M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Poster serial Wonder Man (IMDb)
Ryan Farizzal

Serial Wonder Man merupakan salah satu kejutan terbesar dari Marvel Cinematic Universe (MCU) di tahun 2026. Berbeda dari kebanyakan produksi Marvel yang penuh aksi superhero skala besar, serial ini justru memilih pendekatan yang lebih intim, berfokus pada drama karakter, satire industri hiburan, dan persahabatan pria.

Tayang perdana secara eksklusif di Disney+ pada 27 Januari 2026 (semua 8 episode sekaligus, pukul 9 malam ET / 6 malam PT untuk wilayah Amerika, atau 28 Januari untuk beberapa negara lain seperti Indonesia, tergantung zona waktu Disney+), serial miniseri ini langsung mendapat sambutan hangat dari kritikus dan penonton.

Dengan rating sekitar 90% di Rotten Tomatoes dari kritikus dan skor penonton tinggi, Wonder Man sering disebut sebagai salah satu serial MCU terbaik, bahkan melampaui beberapa judul sebelumnya seperti WandaVision dalam hal keberanian kreatif.

Sinopsis: Konflik Antara Identitas Asli dan Persona yang Diinginkan

Salah satu adegan di serial Wonder Man (IMDb)

Cerita berpusat pada Simon Williams (diperankan oleh Yahya Abdul-Mateen II), seorang aktor berjuang di Hollywood yang sudah bertahun-tahun mencoba menembus industri tanpa hasil signifikan. Simon diam-diam memiliki kekuatan super—seperti kekuatan fisik luar biasa dan kemampuan ionik yang mirip dengan karakter komik Wonder Man—tapi ia justru berusaha menyembunyikannya. Mengapa? Karena mimpinya adalah membintangi remake film superhero berjudul *Wonder Man*, sebuah film fiksi dalam alam semesta MCU. Kekuatannya malah menjadi penghalang, karena ia takut rahasianya terbongkar dan merusak peluang audisinya.

Di sinilah muncul elemen brilian: Simon berteman dengan Trevor Slattery (Ben Kingsley), aktor eksentrik yang pernah berperan sebagai Mandarin palsu di Iron Man 3. Trevor, yang kini hidup pas-pasan dan penuh penyesalan, menjadi mentor sekaligus sahabat Simon. Bersama, mereka menavigasi dunia audisi, skandal Hollywood, persaingan aktor, dan tekanan agen pemerintah yang mencurigai kekuatan Simon. Plotnya menggabungkan komedi situasional, drama emosional tentang ambisi, kegagalan, dan persahabatan tak terduga, dengan sedikit aksi superhero yang muncul secara organik—bukan sebagai fokus utama.

Serial ini terasa seperti campuran The Player atau Birdman dengan sentuhan MCU ringan. Hampir tidak ada pertarungan besar atau multiverse; malah, kekuatan Simon sering jadi sumber konflik internal dan komedi, seperti saat ia harus menahan diri agar tidak terlalu kuat di set syuting. Ini membuat Wonder Man terasa segar di tengah kelelahan superhero fatigue.

Ulasan Serial Wonder Man

Salah satu adegan di serial Wonder Man (IMDb)

Yahya Abdul-Mateen II memberikan penampilan terbaiknya di MCU. Ia membawa kerentanan, ambisi, dan humor yang pas ke karakter Simon—seorang pria yang overthinking setiap peran kecil, tapi punya hati besar. Chemistry-nya dengan Ben Kingsley luar biasa; Kingsley kembali sebagai Trevor dengan karisma ikonik, menjadikannya salah satu karakter MCU paling kompleks dan lucu. Trevor bukan lagi sekadar comic relief; ia punya arc emosional mendalam tentang penebusan dan persahabatan.

Pemeran pendukung juga solid, termasuk Olivia Thirlby sebagai mantan pacar Simon, serta aktor seperti Arian Moayed dan X Mayo yang menambah warna pada dunia Hollywood yang satir ini. Penulisan oleh Andrew Guest (dari Community dan Brooklyn Nine-Nine) membuat dialog terasa tajam, natural, dan penuh lelucon insider tentang industri film.

Disutradarai sebagian oleh Destin Daniel Cretton (sutradara Shang-Chi), serial ini punya visual yang grounded—banyak lokasi nyata di Los Angeles, pencahayaan natural, dan minim CGI berlebihan. Efek khusus hanya digunakan saat diperlukan, membuatnya terasa lebih seperti drama daripada blockbuster. Musiknya understated, mendukung nada emosional tanpa overpower.

 Kelebihan terbesar adalah keberanian Marvel membiarkan serial ini berbeda—fokus pada cerita manusiawi, persahabatan pria, dan kritik halus terhadap Hollywood (ketidaksetaraan, tekanan fame, dll.). Ini membuatnya relatable bahkan bagi non-fans MCU. Episode-episode punya struktur mandiri tapi saling terhubung, dengan klimaks yang memuaskan di episode akhir seperti Yucca Valley.

Kekurangannya? Jujur aku kecewa banget sih karena serial ini minim aksi superhero. Kalau kamu mencari ledakan dan pertarungan epik, ini bukan pilihan utama. Tapi justru itulah yang membuatnya istimewa—Marvel berani mengambil risiko.

Wonder Man adalah pemenang tersembunyi MCU 2026. Serial 8 episode ini membuktikan bahwa superhero story tak harus selalu tentang menyelamatkan dunia; kadang cukup tentang menyelamatkan mimpi dan pertemanan. Dengan penampilan memukau dari Yahya Abdul-Mateen II dan Ben Kingsley, penulisan cerdas, serta pendekatan segar yang menghindari formula biasa, ini adalah salah satu serial Disney+ terbaik tahun ini. Kalau kamu bosan dengan MCU yang bombastis, Wonder Man adalah angin segar yang penuh hati dan humor.

Sekarang sudah tersedia streaming lengkap di Disney+ sejak 27 Januari 2026. Sangat aku rekomendasikan untuk binge-watching!