Sekar Anindyah Lamase | M. Fuad S.T.
Bintang Timnas Inggris, Declan Rice berselebrasi pada pertandingan perebutan tempat ketiga melawan Prancis di Piala Dunia 2026 (dok. FIFA)
M. Fuad S.T.

Bagi Timnas Inggris, ternyata tak perlu menjadi juara Piala Dunia untuk bisa menciptakan sebuah sejarah besar. Kemenangan 6-4 The Three Lions atas Prancis yang berujung label tim terbaik ketiga di turnamen, ternyata sudah cukup untuk membuat mereka menciptakan sejarah besar di Piala Dunia.

Tak bisa dipungkiri, pertandingan antara Inggris melawan Prancis yang berlangsung di Miami Stadium, Ahad (19/4) dini hari waktu Indonesia, menjadi salah satu pertarungan terbaik di pentas Piala Dunia 2026 ini. Selain diwarnai dengan hujan gol --di mana secara total mencapai sepuluh lesakan--, pertarungan dua raksasa sepak bola dunia ini juga dihiasi dengan aksi pamer kebolehan para pemain bintang dunia.

Di sepanjang laga berjalan, kita sebagai penikmat sepak bola dunia seolah disuguhi dengan aksi pamer kualitas para pemain di lapangan. Bahkan, jika kita analisis timeline pertandingan, seluruh garis waktu di laga tersebut hampir semua bagiannya dihiasi dengan dentuman gol. Tak hanya di pertengahan laga, sepuluh gol yang tercipta di pertarungan dua raksasa itu terbagi rata sedari menit awal pertandingan berjalan, hingga detik terakhir sebelum pertarungan usai. Malah seperti tak ubahnya sebuah pertunjukan fun football belaka.

Peringkat Ketiga Piala Dunia Membawa Inggris Ciptakan Sejarah Besar

Patut untuk digarisbawahi, Timnas Inggris memang kali ini tak bisa pulang dengan membawa gelar juara Piala Dunia. Namun, kemenangan 6-4 yang mereka raih dari Prancis, membuat Declan Rice dan kolega pulang dengan membawa catatan sejarah besar, setidaknya untuk persepakbolaan mereka sendiri.

Memang, jika dibandingkan dengan pencapaian tertinggi yang pernah didapatkan oleh Timnas Inggris, capaian peringkat ketiga gelaran ini dapat dikatakan sebuah penurunan prestasi. Pasalnya, Inggris sendiri sudah pernah mencicipi manisnya gelar juara ketika mereka bermain di edisi 1966, yang mana saat itu dihelat di rumah sendiri.

Selebihnya, Inggris tak lagi pernah mengulangi sejarah manis itu, termasuk di turnamen kali ini. Dalam catatan FIFA, setelah rengkuhan gelar juara di edisi 1966 tersebut, prestasi terbaik The Three Lions hanyalah mencapai babak semifinal. Selain edisi 2026 ini, Inggris tercatat pernah memasuki fase semifinal gelaran ketika Piala Dunia dimainkan di Italia tahun 1990, dan di Rusia pada tahun 2018 lalu. Itu artinya, mereka memiliki dua kali kesempatan --tiga dengan tahun 2026 ini-- untuk bertarung di partai perebutan tempat ketiga.

Lantas, mengapa di gelaran kali ini Inggris saya katakan bisa menciptakan sejarah besar? Tentu saja karena hasil akhir yang mereka dapatkan di laga perebutan tempat ketiga ini. Dalam sejarah keikutsertaannya di Piala Dunia, ini adalah pertama kalinya Inggris berhasil keluar sebagai tim peringkat ketiga terbaik. 

Pada dua kesempatan sebelumnya, Inggris selalu saja tak beruntung saat mencoba untuk meraih gelar pelipur lara turnamen. Pada Piala Dunia 1990 di Italia, Inggris yang harus tersingkir dari Jerman melalui adu tendangan penalti, juga harus tunduk kepada tuan rumah Italia di perebutan tempat ketiga gegara hadiah penalti yang didapatkan oleh sang lawan.

Inggris dan Italia yang bermain imbang hingga menit ke-85 setelah Roberto Baggio dan David Andrew Platt saling berbalas gol, harus mengakhiri turnamen dengan status sebagai tim semifinalis saja setelah tuan rumah mendapatkan hadiah penalti dan dieksekusi dengan baik oleh Salvatore Schillaci di menit ke-86.

Sementara di perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2018 di Rusia, Inggris juga mengalami nasib pahit karena dikandaskan oleh Belgia. Inggris yang sejatinya di babak semifinal melawan Kroasia unggul cepat di menit ke-5 melalui gol dari Kieran Trippier, di luar dugaan justru dikandaskan oleh sang lawan melalui babak perpanjangan waktu. Gol Ivan Pensic di menit ke-68 dan Mario Mandzukic di menit ke-109, memaksa Inggris harus turun tangga bertarung di perebutan tempat ketiga saja, alih-alih bermain di partai puncak gelaran.

Dan seperti yang telah saya tuliskan di partai perebutan tempat ketiga tersebut, Inggris kembali harus terkapar setelah mereka dihantam Belgia yang saat itu berisikan para pemain generasi emas mereka. Gol Thomas Meunier di menit ke-4 dan Eden Hazard di menit ke-82, membuat Inggris kembali pulang dengan status sebagai semifinalis turnamen.

Sehingga, ketika pada akhirnya pasukan The Three Lions sukses memenangi pertarungan melawan Prancis di partai perebutan tempat ketiga ini, maka hal itu sejatinya sudah cukup untuk membuat mereka menciptakan sejarah besar. Bagaimanapun, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di gelaran Piala Dunia, Inggris berhasil merengkuh titel sebagai tim peringkat ketiga terbaik. 

Sepertinya untuk kali ini tak apa-apa ya, Inggris mendapatkan predikat sebagai tim peringkat ketiga terlebih dahulu. Siapa tahu di edisi berikutnya mereka bisa mengulang kejayaan di Piala Dunia 1966 lalu.