Sekar Anindyah Lamase | M. Fuad S.T.
Penjaga gawang Timnas Indonesia, Maarten Paes saat menjalani laga melawan Arab Saudi (the-afc.com)
M. Fuad S.T.

Kabar yang cukup menggembirakan datang dari penjaga gawang Timnas Indonesia, Maarten Paes. Dari berbagai sumber dikabarkan, penjaga gawang milik Pasukan Garuda tersebut bakal hijrah dari klubnya saat ini, FC Dallas yang berkiprah di pentas Major League Soccer Amerika Serikat, menuju klub tanah kelahirannya, Ajax Amsterdam yang bertarung di pentas Eredivisie.

Di mata penggemar sepak bola yang masih awam sekalipun, kepindahan Paes dari benua Amerika menuju benua Eropa tentunya menjadi sebuah peningkatan karier yang cukup signifikan. Sebab dilihat dari segi mana pun, ketika membandingkan FC Dallas dengan Ajax Amsterdam, ataupun Major League Soccer dengan Eredivisie, tentunya Ajax dan Eredivisie terbilang lebih unggul ketimbang Dallas dan MLS.

Bukan hanya terkait peningkatan karier, hijrahnya Paes kembali ke Eredivisie juga sedikit-banyak menyenggol kebijakan federasi dalam melakukan proses naturalisasi pemain. Meskipun beberapa di antaranya menyasar pemain yang sudah memiliki "nama", namun tak jarang proses naturalisasi yang dilakukan oleh PSSI menargetkan para pemain muda yang mereka anggap potensial.

Memang, secara kebijakan hal itu tak sepenuhnya salah. Karena dengan menyasar pemain yang masih muda, diharapkan mereka mampu berkembang dengan baik dan bisa memperkuat Pasukan Merah Putih dalam rentang waktu yang cukup lama.

Nama-nama seperti Rafael Struick, Ivar Jenner, Mauro Zijlstra, Jens Raven, Dion Markx dan beberapa nama lain bahkan dialihkewarganegaraannya oleh PSSI ketika belum genap berusia 20 tahun atau saat masih awal 20 tahunan.

Pada perjalannya, beberapa nama di antaranya justru terkesan mandeg dalam berproses, merasa kalah bersaing saat bersaing di liga luar dan memilih untuk kembali ke kompetisi tanah air.

Atribut bermain yang belum sepenuhnya matang, baik dalam hal kualitas dan pola pikir, membuat para pemain yang dinaturalisasi oleh PSSI sebelum benar-benar "jadi", membuat mereka mudah untuk patah semangat dan tergiur untuk mencari zona nyaman dengan kembali ke tanah air.

Dimulai dari Rafael Struick, Jens Raven hingga belakangan ini Ivar Jenner yang dikabarkan santer bakal balik ke tanah air, menjadi semacam bukti bahwa para pemain ini belum benar-benar matang ketika diambil oleh federasi.

Meskipun dibekali dengan kualitas yang cukup apik, namun mental mereka belum sepenuhnya tertempa dengan baik, sehingga ketika mendapati sulitnya mendapatkan tempat dalam tim, membuat mereka seolah terburu-buru untuk menyerah dan bergegas untuk mencari pelabuhan yang nyaman.

Hal ini tentunya sangat berbeda dengan para pemain yang dinaturalisasi oleh PSSI ketika sudah matang baik dalam segi usia maupun bekal kualitasnya.

Meskipun tak semuanya, namun para pemain yang beralih kewarganegaraan ketika sudah benar-benar matang ini justru semakin menjadi-jadi dalam mempertontonkan kualitasnya. Emil Audero, Kevin Diks, Calvin Verdonk, Maarten Paes, ketika beralih menjadi WNI memang sudah memiliki bekal yang cukup dari segi kualitas maupun usia.

Sehingga, ketika mereka mendapatkan pressure atau kesulitan menit bermain, mereka bisa menanganinya dengan sangat baik.

Alih-alih memilih untuk mencari pelabuhan lain yang terkesan "seadanya", kesulitan-kesulitan itu justru dilawan dengan peningkatan kualitas bermain yang mereka miliki.

Hasilnya? Tentu saja pengakuan akan kualitas mereka kian menjadi-jadi. Bahkan, nama-nama seperti Kevin Diks, Calvin Verdonk dan yang terbaru, Maarten Paes justru berhasil naik kasta dengan bermain di kompetisi yang lebih berkelas daripada sebelumnya.

Jadi, bisa dikatakan menaturalisasi pemain ketika masih dalam usia muda, tak ubahnya sebuah gambling. Jika berhasil terus berkembang, maka mereka bisa menjadi andalan bagi Timnas Indonesia dalam jangka waktu yang lama, sementara jika gagal berkembang dengan baik, maka penurunan demi penurunan kualitas akan menjadi sebuah masalah nyata dan ujung-ujungnya menjadi bagian dari Liga Indonesia saja.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS