Terus terang, saya bukan seorang Barcelonista. Saya justru seorang Madridista. Sejak dulu saya selalu berdebar setiap kali Real Madrid bertemu Barcelona dalam laga El Clásico. Mungkin karena itu pula saya lebih sering berharap Real Madrid keluar sebagai pemenang.
Akan tetapi, ada satu hal yang sejak lama membuat saya penasaran. Mengapa Barcelona mampu melahirkan sebuah filosofi permainan yang begitu kuat hingga tidak hanya mengubah wajah klub tersebut, tetapi juga ikut membentuk identitas tim nasional Spanyol?
Pertanyaan itu kembali muncul ketika Spanyol memastikan diri lolos ke final Piala Dunia 2026. Banyak orang kembali membicarakan tiki-taka. Sebenarnya, dulu saya juga mengira tiki-taka adalah ciptaan Pep Guardiola. Akan tetapi, semakin banyak membaca sejarah Barcelona, saya justru semakin yakin bahwa Guardiola bukanlah titik awalnya. Ia memang menyempurnakannya, tetapi fondasinya sudah dibangun jauh sebelumnya.
Kalau tidak salah, semuanya bermula dari Total Football yang dikembangkan Rinus Michels di Ajax Amsterdam dan tim nasional Belanda. Filosofi tersebut kemudian dibawa Johan Cruyff ke Barcelona ketika ia menjadi pelatih di sana.
Menurut saya, Total Football bukan sekadar membuat semua pemain ikut menyerang dan semua pemain ikut bertahan. Lebih dari itu, sepak bola dipandang sebagai kerja kolektif. Ketika bola berada dalam penguasaan tim, hampir semua pemain bergerak membuka ruang dan ikut membangun serangan. Sebaliknya, ketika bola direbut lawan, hampir semua pemain juga segera bergerak untuk menutup ruang dan merebutnya kembali. Menyerang dan bertahan seolah menjadi dua sisi dari pekerjaan yang sama.
Terus terang, saya cukup menyukai cara pandang seperti ini. Sepak bola tidak lagi bergantung kepada satu atau dua pemain bintang. Sebagus apa pun seorang penyerang, ia tetap membutuhkan rekan-rekannya. Demikian pula seorang bek. Ia tidak mungkin terus-menerus bertahan sendirian apabila pemain depan tidak ikut membantu ketika kehilangan bola.
Akan tetapi, menurut saya, setiap filosofi selalu memiliki tantangannya sendiri. Ketika terlalu banyak pemain bergerak menyerang, ruang kosong di belakang menjadi lebih terbuka. Kalau lawan mampu merebut bola dan melakukan serangan balik dengan cepat, situasinya bisa menjadi berbahaya. Karena itu, Total Football menuntut kedisiplinan yang sangat tinggi. Tidak cukup hanya pandai menyerang, tetapi juga harus cepat berubah menjadi tim yang bertahan ketika kehilangan bola.
Sampai di sini saya justru mulai merasa bahwa Barcelona tidak hanya dibentuk oleh Belanda.
Selama bertahun-tahun, Barcelona juga menjadi rumah bagi banyak pemain Amerika Latin. Romário, Ronaldo Luiz Nazário, Rivaldo, Ronaldinho, Lionel Messi, Luis Suárez, hingga Neymar datang pada generasi yang berbeda-beda. Menurut saya, mereka membawa sesuatu yang mungkin tidak sepenuhnya dimiliki Total Football, yaitu keberanian melakukan improvisasi.
Ada kalanya sebuah pertandingan tidak bisa dimenangkan hanya dengan organisasi permainan. Ada saat-saat ketika sebuah tim membutuhkan pemain yang berani melakukan sesuatu di luar dugaan. Satu gerakan kecil, satu dribel, satu umpan yang tidak terpikirkan pemain lain, bahkan kadang hanya satu sentuhan saja sudah cukup mengubah jalannya pertandingan.
Sejujurnya, ketika membaca sejarah Barcelona, saya mulai melihat seolah ada dua tradisi sepak bola yang bertemu di sana. Di satu sisi ada warisan Total Football Belanda yang sangat menekankan organisasi permainan. Di sisi lain ada tradisi sepak bola Amerika Latin yang memberi ruang lebih besar bagi kreativitas dan improvisasi individu.
Kalau boleh saya meminjam istilah Georg Wilhelm Friedrich Hegel, mungkin proses itu dapat dibaca sebagai sebuah dialektika.
Total Football menjadi tesis.
Tradisi kreativitas para pemain Amerika Latin menjadi antitesis.
Menurut saya, keduanya tidak saling meniadakan. Justru keduanya saling memperkaya. Dalam filsafat Hegel, proses seperti ini dikenal dengan istilah Aufhebung, yakni mempertahankan unsur-unsur terbaik dari dua gagasan yang berbeda, kemudian mengangkatnya menjadi bentuk baru yang lebih tinggi.
