Sekar Anindyah Lamase | Angelia Cipta RN
Potret Jude Bellingham, Bukayo Saka dan Reece James saat bobol gawang Prancis di perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 (Yahoo Sports)
Angelia Cipta RN

Perebutan tempat ketiga kerap dianggap sebagai laga pelipur lara bagi dua tim yang gagal melangkah ke final. Namun, anggapan itu runtuh di Stadium Miami, Minggu (19/7/2026) 04.00 WIB.

Inggris dan Prancis justru menyuguhkan salah satu pertandingan paling menghibur di Piala Dunia 2026 dengan total 10 gol. Inggris akhirnya keluar sebagai pemenang dengan skor 6-4 dan menutup turnamen sebagai peraih peringkat ketiga.

Sesaat setelah peluit panjang berbunyi, ribuan pendukung Inggris kompak menyanyikan Wonderwall milik Oasis. Lagu yang identik dengan budaya sepak bola Inggris itu menggema di seisi stadion, menjadi penutup manis bagi perjalanan The Three Lions yang sempat dihantui kegagalan di semifinal.

Mereka memang gagal mencapai partai puncak, tetapi berhasil mengakhiri turnamen dengan kepala tegak melalui penampilan yang menunjukkan karakter, keberanian, dan daya juang luar biasa.

Sorotan terbesar tentu tertuju kepada Bukayo Saka. Winger Arsenal itu mencetak hattrick yang menjadi pembeda dalam laga penuh drama tersebut.

Namun, kemenangan Inggris sejatinya merupakan hasil kerja kolektif, dimulai dari agresivitas sejak menit pertama hingga ketenangan mereka menghadapi kebangkitan Prancis di babak kedua.

Babak Pertama Milik Inggris, Prancis Dibuat Tak Berkutik Dengan Skor Telak 4-0

Inggris langsung menunjukkan niat menyerang sejak peluit awal. Baru tiga menit pertandingan berjalan, Declan Rice mencuri bola di area tengah, menggiringnya hingga mendekati kotak penalti, lalu melepaskan tendangan keras yang menghujam sudut gawang Mike Maignan. Gol cepat itu mengubah ritme pertandingan dan membuat Prancis dipaksa keluar dari rencana permainannya.

Keunggulan tersebut membuat Inggris semakin percaya diri. Pressing tinggi yang diterapkan membuat lini tengah Prancis kesulitan mengembangkan permainan. Warren Zaïre-Emery dan Adrien Rabiot berkali-kali kehilangan bola karena tekanan Rice dan rekan-rekannya.

Dominasi itu berlanjut pada menit ke-18. Berawal dari sepak pojok yang kembali dieksekusi Rice, Ezri Konsa memenangi duel udara dan menanduk bola ke gawang Maignan. Skor berubah menjadi 2-0, sekaligus memperlihatkan betapa efektifnya Inggris memanfaatkan bola mati.

Prancis mencoba bangkit melalui kreativitas Michael Olise dan Rayan Cherki, tetapi koordinasi lini belakang Inggris tampil disiplin. Dean Henderson nyaris tidak mendapat ancaman berarti sepanjang babak pertama.

Menjelang turun minum, panggung benar-benar menjadi milik Bukayo Saka. Pada menit ke-37, ia menyelesaikan kerja sama apik dengan Marcus Rashford melalui penyelesaian dingin yang membuat Maignan kembali memungut bola dari gawangnya.

Belum selesai sampai di situ. Pada masa tambahan waktu babak pertama, Eberechi Eze mengirim umpan matang yang kembali dimaksimalkan Saka lewat sepakan menyilang ke tiang jauh.

Inggris menutup babak pertama dengan keunggulan telak 4-0, sementara Prancis tampak kehilangan arah.

Prancis Bangkit di Babak Kedua, tetapi Hattrick Bukayo Saka Menjadi Penentu

Didier Deschamps merespons cepat dengan melakukan empat pergantian pemain saat jeda. Dayot Upamecano, Lucas Digne, Bradley Barcola, dan Ousmane Dembele dimasukkan untuk mengubah dinamika pertandingan.

Perubahan itu langsung membuahkan hasil. Baru tiga menit babak kedua berjalan, Kylian Mbappe memperkecil ketertinggalan setelah memanfaatkan umpan Michael Olise. Gol tersebut menjadi suntikan semangat bagi Les Bleus.

