Sekar Anindyah Lamase | M. Fuad S.T.
Pemain Timnas Qatar berselebrasi merayakan keberhasilan mereka ke putaran final Piala Dunia 2026 (dok. FIFA)
M. Fuad S.T.

Negara Petro Dollar asal kawasan Timur Tengah, Qatar kembali mengukirkan sejarah dengan menjadi kontestan Piala Dunia edisi tahun 2026. Pasca melakoni perjalanan yang berliku hingga ronde keempat babak kualifikasi, tim berjuluk The Maroon tersebut sukses menjadi salah satu wakil Benua Asia.

Namun sayangnya, meskipun Timnas Qatar berhasil melakukan back to back ke event sepak bola paling akbar sejagat raya tersebut, saya masih belum sepenuhnya yakin dengan kualitas dari tim yang dilatih oleh Julen Lopetegui tersebut.

Tentu saja alasannya bukan karena saya masih merasa sakit hati dengan nasib Timnas Indonesia yang selalu saja dirugikan ketika berjumpa dengan tim asal Asia Barat yang satu ini, namun lebih karena saya melihat Timnas Qatar sejatinya belum memiliki "kelayakan utuh" untuk bisa bertarung di level tertinggi gelaran empat tahunan itu.

Dalam sejarahnya, Timnas Qatar sendiri memang sudah dua kali tampil di putaran final Piala Dunia. Berdasarkan laman history dari FIFA, Timnas Qatar kali pertama bermain di Piala Dunia FIFA pada tahun 2022 lalu dan yang kedua pada edisi 2026 ini.

Bagi para penggemar sepak bola, melihat sebuah negara mampu lolos dua kali berturut-turut ke putaran final turnamen sekelas Piala Dunia sudah pasti akan menimbulkan decak kagum. Pasalnya, untuk bisa menembus turnamen milik induk sepak bola dunia tersebut sangatlah tidak mudah, dan hanya negara dengan kualitas sepak bola terbaik saja yang mampu untuk melakukannya. 

Akan tetapi, rekor dua kali kelolosan Qatar ke putaran final Piala Dunia FIFA itu sama sekali tak membuat saya terpukau. Karena, dalam pandangan saya pribadi, kelolosan Qatar dalam dua edisi Piala Dunia tersebut cenderung terlalu dipaksakan, sehingga kelayakan mereka untuk bertarung di level tertinggi masih sangat perlu untuk dipertanyakan.

Back to Back Tampil di Piala Dunia Tak Menjamin Kualitas Qatar Sudah Mendunia

Sekarang, mari kita sedikit kilas balik terkait tiket putaran final Piala Dunia yang dimiliki oleh Qatar dalam dua edisi terakhir. Kita semua pasti sudah mengetahui, keikutsertaan Qatar di Piala Dunia 2022 kemarin karena mereka mendapatkan giveaway dari FIFA yang menunjuknya sebagai tuan rumah.

Itu artinya, secara kualitas permainan, Qatar tak sepenuhnya layak untuk tampil di turnamen akbar tersebut, mengingat mereka mendapatkan kartu pass dari sang pemilik turnamen langsung. Maka tak mengherankan jika pada akhirnya mereka mendapatkan predikat sebagai wakil terburuk benua Asia di turnamen kala itu.

Alih-alih disamakan dengan Iran dan Arab Saudi yang sukses membuat kejutan serta mencatatkan kemenangan atau bahkan Jepang, Korea Selatan dan Australia yang melaju hingga fase gugur, pada penampilannya di edisi 2022 lalu, Qatar sama sekali tak mampu meraih barang satu poin pun.

Meskipun tampil di depan publik sendiri, Timnas Qatar tak mampu memberikan perlawanan setimpal kepada Senegal, Ekuador dan Belanda yang menjadi rival mereka di Grup A. Alhasil, meskipun berstatus sebagai tuan rumah, Timnas Qatar tetap menjadi bulan-bulanan para lawannya dan mengakhiri perjalanan mereka sebagai juru kunci klasemen tanpa raihan poin.

Tak berbeda jauh dengan empat tahun lalu, kelolosan Qatar ke Piala Dunia edisi 2026 ini pun tak lepas dari iringan kelayakan semu. Bagaimana tidak, sedari awal perjalanan memperebutkan tiket turnamen, Qatar selalu saja mendapatkan keistimewaan dari AFC atau bahkan FIFA sendiri.

Okelah, kita tentu sepakat bahwa Qatar memang layak untuk lolos dari ronde kedua babak kualifikasi zona Asia karena "hanya" berhadapan dengan Kuwait, India dan Afghanistan yang secara kualitas tak lebih bagus dari mereka. Namun, ketika memasuki ronde ketiga dan keempat, jalan yang dilalui oleh Qatar ini terlihat semakin dipermudah oleh AFC maupun FIFA.

Qatar yang sempat tertatih-tatih di awal persaingan, kerap kali mendapatkan bantuan dari pengadil dalam setiap pertandingan yang dijalaninya. Hingga pada puncaknya, Qatar yang harus bertarung hingga ronde keempat babak kualifikasi, mendapatkan bantuan dari AFC yang dengan entengnya mengubah aturan terkait negara yang berhak menjadi tuan rumah.

Dengan alasan yang terkesan mengada-ada AFC memberikan beragam alasan dengan satu tujuan, yakni membenarkan Qatar menjadi salah satu tuan rumah ronde keempat kualifikasi.

Hasilnya? Yah, tentu saja kita ketahui bersama. Dengan keuntungan sebagai tuan rumah, dan waktu recovery yang lebih lama ketimbang Uni Emirat Arab dan Oman yang menjadi pesaingnya di Grup A ronde keempat kemarin, Qatar akhirnya berhasil mengamankan satu slot tempat di putaran final gelaran.

Perjalanan Qatar menjadi wakil Benua Asia di Piala Dunia 2026 ini sejatinya belum sepenuhnya membuktikan bahwa mereka memang layak untuk berada di sana. Kemudahan-kemudahan yang didapatkan ketika mengejar tiket turnamen ini, bukan tak mungkin akan membuat mereka tak siap untuk menghadapi persaingan di level tertinggi. Buruknya lagi, ketidaksiapan itu bahkan berpotensi untuk membuat mereka mengulang capaian buruk empat tahun lalu di kandang sendiri.

Kira-kira, bagaimana nih perjalanan Timnas Qatar di Piala Dunia 2026 ini? Sepertinya patut untuk kita nantikan bersama.