Johnny Chandra menjatuhkan seekor jangkrik ke dalam akuarium. Belum sempat serangga itu menyentuh permukaan air, seekor ikan bersisik keemasan melesat dari dasar akuarium.
Dalam sekejap, jangkrik itu lenyap. Beberapa arwana lain ikut bergerak perlahan, membentuk lengkungan anggun di balik kaca.
Rutinitas itu selalu ia lakukan setiap pagi. Sebelum berangkat ke pabrik bumbu dan saus miliknya di kawasan Gajah Mada, Jakarta, Johnny menyempatkan diri memberi makan ikan-ikan peliharaannya.
Ada sekitar sepuluh ekor Siluk Emas, lebih dikenal sebagai arwana, yang ia rawat. Ikan itu hidup berdampingan dengan puluhan ikan hias lainnya.
Bagi sebagian orang, arwana hanyalah ikan hias bernilai tinggi. Namun bagi Johnny, ikan-ikan itu adalah pengingat perjalanan hidup.
"Ini hasil kerja keras saya selama lebih dari 40 tahun," ujarnya.
Tak banyak orang mengetahui sisi lain kehidupan Johnny. Di balik kesibukannya memastikan kualitas bumbu dan saus yang diproduksi perusahaannya, ia menyimpan kecintaan terhadap ikan yang telah menemaninya hampir sepanjang hidup.
Ketertarikan itu bermula ketika usianya sekitar 25 tahun.
Seorang teman memperkenalkan arwana kepadanya. Saat mencari tahu lebih jauh, Johnny baru menyadari bahwa ikan tersebut berasal dari Kalimantan, tidak jauh dari Pontianak, kota tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
Ia pun penasaran. Ketika melihatnya secara langsung, Johnny langsung terpikat. Sisiknya memantulkan warna keemasan. Tubuhnya memanjang dengan gerakan yang tenang. Dua sungut di bagian mulut membuat ikan itu tampak menyerupai naga yang melayang di dalam air.
"Saya langsung suka," kenangnya.
Sejak saat itu, ia mulai mengoleksi arwana sedikit demi sedikit.
Lebih dari sekadar ikan mahal
Siluk Emas (Scleropages formosus) bukan ikan hias biasa. Spesies air tawar ini dikenal sebagai salah satu ikan hias paling bernilai di dunia. Warna sisiknya yang berkilau, bentuk tubuhnya yang memanjang, serta gerakannya yang anggun membuat arwana menjadi incaran kolektor.
Dalam buku Pedoman Budidaya dan Konservasi Arwana Super Red, harga seekor arwana berkisar antara Rp5 juta hingga Rp10 juta. Untuk varietas tertentu dengan kualitas terbaik, nilainya bahkan dapat mencapai ratusan juta rupiah melalui proses lelang.
Namun, daya tarik arwana tidak berhenti pada penampilannya.
Dalam budaya Tionghoa, arwana dikenal sebagai "ikan naga". Sungut di bagian mulutnya dianggap menyerupai naga, simbol kekuatan, kemakmuran, dan keberuntungan dalam feng shui.
Sementara bagi sebagian masyarakat Dayak di Kalimantan, arwana dipandang sebagai makhluk yang memiliki nilai sakral dan dipercaya berkaitan dengan penguasa alam bawah.
Di sejumlah wilayah Papua, habitat ikan ini juga dijaga melalui aturan adat atau sasi, sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus upaya menjaga keseimbangan alam.
Nilai ekonomi dan nilai budaya inilah yang membuat arwana menjadi salah satu ikan hias paling diburu di dunia.
Menjaga populasi, membuka peluang ekonomi
Bagi Johnny, memelihara arwana bukan sekadar memenuhi hobi. Ia memahami bahwa ikan yang berenang tenang di dalam akuariumnya merupakan satwa yang populasinya di alam terus menyusut.
Tingginya permintaan membuat arwana menjadi salah satu ikan hias yang paling banyak diburu. Selama bertahun-tahun, penangkapan liar dan perdagangan ilegal menyebabkan populasinya menurun hingga masuk dalam daftar spesies terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Sejak 1975, arwana Asia masuk dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Status tersebut melarang perdagangan arwana hasil tangkapan alam di pasar internasional.
