TotalEnergies BWF Sudirman Cup Finals 2025 yang berlangsung di Fenghuang Gymnasium, Xiamen, China pada 27 April sampai 4 Mei 2025 telah rampung digelar dengan hasil China kembali keluar sebagai juara untuk ke-14 kalinya. Kemenangan China ini diraih usai mengalahkan tim Korea Selatan dengan skor akhir 3-1.
Terlepas dari hasil turnamen beregu ini, ada sederet fakta menarik dari tim Indonesia yang diturunkan pada Piala Sudirman edisi tahun ini. Meski sangat disayangkan belum berhasil tembus hingga ke babak final, tetapi hasil yang didapat sudah cukup positif.
Nah, berikut ini beberapa fakta menarik skuad Indonesia di Sudirman Cup 2025. Mulai dari sukses raih medali kembali hingga potensi regenerasi yang positif.
1. Sukses Raih Medali Kembali
Lolosnya tim Indonesia ke babak semifinal Sudirman Cup 2025 sekaligus memastikan raihan medali kembali usai dua edisi sebelumnya kandas di perempat final. Hasil ini terbilang cukup positif mengingat medali perunggu terakhir tim Indonesia diraih pada Sudirman Cup 2019 lalu.
Saat itu tim Indonesia kalah 1-3 dari tim Jepang hingga harus legawa melepas kesempatan menuju partai puncak untuk melawan tim China. Hasil serupa juga kembali terjadi Piala Sudirman 2025, tim Indonesia kalah dari tim Korea Selatan 2-3 melalui laga yang sengit.
Di semifinal Sudirman Cup 2025 pada Sabtu (3/5/2025), laga mendebarkan terjadi di dua partai terakhir nomor ganda putra dan ganda putri. Bagas Maulana/Muhammad Shohibul Fikri tampil impresif dengan kemenangan dramatis 21-18, 13-21, dan 25-23 atas Kim Won Ho/Seo Seung Jae.
Sayangnya, di partai penentu Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi dipaksa menyerah oleh Baek Ha Na/Lee So Hee dengan skor akhir 10-21, 21-18, dan 15-21. Bukan laga yang mudah, mengingat Fadia/Tiwi merupakan pasangan dadakan dan Fadia sendiri sudah kelelahan usai bermain rangkap di ganda campuran.
2. ‘Jabatan’ Rangkap Jonatan Christie
Salah satu pemandangan menarik yang terjadi di beberapa laga Indonesia adalah peran Jonatan Christie bagi tim. Jojo yang ditunjuk sebagai kapten tim bukan hanya turun sebagai wakil di partai nomor tunggal putra, tetapi juga mengemban ‘jabatan’ rangkap yang tidak biasa.
Kapten Jojo juga memberikan peran yang maksimal untuk mendukung tim dengan menjadi suporter di bench bersama atlet dan tim official lainnya agar rekan yang bertanding mendapat suntikan semangat. Bukan hanya itu, Jojo bahkan duduk di kursi pelatih bersama Coach Indra Wijaya untuk mendampingi Alwi Farhan lebih dekat.
Kali pertama Jojo menjadi ‘pelatih’ terjadi saat tim Indonesia melawan tim Denmark, Alwi Farhan turun tanding menghadapi Anders Antonsen. Jojo bahkan aktif memberikan semangat untuk menguatkan mental Alwi.
Hasilnya sangat positif karena Alwi sukses mengalahkan Antonsen melalui drama rubber game yang impresif dengan skor 21-17, 15-21, dan 21-17. Mengulang sukses, Jojo kembali duduk di 'kursi panas' kembali pada laga semifinal melawan Korea Selatan.
Alwi lagi-lagi tampil sangat baik dalam meredam perlawanan Cho Geon Yeop. Dengan saran teknis dari Coach Indra dan dukungan mental dari Jojo, akhirnya Alwi menang 16-21, 21-8, 21-8 dari Cho Geon Yeop dan dan menjadi satu-satunya poin kemenangan tim Indonesia yang didapatkan.
3. Potensi Regenerasi yang Positif
Satu fakta menarik lainnya yang positif mengarah pada potensi regenerasi atlet muda yang sudah sesuai track. Terutama dari nomor tunggal putra dan tunggal putri, Indonesia mulai menunjukkan potensi cerah di masa mendatang.
Dari tunggal putra, ada Alwi Farhan dan Moh. Zaki Ubaidillah yang baru berusia 19 dan 17 tahun tampil baik di Sudirman Cup 2025. Alwi dan Ubed digadang-gadang bakal menjadi the next Jojo dan Ginting jika Pelatnas konsisten memberikan pembinaan serta jam terbang untuk mengasah potensi tersebut.
Di sisi lain, Putri Kusuma Wardani dan Ester Wardoyo yang juga mulai membuktikan diri jika kemampuannya layak diperhitungkan di kancah dunia sebagai pelapis Gregoria Mariska Tunjung. Terlebih Putri KW berhasil mengalahkan Pornpawee Chocuwong dan memberikan perlawanan sulit untuk An Se Young di Sudirman Cup 2025.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Piala Dunia dan Gen Z: Ketika Sepak Bola Menjadi Gaya Hidup Sementara
-
Dari Stadion ke Timeline: Cara Gen Z Menikmati Piala Dunia di Second Screen
-
Jujur, Apakah Piala Dunia Benar-Benar Bikin Gen Z Jadi Kurang Produktif?
-
Media Sosial, Tren, dan Paylater: Kolaborasi "Epik" Gaya Hidup Konsumtif
-
Capek Sedikit, Checkout Banyak: Emotional Spending Gen Z di Era Digital
Artikel Terkait
-
Cerita Sandy Walsh Main di Jepang: Berburu Kuliner hingga Naik Shinkansen
-
Media Asing Sebut 'Musuh' Timnas Indonesia Segera Comeback, Siapa Dia?
-
Disiarkan Malam Hari! Ini Jadwal Timnas Indonesia vs China di Kualifikasi Piala Dunia 2026
-
Jepang Latah Ingin Naturalisasi Pemain Keturunan: Demi Juara Piala Dunia
-
Watsons Indonesia Geber Kinerja Penjualan di Momen Tanggal Kembar
Hobi
-
Piala Dunia 2026: Tunduk di Tangan Jepang, Tunisia Jadi Tim Ketiga yang 'Mudik'
-
Piala Dunia 2026 dan Comeback Turki yang Menodai Sejarah Keikutsertaan Terakhir Mereka
-
Gara-Gara Tutup Mulut, Almiron Jadi Korban Pertama Aturan Baru Piala Dunia
-
Sprint Race GP Ceko 2026: Bersikap Kasar, Marco Bezzecchi Dilarang Tampil!
-
Prediksi Tunisia vs Jepang: Elang Kartago Krisis, Samurai Biru Mendominasi?
Terkini
-
Review Film Cocktail 2: Racikan Ego, Kesetiaan, dan Badai Asmara di Sisilia
-
Kejutkan Publik! Anne Hathaway Pamer Baby Bump untuk Anak Ketiga
-
Tuhan, Aku Ingin Sembuh: Buku Healing Bernuansa Spiritual yang Menguatkan
-
Sisi Lain Piala Dunia 2026: Mengapa Fanwar di Media Sosial Susah Diredam?
-
Gaya Bahasa Jakselan di Kampus yang Bikin Logika Bahasa Baku Jadi Korban