cara berdialog dengan isi pikiran sendiri

Ada momen dalam diri saya ketika pikiran terasa seperti benang kusut. Tidak beraturan. Saling melilit satu sama lain. Mereka seolah ingin tampil terdepan agar menarik perhatian saya. Sayangnya, itu justru menyulitkan saya untuk mengenalinya.

Pada momen tersebut, buku catatan datang sebagai menjadi pihak penengah. Ia bersikap netral. Alih-alih langsung menghakimi atau memberi validasi, benda tersebut, bersama pena, mengajak saya untuk duduk berdialog. Menanyakan dua-tiga hal pada diri sendiri.

Apa yang sebenarnya saya rasakan? Mengapa hal ini bisa terjadi? Bagaimana cara saya mengatasi konflik ini?

Proses tersebut bisa berjalan pelan. Tidak selesai hanya dalam satu malam. Bahkan, bisa jadi berlanjut hingga beberapa hari. Namun, dengan menulis, perlahan beban tersebut menemukan tempat lain selain pundak saya. Tubuh terasa lebih ringan untuk kembali beraktivitas.

Tidak hanya itu, jeda singkat tersebut juga membawa satu kelebihan lain: Membuat saya lebih mengenali diri sendiri. Saya menjadi lebih paham mengapa saya bisa merasakan ini. Rasanya menyenangkan, seolah menjumpai lapisan baru tentang diri sendiri.

Menulis merupakan cara saya melawan lupa

Saat masih kanak-kanak, saya pernah membayangkan memiliki mesin waktu. Saya bisa melihat selain masa sekarang dengan kecanggihan benda tersebut. Namun, ternyata alat itu sudah ada di samping saya. Tampilannya tidak futuristik, berfungsi tanpa listrik, tetapi perannya tetap apik. Benda tersebut memiliki nama buku dan pena.

Menulis memberi pendekatan yang berbeda. Tidak seperti audio dengan suaranya, video dengan gerakannya, atau foto dengan grafisnya. Ia menawarkan detail tertentu yang terlukis lewat imajinasi.

Saat membaca ulang catatan tersebut, terbayang suasana ketika saya menuliskannya. Bagaimana latar tempatnya, situasi di sekitar, dan tentunya sisi emosional yang sempat muncul ketika menorehkan kalimat di kertas putih itu.

Ada rasa bangga, sedih, dan kagum setelah membacanya. Terutama ketika mengunjungi episode berat dalam hidup dan ternyata bisa saya lalui. Pun, ketika bertamu di babak kebahagiaan, itu mengukuhkan harapan saya tentang masa depan—bahwa ada kebahagiaan yang sedang menanti di depan sana.

Jurnal harian bukan tentang estetika, melainkan jujur kepada diri sendiri

Saya sempat berpikir bahwa catatan harian perlu sentuhan estetika yang dominan. Penuh ornamen lucu, goresan warna-warni, dan keindahan visual. Namun, pengalaman berteman dengannya selama setahun ternyata membawa pandangan baru.

Bukan sebuah dosa apabila memberi hiasan di kanvas sastra tersebut. Saya pun pernah beberapa kali melakukannya. Ketika tampilannya sesuai keinginan, indah, saya menjadi lebih bersemangat untuk menulis di atasnya.

Hanya saja, yang perlu digaris bawahi, peran utamanya bukanlah itu. Jurnal harian bertugas sebagai pelacak rutinitas, pengurai pikiran, dan pengingat momen. Unsur keindahan hadir sebagai penunjang, bukan inti dari catatan tersebut.

Menulis merupakan cara saya untuk menyapa diri sendiri. Di tengah arus kehidupan yang serba cepat, aktivitas tersebut menjadi jalan untuk pulang sejenak. Merapikan pikiran dan perasaan hari ini untuk menyambut hari esok yang lebih baik.