Indonesia kemudian meratifikasi konvensi tersebut melalui Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978. Perlindungan terhadap arwana juga diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, disertai sejumlah peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang mengatur perdagangan dan peredarannya.
Karena itu, setiap arwana yang diperdagangkan harus berasal dari penangkaran resmi. Ikan tersebut wajib dilengkapi dokumen CITES dan mikrocip sebagai identitas untuk memastikan asal-usulnya dapat ditelusuri.
Di sisi lain, pemerintah juga melihat arwana sebagai komoditas ekspor bernilai tinggi. Melalui pengembangan penangkaran, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan konservasi dan peluang ekonomi.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan nilai ekspor ikan hias Indonesia mencapai US$36,43 juta pada 2022 atau sekitar Rp542 miliar. Sementara itu, International Trade Centre (ITC) mencatat Indonesia menguasai 11,35 persen pasar ekspor ikan hias dunia, terbesar kedua setelah Jepang.
Namun, membudidayakan arwana membutuhkan kesabaran.
Seekor arwana memerlukan waktu satu hingga tiga tahun hingga mencapai ukuran ideal untuk dipasarkan. Penangkar juga harus memenuhi berbagai persyaratan administrasi sebelum ikan dapat diperjualbelikan secara legal.
Proses yang panjang itu membuat harga arwana tetap tinggi. Johnny memahami betul proses tersebut. Karena itu, ia tidak pernah melihat ikan-ikan di akuariumnya semata sebagai komoditas.
Suatu pagi, ketika seorang tamu datang ke rumahnya, pertanyaan pertama yang muncul justru bukan tentang bisnis bumbu dan saus yang telah ia jalankan puluhan tahun.
"Pak, ini arwana semua?"
Johnny mengangguk.
Tak lama kemudian, tamunya bertanya lagi.
"Harganya pasti mahal ya?"
Johnny tersenyum sebelum menjawab.
"Orang biasanya lihat harganya," katanya. "Kalau saya, yang saya ingat justru perjalanan mendapatkannya."
Baginya, setiap arwana menandai fase berbeda dalam hidupnya. Ada yang dibeli ketika usahanya mulai berkembang, ada pula yang dipelihara sejak masih berukuran beberapa sentimeter hingga tumbuh dewasa.
Di balik nilai jualnya yang tinggi dan statusnya sebagai satwa yang dilindungi, arwana bagi Johnny bukan sekadar ikan hias.
Ia adalah pengingat bahwa sesuatu yang bernilai—baik bisnis, kepercayaan, maupun kehidupan—membutuhkan waktu, kesabaran, dan tanggung jawab untuk menjaganya.
Baca Juga
Artikel Terkait
Hobi
-
Ferran Torres dari Sasaran Kritik Menjadi Penentu Gelar Juara Dunia 2026
-
Spanyol Kampiun Piala Dunia 2026: Saat Cocokologi dan Kualitas di Lapangan Berjalan Beriringan
-
Argentina Tumbang, Spanyol Rebut Gelar Juara Piala Dunia 2026
-
Jude Bellingham Ukir Rekor Baru, Kukuhkan Posisi sebagai Bintang Top?
-
Piala Dunia 2026: 4 Alasan Pertarungan Spanyol vs Argentina Patut Disebut Final Ideal
Terkini
-
Pajak Buku dan Masa Depan Literasi: Sudah Waktunya Pembebasan PPN Diperluas?
-
Aksi Les Grow hingga Juara ADWI: Sinergi Warga Desa Les Rawat Bumi & Tradisi
-
Solidaritas di Balik Peron: Cerita Unik dan Sisi Humanis Menjadi Anak Kereta
-
Tolak Tekanan Sosial: Mengapa Perempuan Tak Perlu Malu Memakai Outfit yang Sama
-
Fenomena HopeTok di Era Digital: Kenapa Konten Positif Semakin Dicari GenZ?