Hayuning Ratri Hapsari | Agus Siswanto
Lionel Messi dalam kawalan ketat para pemain Mesir dalam laga sengit tadi malam, Selasa (7/7) (instagram.com/theaseanfootball)
Agus Siswanto

Drama seru kembali terjadi dalam laga perebutan tiket babak 8 besar antara Argentina melawan Mesir tadi malam, Selasa (7/7). Argentina secara dramatis mengalahkan Mesir dengan skor tipis 3-2 lewat gol telat Enzo Fernandez di menit ke-90+3.

Argentina yang sempat ketinggalan 2 gol dari Mesir, secara mengejutkan mampu melakukan comeback dan membalik keadaan dengan skor 3-2. Lagi-lagi Lionel Messi tampil sebagai penyihir bagi Argentina dengan gol penyeimbang pada menit ke-89.

Berbaliknya keadaan dengan kemenangan Argentina secara dramatis ini justru melahirkan drama baru pascapertandingan. Drama tersebut berupa kecaman pelatih Mesir, Hossam Hassan terhadap kepemimpinan wasit Lexetier.

"Kami telah dicurangi secara tidak adil hari ini, kami telah menderita ketidakadilan," kata Hossam Hassan dilansir dari suara.com, Rabu (8/7).

Kemarahan Hossam Hassan bukannya tanpa alasan. Kepemimpinan wasit yang dulu pernah merugikan Indonesia ini dalam play off timnas Indonesia lawan Guinnea.

Dalam pandangan pelatih Mesir ini, setidaknya ada 3 momen yang merugikan Mesir selama pertandingan berjalan. Kerugian pertama terjadi ketika wasit menganulir gol Mostafa Zico, setelah mendapat call dari ruang VAR pada menit ke-58. Dalam kasus ini VAR melihat pelanggaran yang terjadi atas Lisandro Martinez sebelum gol terjadi.

Kemarahan berikutnya terjadi dengan adanya 2 potensi tendangan penalti yang seharusnya didapatkan Mesir. Insiden berupa tarikan jersey pada pemain Mesir, Hamdy Fathy dan pelanggaran terhadap Mohammad Salah.

Hossam Hassan beranggapan tindakan tidak adil sang wasit yang membuat Mesir harus kalah dari Argentina. Apalagi gol kemenangan Argentina lahir di babak injury time. Artinya, jika hadiah penalti tersebut diberikan, Argentina dipastikan tergusur dari babak 8 besar, dan Mesir yang melaju ke babak 8 besar ini.

Lebih jauh lagi, Hossam Hassan pun menuduh adanya konspirasi yang menghendaki Lionel Messi dan Argentina tetap tampil di Piala Dunia 2026 dan jika mungkin menjadi juara kembali.

"Mungkin mereka ingin mempertahankan juara dunia di kompetisi ini, mungkin mereka ingin Messi tetap ikut serta dalam persaingan," kata Hossam Hassan.

Lepas dari drama yang terjadi, harus diakui Argentina dalam laga tadi malam seolah menyajikan sebuah keajaiban yang luar biasa. Diawali dengan tertinggal 2 gol dari Mesir, Argentina mampu comeback dan menutup laga dengan kemenangan 3-2.

Yang lebih hebat lagi, 3 gol tersebut lahir hanya dalam waktu 14 menit saja. Gol pertama lahir dari kaki Romero pada menit ke-79, Lionel Messi menit ke-84, dan Enzo Fernandes pada menit ke-90+2. Messi mampu menebus kesalahannya setelah penaltinya mampu digagalkan kiper Mesir.

Dalam pertandingan seru tersebut, sebenarnya Argentina mampu tampil dominan atas Mesir. Namun yang menarik justru Mesirlah yang mampu mencetak 2 gol dan memimpin sebelum dibalas Argentina dengan 3 gol.

Serunya pertandingan tersebut pada akhirnya membuka mata dunia betapa semakin tipisnya jarak antara negara-negara di dunia ini dalam sepak bola. Tim sekelas Argentina yang bertabur bintang, pada kenyataannya harus mati-matian untuk meraih kemenangan.

Dalam kasus-kasus sebelumnya, publik menyaksikan Brazil harus meratapi kegagalannya. Norwegia yang tidak  masuk radar siapa pun justru mampu menyingkirkan Brazil yang full bintang. Pemain sekelas Neymar sampai harus menangis di akhir laga. Gol yang dibuatnya tidak mampu membantu Brazil lolos ke babak 8 besar.

Drama lebih miris muncul di babak 16 besar. Jerman dan Belanda, tim yang tidak perlu diragukan kebintangannya pun harus tersingkir.

Kini di babak 8 besar, Argentina tampil sebagai satu-satunya wakil Amerika Selatan yang masih bertahan. Hadangan pertama bagi Argentina akan datang dari Swiss yang pagi tadi mengalahkan Kolombia lewat adu penalti. Jika semua baik-baik saja, bukan tidak mungkin mereka tampil ke babak final mengulang edisi Piala Dunia sebelumnya sekaligus mempertahankan gelar.