Timnas Irak menjadi sorotan jelang pertemuan krusial dengan Timnas Indonesia pada putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026. Nama Zidane Iqbal, gelandang yang kini membela FC Utrecht masih diragukan bisa tampil karena kondisi kebugarannya. Situasi ini tentu saja bisa menjadi keuntungan bagi Indonesia yang berhadapan dengan salah satu tim kuat Asia.
Pelatih Graham Arnold disebut-sebut sangat berhati-hati dalam menyusun skuadnya. Ia bahkan menugaskan asisten kepercayaannya, Rene Meulensteen yang pernah menjadi staf pelatih Manchester United untuk memantau langsung para pemain diaspora Irak yang merumput di Eropa.
Salah satu laga yang dipantau adalah pertandingan Stromsgodset kontra Sarpsborg di Liga Norwegia. Duel tersebut menampilkan dua pemain Irak, Marco Faraj dan Aymar Sher. Dari sana, laporan detail diserahkan langsung kepada Arnold untuk menentukan komposisi skuad yang ideal.
Di tengah pemantauan itu, nama Zidane Iqbal menjadi bahan diskusi. Meski dikenal sebagai pemain kunci, kondisinya belum sepenuhnya bugar setelah absen lama akibat cedera. Hal inilah yang membuat keikutsertaannya dalam laga kontra Indonesia pada 11 Oktober mendatang masih dalam tanda tanya besar.
Gelandang jebolan akademi Manchester United itu baru saja kembali merumput. Ia tampil saat FC Utrecht kalah tipis 0-1 dari Fortuna Sittard pada 21 September 2025. Namun, performanya belum cukup untuk menjamin tempat utama di timnas.
Menurut sumber internal, Arnold sebenarnya sudah memiliki kerangka skuad dari ajang Piala Raja 2025 lalu. Namun, beberapa nama masih dalam pertimbangan serius, termasuk Zidane Iqbal dan penyerang Luton Town, Ali Al-Hamadi. Keputusan akhir sangat bergantung pada kondisi fisik keduanya.
Absennya Zidane Iqbal jelas akan menjadi kabar baik bagi Timnas Indonesia. Pemain ini dikenal memiliki kemampuan teknik tinggi serta kecerdasan dalam mengatur tempo permainan Irak. Kehilangan figur sentral di lini tengah tentu sedikit mengurangi daya gempur Singa Mesopotamia.
Meski sudah kembali berlatih, Zidane Iqbal sejauh ini lebih sering diturunkan di tim Jong FC Utrecht. Itu pun baru setelah empat bulan menepi karena cedera. Belum adanya menit bermain reguler di tim utama membuat posisinya di skuad Irak semakin diragukan.
Bagi Timnas Indonesia, situasi ini bisa diibaratkan sebagai 'durian runtuh'. Irak yang biasanya begitu kuat di lini tengah kini berpotensi tampil tanpa salah satu motor serangan terbaiknya. Dengan begitu, ada sedikit ruang bagi pasukan Garuda untuk bernapas lebih lega.
Namun begitu, euforia keunggulan tersebut tidak boleh membuat Indonesia jemawa. Irak tetaplah tim dengan materi pemain mumpuni yang bisa merepotkan siapa saja. Kehilangan satu pemain kunci bukan berarti mereka menjadi lawan enteng.
Punya Banyak Pelapis Apik, Timnas Indonesia Pantang Remehkan Irak
Skuad Irak masih punya sederet nama berbahaya yang bisa menjadi ancaman. Ayman Hussein, Ali Al-Hammadi, Ibrahim Bayish, Amir Al-Amari, hingga Amjad Atwan adalah pemain-pemain yang sudah terbukti kualitasnya.
Di sektor pertahanan, ada Saad Natiq dan Hussein Ali yang kerap tampil konsisten. Jangan lupakan juga kiper andalan, Jalal Hassan, yang sering jadi tembok kokoh di bawah mistar. Sementara itu, Frans Putros, bek tengah yang kini memperkuat Persib Bandung, hampir pasti juga akan dipanggil.
Di lini depan, Irak memiliki striker tajam Mohanad Ali. Penyerang ini sudah lama menjadi tumpuan tim dan kerap mencetak gol di laga penting. Bahkan, mereka tengah menyiapkan talenta muda potensial seperti Jussef Nasrawe, pemain Bayern Munchen U-17, untuk memperkuat skuad.
Dengan materi pemain yang merata, Irak tetap menjadi lawan berat meski Zidane Iqbal absen. Timnas Indonesia wajib tetap fokus dan mempersiapkan strategi terbaik agar bisa mengimbangi permainan cepat dan disiplin dari lawan.
Pertandingan pada ronde keeempat nanti dipastikan tidak akan mudah. Timnas Indonesia memang mendapat sedikit keuntungan dengan diragukannya Zidane Iqbal, tapi kunci kemenangan tetap ada pada konsistensi permainan sendiri.
Garuda harus bisa memaksimalkan peluang, menjaga konsentrasi sepanjang laga, dan tidak memberi ruang kepada Irak untuk berkembang. Pasalnya, meski kehilangan satu bintang, tim sekelas Irak selalu punya cara untuk bangkit.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Final ASEAN Futsal: Suoto Jamin Timnas Indonesia Tak Minder Hadapi Thailand
-
Akui Kelalaian, Fantagio dan Cha Eun Woo Minta Maaf soal Kontroversi Pajak
-
Penuh Visi, John Herdman Dorong Transformasi Sistem Pembinaan Usia Dini
-
PSSI Buka Suara soal Kasus 'Paspor Gate', Naturalisasi Pemain Tetap Sah?
-
John Herdman Dinilai Terapkan Gaya Baru untuk Timnas Indonesia
Artikel Terkait
-
Andalan PSIM Yogyakarta Raka Cahyana dan Cahya Supriadi Dipanggil Perkuat Timnas Indonesia U-23
-
Pengamat: Indra Sjafri Tak Perlu Lama Bentuk Tim Kuat untuk SEA Games 2025
-
PSSI: Track Record Indra Sjafri Bagus di SEA Games
-
Alex Pastoor Blak-blakan Nikmati Peran di Timnas Indonesia
-
Berapa Lama Proses Penyembuhan Cedera Emil Audero?
Hobi
-
Performa Kian Gacor, Dean Zandbergen Disetarakan dengan Cristian Gonzales?
-
Ironi Super League: Liga Tertinggi yang Jauh dari Kata Profesional!
-
MotoGP Catalunya 2026: Diggia Menang Usai Drama Dua Kali Red Flag
-
Membongkar Peluang Skuad Garuda di Grup F Piala Asia 2027: Ujian Mental Menuju Pentas Dunia
-
Rangkuman Sprint Race MotoGP Catalunya 2026: Alex Marquez Kembali Berkuasa!
Terkini
-
Kenapa Orang Rela Antre demi AP x Swatch? Fenomena FOMO dan Budaya Luxury
-
Gamers Tidak Selalu Gagal: Perspektif Baru dari Dear Parents
-
Kenapa Baca Banyak Buku Tidak Otomatis Membuat Seseorang Pandai Menulis?
-
Boyfriend on Demand: Kala AI Terasa Lebih Nyata daripada Manusia
-
No Place to Be Single, Alasan Kota Kecil Selalu Cocok untuk Film Romantis