The Hawk adalah serial komedi Netflix yang dirilis pada 16 Juli 2026, terdiri dari 10 episode, dan dibintangi Will Ferrell sebagai Lonnie The Hawk Hawkins. Dibuat oleh Will Ferrell bersama Harper Steele dan Chris Henchy, serial ini mengikuti perjalanan seorang pegolf legendaris yang telah melewati masa jayanya. Lonnie, juara utama tahun 2004, kini berjuang merebut kembali kejayaan dengan mengejar Career Grand Slam di usia senja karirnya. Ia menolak mengakui bahwa tubuhnya sudah tidak seprima dulu, sementara keluarganya terpaksa ikut terseret dalam kekacauan ambisinya.
Aksi Lucu Pegolf Veteran demi Merebut Trofi Juara
Serial ini menggabungkan elemen olahraga, keluarga, dan humor khas Ferrell yang berlebihan. Lonnie digambarkan sebagai pria egois, narcisistik, dan penuh semangat berlebih, yang sering kali membuatnya terlihat konyol tapi terkadang menyentuh. Pemeran pendukung termasuk Molly Shannon sebagai mantan istri Stacy, Jimmy Tatro sebagai putra Lance yang sedang naik daun, Luke Wilson sebagai rival Golden Fisk, serta Fortune Feimster sebagai caddy baru yang eksentrik. Pendekatan cerita mirip dengan film-film Ferrell seperti Talladega Nights, dengan satire terhadap dunia golf yang kaku dan kontras dengan kepribadian Lonnie yang chaos.
Overall, The Hawk kupuji karena chemistry antar pemainnya dan visual golf yang menyenangkan, tapi kritikku mungkin pada humor yang dated, berulang, dan kurang tajam dibanding karya Ferrell sebelumnya. Di sisi lain, kurasa serial ini gagal menangkap esensi komedi absurd ala Ferrell, tapi aku sangat menikmati momen-momen over-the-top sebagai hiburan ringannya kok, Sobat Yoursay. Di Indonesia, serial ini langsung tersedia untuk streaming di Netflix sejak tanggal rilis globalnya, 16 Juli 2026, tanpa penundaan regional. Pengguna Netflix di wilayah Indonesia dapat menonton semua episode sekaligus mulai saat itu.
Review Serial The Hawk
Salah satu kekuatan serial ini adalah eksplorasi dinamika keluarga yang rumit. Lonnie yang selfish sering bertabrakan dengan Lance, yang membangun karirnya sendiri sambil membawa trauma ayahnya yang absen. Molly Shannon memberikan nuansa emosional sebagai Stacy yang lelah dengan sikap mantan suaminya. Adegan-adegan di lapangan golf dirancang dengan baik, menampilkan kompetisi sengit yang penuh kejutan, termasuk persaingan ayah dan anak di U.S. Open. Meski demikian, serial ini kadang terasa meandering di tengah episode, dengan subplot yang tidak selalu mendukung narasi utama.
Adegan paling kocak dan seru sering muncul dari sifat Lonnie yang tak tahu malu. Salah satu highlight adalah saat Lonnie bermain golf sambil menyanyikan dan menari The Thong Song, lalu tiba-tiba memperlihatkan bahwa ia memakai thong di bawah celana golfnya. Adegan ini penuh slapstick klasik Ferrell: ia berteriak, menari absurd, dan menyebabkan kekacauan di lapangan yang seharusnya formal. Alhasil, aku pun tertawa lepas melihat reaksi pemain lain yang shock, sementara Lonnie tetap percaya diri tinggi.
Adegan lain yang tak kalah lucu adalah ketika Lonnie merekrut caddy baru (Fortune Feimster). Mereka berdua, dengan gaya berpakaian norak—Lonnie dengan celana motif mencolok dan caddynya dengan tracksuit kulit—mengganggu suasana country club elite. Ada juga momen di mana Lonnie mencuri jam tangan dari mayat teman dekatnya karena butuh keberuntungan, yang meski dark, disajikan dengan timing komedi yang membuatku geleng-geleng kepala sambil tertawa. Humor fisik Ferrell, seperti jatuh, menabrak, atau berteriak di saat tak tepat, menjadi andalan yang reliably entertaining bagi fansnya.
Di balik komedi, serial ini memiliki momen dramatis yang cukup kuat, terutama di klimaks kompetisi. Adegan paling emosional terjadi selama final U.S. Open, di mana Lonnie bersaing langsung melawan putranya, Lance, dan rival lama Golden Fisk. Ketegangan ayah dan anak mencapai puncak: Lonnie yang egois awalnya melihat kesuksesan Lance sebagai ancaman, tapi perlahan menyadari dampak absennya sebagai ayah. Perseteruan mereka di area pertandingan, di bawah tingginya tekanan turnamen, begitu emosional—memperlihatkan kemarahan sekaligus kerapuhan. Adegan ini mampu mengangkat tema penebusan serta ikatan keluarga dengan apik, tanpa sedikit pun mengurangi unsur komedinya.
Momen dramatis lain termasuk reaksi Lonnie terhadap kematian caddy lamanya, yang awalnya ia abaikan demi ambisi, tapi kemudian menjadi titik balik introspeksi (meski singkat). Interaksi dengan mantan istri Stacy juga memberikan kedalaman, menunjukkan betapa sikapnya telah merusak pernikahan mereka. Meski bukan drama murni, adegan-adegan ini memberikan kontras yang membuat serial lebih dari sekadar komedi slapstick.
Secara keseluruhan, The Hawk adalah hiburan yang solid untuk penggemar Will Ferrell dan olahraga golf. Dengan durasi 10 episode yang ringkas, ia cocok ditonton dalam satu akhir pekan. Kekurangannya adalah humor yang terasa repetitif dan kurang inovatif, tapi pesan tentang ketekunan, keluarga, dan menerima kenyataan usia disampaikan dengan cukup baik. Bagi penonton Indonesia yang menyukai komedi Amerika ringan, serial ini layak ditonton di Netflix sekarang.
Baca Juga
-
Review Film Office Romance: Tontonan Ringan dengan Pesan Karier dan Cinta
-
Review Film The Dink: Transisi Karir Atlet Muda hingga Menjadi Pelatih
-
Review Serial Lucky: Pelarian Berdarah Anya Taylor-Joy dan Misteri 10 Juta Dolar
-
Review Ride or Die: Sajikan Plot Twist Menarik tentang Pembunuh Bayaran
-
Kenapa Komunitas Beatbox di Indonesia Bikin Ketagihan? Ini Cerita di Baliknya!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Juno: Kisah Kehamilan Remaja yang Hangat dan Penuh Pelajaran Hidup
-
Magic Cat Leave the Trees, Please: Puisi Indah untuk Menyelamatkan Bumi
-
Waktu untuk Tidak Menikah dan Alasan yang Menyertainya
-
Puisi Pahlawan dan Tikus: Menyelami Kritik Sosial yang Sarat Spiritualitas
-
Review Agent Kim Reactivated: Aksi Brutal yang Dibalut Kisah Keluarga
Terkini
-
Cegah Kusam! Ini 5 Night Cream Vitamin C untuk Kulit Tampak Cerah Merata
-
Elegan! Ini 7 Rekomendasi Merk Handuk yang Cocok Jadi Souvenir dan Hampers
-
Gaji Manajer Kopdes Ditanggung APBN: Di Mana Letak Skala Prioritas Negara?
-
4 Gaya OOTD Y2K Chic ala Juun Hearts2Hearts, Manis tapi Tetap Edgy!
-
Review Frankenstein: Kisah Tragis dan Ambisi Manusia yang Melawan Kematian