Sekar Anindyah Lamase | Leonardus Aji Wibowo
Mercedes-Benz 300 SLR Uhlenhaut Coupé (media.mbusa.com)
Leonardus Aji Wibowo

Pernah membayangkan seperti apa bentuk mobil seharga lebih dari Rp2 triliun? Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin terdengar tidak masuk akal untuk sebuah kendaraan.

Namun di dunia otomotif, harga fantastis seperti itu bisa terjadi, terutama jika sebuah mobil memiliki nilai sejarah, teknologi, dan kelangkaan yang tidak tertandingi.

Salah satu contohnya adalah Mercedes-Benz 300 SLR Uhlenhaut Coupé, mobil legendaris yang hingga kini masih menjadi perbincangan karena statusnya sebagai salah satu yang termahal di dunia.

Bukan hanya soal harga, mobil ini juga dikenal karena latar belakangnya yang unik, mulai dari asal-usulnya sebagai kendaraan berbasis balap hingga kisah di balik pembuatannya yang tidak biasa.

Melansir laman resmi Mercedes-Benz pada Rabu (15/04/2026), mobil ini disebut sebagai salah satu kendaraan paling luar biasa dalam sejarah otomotif.

“300 SLR Uhlenhaut Coupé dianggap sebagai salah satu kendaraan paling luar biasa dalam sejarah otomotif,” tulis Mercedes-Benz dalam keterangan resminya.

“Mobil ini merepresentasikan puncak inovasi teknik dan desain yang pernah dicapai pada masanya,” lanjut keterangan tersebut.

Dari sisi teknis, mobil ini dibekali mesin 3.0 liter 8 silinder segaris yang diadaptasi dari mobil balap Mercedes-Benz pada era tersebut. Tenaga yang dihasilkan mencapai sekitar 300 hp, angka yang sangat besar untuk ukuran tahun 1950-an.

Dengan mesin tersebut, mobil ini mampu melaju hingga kisaran 290–300 km/jam. Kecepatan ini menjadikannya sebagai salah satu mobil tercepat di dunia pada masanya, bahkan melampaui banyak kendaraan lain yang baru muncul beberapa dekade setelahnya.

Jika melihat konteks zamannya, kemampuan tersebut bisa dibilang sangat revolusioner. Pada era 1950-an, sebagian besar mobil masih memiliki kecepatan jauh di bawah angka tersebut, sehingga kehadiran mobil ini dianggap melampaui standar teknologi otomotif saat itu.

Mobil ini dikembangkan pada era 1950-an dengan basis teknologi mobil balap, bahkan mengadopsi DNA dari mobil Formula 1 Mercedes saat itu. Hal ini membuat performanya jauh melampaui mobil jalan raya biasa di zamannya.

Namun, di balik kecanggihannya, mobil ini justru tidak pernah benar-benar digunakan untuk balapan. Proyeknya terhenti setelah tragedi 1955 Le Mans disaster yang membuat Mercedes-Benz mundur dari dunia motorsport.

Nama “Uhlenhaut” sendiri diambil dari sosok Rudolf Uhlenhaut, insinyur di balik pengembangan mobil ini. Menariknya, ia diketahui sempat menggunakan kendaraan tersebut sebagai mobil pribadi.

Dari sisi produksi, mobil ini tergolong sangat eksklusif karena hanya dibuat sebanyak dua unit di dunia. Kelangkaan inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor utama yang mendorong nilainya melambung tinggi.

Pada tahun 2022, salah satu unitnya terjual dalam lelang privat dengan harga mencapai sekitar €135 juta atau setara Rp2,3 triliun. Angka tersebut menjadikannya sebagai salah satu mobil termahal yang pernah terjual.

Harga tersebut tidak hanya mencerminkan performa, tetapi juga nilai sejarah dan eksklusivitas yang melekat pada mobil ini. Kini, satu unit masih disimpan oleh Mercedes-Benz, sementara unit lainnya dimiliki kolektor pribadi.

Dengan latar belakang tersebut, mobil ini tidak lagi sekadar alat transportasi, melainkan simbol perpaduan antara teknologi, sejarah, dan nilai seni dalam dunia otomotif.