Novel Ingatan Ikan-Ikan karya Sasti Gotama membawa atmosfer kelam yang kuat, mengingatkan kita pada nuansa Laut Bercerita milik Leila S. Chudori. Novel ini mengangkat tema sejarah kelam Tragedi Mei 1998, sebuah pengingat keras untuk melawan lupa dengan cara mempertahankan ingatan, meski ingatan itu sendiri sangatlah menyakitkan.
Sinopsis: Tragedi 1998 dan Cinta yang Terkoyak
Lian Wen adalah keturunan Tionghoa yang hidupnya biasa saja layaknya warga pribumi pada umumnya. Lian tidak suka jika asal-usulnya dibicarakan atau "di-Tionghoa-kan" karena baginya, Indonesia adalah tanah kelahirannya, tempat kakek dan neneknya juga lahir. Lian terbilang beruntung karena hidupnya berkecukupan dari usaha toko kelontong milik papinya.
Dalam kesehariannya, Lian berteman dengan Ombak Samudera, anak laki-laki dari keluarga kurang mampu yang hidupnya penuh konflik akibat KDRT orang tuanya. Ombak akhirnya minggat dari rumah dan sering membantu Koh Wen di tokonya. Benih-benih cinta remaja pun tumbuh di antara mereka. Selain gemar mengunjungi toko buku bekas, mereka suka merawat seekor ikan mas koki sebagai "hadiah perdamaian" yang diberi nama Lou, singkatan dari nama Lian untuk Ombak.
Namun, pada suatu Kamis di tahun 1998, kerusuhan akibat krisis moneter meledak dan mengambinghitamkan etnis Tionghoa sebagai penyebab runtuhnya ekonomi. Kerusuhan pecah di mana-mana. Toko Koh Wen dijarah, dan Lian diperkosa oleh banyak pemuda hingga berdarah-darah. Ingatan terakhir yang Lian ingat saat itu hanyalah tawa yang mengerikan.
Bertahun-tahun setelahnya, Lian menjadi fobia terhadap suara tawa. Ia memilih menjadi dokter hewan dan benar-benar lari dari interaksi manusia. Kehidupan soliter ini ia jalani bersama seekor ikan koki buta yang menjadi satu-satunya kawan bicara. Tragisnya, saat kejadian pemerkosaan itu, Ombak yang melihat Lian justru tidak menolongnya. Ia malah lebih dulu menyelamatkan ikan mas koki mereka yang kacanya pecah, sebuah memori yang terus menghantuinya.
Penatu Binata dan Pilihan untuk Melupakan
Setelah bertahun-tahun terpisah, Lian hidup bersembunyi bersama tantenya, sementara Ombak terus menderita mimpi buruk tentang kantong kresek seukuran manusia berbau karet terbakar karena adiknya, Awan, juga menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Mereka akhirnya bertemu kembali setelah sama-sama pulang dari Penatu Binata.
Cara kerja Penatu Binata ini seperti keajaiban. Target bisa memilih ingatan untuk dilupakan dengan cara mengunyah buah alara di depan mesin cuci. Saraf-saraf otak bekerja. Penjelasannya sangat rumit meskipun masuk akal mengingat penulisnya adalah seorang dokter. Buah alara tersebut telah disuntikkan obat 7-AnLp sebanyak 0,1 ml yang bisa memengaruhi memori secara spesifik di hipokampus. Mereka memang sembuh dari trauma. Lian bisa tertawa dan tidak takut lagi, begitupun Ombak, tetapi mereka justru jadi saling melupakan satu sama lain.
Kini, Ombak telah berkeluarga dengan kondisi ekonomi yang sulit, dan mereka sadar ada batas perasaan yang salah jika diterus-teruskan. Ternyata di balik semua itu, Penatu Binata adalah organisasi terstruktur yang bertujuan menghapus ingatan korban pemerkosaan 1998. Di akhir cerita, Lian bertemu seseorang yang mengajaknya untuk kembali merawat ingatan demi melawan ketidakadilan, meski ingatan itu sangat menyakitkan.
Ulasan: Kode Rahasia dan Alur Cerita
Banyak sekali kode dan singkatan dalam novel ini. Nama orang hanya ditulis dengan huruf B dan Z, begitu pula nama kota seperti kota M, S, B, J, dan lainnya. Hal ini membuat pembaca cukup bingung karena banyaknya kota di Indonesia membuat kita sulit membayangkan latar tempat yang dimaksud. Namun, novel ini cukup apik dalam mengatur alur maju-mundur antara tahun 2005 hingga 1998. Banyak diksi sastra baru yang asing di telinga, tetapi riset yang mendalam membuat buku ini sangat bagus dan berkesan.
Identitas Buku
- Judul: Ingatan Ikan-Ikan
- Penulis: Sasti Gotama
- Penerbit: Bentang Pustaka
- ISBN: 978-623-186-575-5
Baca Juga
-
Bukan Dongeng Biasa: Sisi Gelap dan Brutal di Balik Keimutan Dongeng Kucing
-
Saat Sampul Manis Menyembunyikan Thriller Psikologis: Ulasan The Arson Project
-
Suka Kusuriya no Hitorigoto? Wajib Nonton Raven of the Inner Palace!
-
The Traveling Cat Chronicles: Jejak Kesetiaan Nana Menembus Batas Waktu
-
Membaca Haru no Sora: Mengapa Si Tukang Bully Berhak untuk Terluka?
Artikel Terkait
-
Ahmad Tohari dan Realisme Magis yang Sunyi dalam Lintang Kemukus Dini Hari
-
Perjuangan Menjadi 'Mandiri' di Jakarta: Realitas Pahit yang Dibalut Komedi dalam Novel ANJAS
-
Cinta, Tradisi, dan Kekuasaan dalam Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari
-
Rahasia di Balik Impotensi Ajo Kawir: Mengapa Novel Eka Kurniawan Ini Begitu Kontroversial?
-
Kerumunan Terakhir: Mengapa Novel Okky Madasari Ini Ramalan Paling Akurat Tentang Media Sosial Kita?
Ulasan
-
Bukan Dongeng Biasa: Sisi Gelap dan Brutal di Balik Keimutan Dongeng Kucing
-
Ulasan Film Supergirl: Sinema Kosmis yang Megah, Sunyi, dan Mendalam
-
Membaca Ulang Sang Mahapatih Gajah Mada di Buku Agus Munandar
-
Ulasan The Winning Try: Kisah Tim Rugby Buangan yang Layak Diperjuangkan
-
Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna: Teman Teduh Memeluk Kerapuhan
Terkini
-
Analisis Taktik Norwegia vs Prancis: Duel Haaland dan Mbappe Demi Raja Grup
-
Anime Dr. STONE Resmi Tamat, Akhiri Petualangan Senku Selama 7 Tahun
-
Bitch x Rich Lanjut Season 3, Incar Miyeon (G)I-DLE sebagai Pemeran Utama
-
Sesi Sambutan di Acara Resmi, Warisan Feodal yang Dianggap Normal
-
Di Tiongkok Guru Setara Dokter, di Indonesia Guru Honorer Dijerat Judi Online: Ada Apa?