Mungkin sintesis itulah yang kemudian kita kenal sebagai tiki-taka.
Di sinilah saya kemudian tertarik kepada sosok Pep Guardiola.
Menurut saya, Guardiola adalah orang yang mengalami hampir seluruh perjalanan sejarah tersebut. Ia belajar langsung kepada Johan Cruyff ketika masih menjadi pemain Barcelona. Ia pernah bermain bersama Romário, Ronaldo Nazário, dan Rivaldo. Setelah pensiun, ia menyaksikan bagaimana Frank Rijkaard membangun kembali Barcelona melalui Ronaldinho. Tidak lama kemudian, Guardiola menjadi pelatih Lionel Messi, pemain yang menurut banyak orang merupakan pesepak bola terbaik sepanjang masa.
Saya tidak tahu apakah Guardiola sendiri pernah memikirkan semua ini atau tidak. Akan tetapi, sulit rasanya mengabaikan kenyataan bahwa ia mengalami sendiri hampir semua fase penting dalam perkembangan filosofi sepak bola Barcelona. Mungkin karena itulah ia mampu menyusun sebuah tim yang sangat disiplin secara taktik, tetapi pada saat yang sama tetap memberi ruang bagi kreativitas pemain-pemainnya.
Kalau kemudian Spanyol mampu mendominasi sepak bola dunia melalui Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012, menurut saya hal itu bukanlah sebuah kebetulan. Sebagian besar pemain inti mereka memang berasal dari Barcelona. Mereka bukan hanya membawa kemampuan individu, tetapi juga membawa cara berpikir yang sama tentang sepak bola.
Kini Spanyol kembali berada di final Piala Dunia.
Entah nanti menjadi juara atau tidak, saya kira satu hal tetap tidak berubah. Tiki-taka mungkin sudah berkembang. Sepak bola modern juga jauh lebih cepat dibandingkan lima belas tahun lalu. Akan tetapi, selama sepak bola masih memandang kerja sama tim sebagai sesuatu yang lebih penting daripada sekadar kemampuan individu, saya rasa ruh tiki-taka akan tetap hidup, meskipun bentuknya tidak lagi persis sama seperti pada era Xavi, Iniesta, dan Lionel Messi.
Terus terang, saya mungkin tidak akan pernah menjadi seorang Barcelonista. El Clásico tetap akan menjadi pertandingan yang selalu saya tunggu dengan harapan Real Madrid keluar sebagai pemenang. Akan tetapi, sebagai penikmat sepak bola, saya juga tidak bisa menutup mata bahwa Barcelona telah memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap perkembangan sepak bola modern. Bagi saya, itulah yang membuat tiki-taka selalu menarik untuk dibicarakan, bahkan ketika generasi pemainnya sudah berganti.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Resmi! Madonna, BTS, hingga Justin Bieber Bakal Guncang Panggung Final Piala Dunia 2026
-
Spanyol Siapkan Senjata Taktik Fleksibel demi Tumbangkan Argentina di Final Piala Dunia 2026
-
Terancam Sanksi FIFA, Argentina Diinvestigasi usai Selebrasi Kontroversi
-
Jika Argentina Juara, Benarkah Dinasti Baru Sepak Bola Dunia Resmi Dimulai?
-
Spanyol Punya Cara Sendiri Redam Lionel Messi, Luis de la Fuente Tolak Man-to-Man Marking
News
-
Kemenhub Percepat Dekarbonisasi, LINTAS Jadi Ruang Diskusi Transportasi Berkelanjutan
-
Beban Ganda Perempuan Kepala Keluarga: Bangun Jam Lima pagi, Malam Masih Menghitung Setoran
-
Sudah Saatnya Night Eating Syndrome Menjadi Perhatian Nasional
-
Realita Generasi Bertahan: Gaji Jalan di Tempat, Kebutuhan Lari Kencang
-
Teringat Rekan Kerja Cantik yang Selalu Menunduk: Pahitnya Menjadi Target Catcalling
Terkini
-
Lingkaran Pertemanan Mengecil? Jangan Panik, Kamu Justru Sedang Bertumbuh
-
Resmi! Madonna, BTS, hingga Justin Bieber Bakal Guncang Panggung Final Piala Dunia 2026
-
Jangan Asal Charger! 4 Kebiasaan Ini Bikin Baterai iPhone Cepat Rusak
-
APBN Bukan Dompet Pejabat: Bijak Sebelum Menghamburkan Anggaran
-
Dosa Masa Lalu yang Tak Pernah Mati: Ulasan Mendalam Film Lastri Arwah Kembang Desa