Enam menit kemudian, Bradley Barcola ikut mencatatkan namanya di papan skor setelah menerima umpan terobosan Mbappe. Dalam waktu singkat, skor berubah menjadi 4-2 dan momentum perlahan berpindah ke kubu Prancis.

Tekanan terus meningkat hingga Mbappe kembali mencetak gol pada menit ke-66 melalui kombinasi satu-dua yang rapi bersama Olise. Dari situ, pertandingan berubah menjadi duel mental. Inggris yang sebelumnya begitu dominan mulai tertekan, sementara Prancis semakin percaya diri mengejar ketertinggalan.

Beberapa peluang emas sempat tercipta. Michael Olise nyaris menyamakan kedudukan, tetapi penyelesaiannya masih melebar tipis. Momentum itu menjadi titik balik pertandingan.

Pelatih Inggris melakukan keputusan penting dengan memasukkan Jude Bellingham dan Elliot Anderson untuk mengembalikan keseimbangan lini tengah. Pergantian tersebut terbukti efektif dalam meredam dominasi Prancis.

Puncak pertandingan terjadi pada menit ke-84 ketika Djed Spence dijatuhkan di kotak penalti. Bukayo Saka maju sebagai eksekutor. Dengan ketenangan luar biasa, ia mengecoh Mike Maignan dan mencetak gol ketiganya malam itu. Hattrick tersebut tidak hanya mengembalikan jarak dua gol, tetapi juga menjadi pukulan telak bagi semangat kebangkitan Prancis.

Meski Ousmane Dembele sempat memperkecil skor menjadi 5-4 pada masa injury time, Inggris memastikan kemenangan melalui serangan balik cepat yang diselesaikan Jude Bellingham. Gol tersebut menjadi penutup sempurna dalam pertandingan yang penuh emosi.

Lagu Oasis 'Wonderwall' Menjadi Simbol Kebangkitan Inggris

Peringkat ketiga mungkin bukan target utama Inggris ketika datang ke Piala Dunia 2026. Namun cara mereka mengakhiri turnamen menunjukkan bahwa perjalanan ini tetap memiliki arti besar.

Yang paling mencolok adalah penampilan Bukayo Saka. Selama bertahun-tahun, ia berkembang menjadi salah satu pemain paling konsisten di Inggris.

Hattrick ke gawang Prancis menjadi bukti bahwa Saka kini bukan hanya pemain pelengkap, melainkan sosok yang mampu menentukan hasil pertandingan di level tertinggi.

Declan Rice juga layak mendapat pujian. Selain mencetak gol pembuka, ia mengendalikan tempo permainan dan memberikan assist dari situasi bola mati. Kehadirannya membuat lini tengah Inggris tetap kompetitif meski mendapat tekanan hebat pada babak kedua.

Di sisi lain, Prancis menunjukkan karakter luar biasa dengan hampir membalikkan keadaan setelah tertinggal empat gol. Mbappe kembali membuktikan kualitasnya melalui dua gol dan satu assist, sementara Barcola dan Dembele memberi dimensi baru pada serangan Les Bleus.

Sayangnya, buruknya organisasi pertahanan pada babak pertama menjadi harga mahal yang tidak mampu mereka tebus. Saat lagu Wonderwall bergema dari tribun usai pertandingan, suasana terasa lebih dari sekadar perayaan peringkat ketiga. Lagu itu menjadi simbol kebangkitan sebuah tim yang memilih bangkit setelah kegagalan, bukan larut dalam penyesalan.

Inggris memang tidak membawa pulang trofi Piala Dunia. Namun, mereka meninggalkan Amerika Serikat dengan keyakinan baru bahwa fondasi generasi berikutnya sudah terbentuk.

Dengan pemain-pemain seperti Bukayo Saka, Jude Bellingham, Declan Rice, dan Marcus Rashford yang masih menjadi tulang punggung, Three Lions memiliki alasan kuat untuk menatap turnamen besar berikutnya dengan optimisme.

Di atas segalanya, perebutan tempat ketiga yang sering dipandang sebelah mata justru berubah menjadi salah satu pertandingan paling spektakuler di Piala Dunia 2026.

Drama 10 gol, hattrick Bukayo Saka, dan gema lagu Oasis 'Wonderwall' memastikan laga ini akan dikenang sebagai penutup yang berkesan bagi perjalanan Inggris di turnamen tersebut.