YOGYAKARTA - Di tengah derasnya arus informasi dan ancaman intimidasi terhadap suara kritis anak muda, perjumpaan lintas generasi menjadi penting untuk menjaga ruang berpikir tetap terbuka. Semangat itu dibawa dalam Gen Z Impact Fest yang digelar Suara.com bersama Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Bulaksumur UGM di UC Hotel UGM, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026).
Forum tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan 35 tahun SKM Bulaksumur UGM. Acara mempertemukan alumni pers mahasiswa lintas generasi, pimpinan UGM, praktisi industri, hingga mahasiswa dan content creator muda.
Direktur Utama Suara.com sekaligus Ketua Panitia Gen Z Impact Fest, Suwarjono, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi upaya menyambungkan kembali generasi yang berbeda melalui tradisi intelektual pers mahasiswa.
“Ini adalah bagian dari cara kita menyambung jembatan antar-generasi yang selama ini sempat merasa ada sekat,” ujar Suwarjono dalam sambutannya di Gen Z Impact Fest, Sabtu (12/9/2026).
Ia menyebut pengelola SKM Bulaksumur saat ini telah berada di tangan mahasiswa angkatan 2025/2026, sementara sejumlah alumni yang hadir berasal dari generasi 1980-an hingga 1990-an. Menurutnya, perubahan arus informasi membuat semua pihak harus terus beradaptasi. Karena itu, Gen Z Impact Fest tidak hanya membahas perubahan lanskap informasi, tetapi juga menghadirkan pembahasan mengenai keuangan, karier, serta keamanan digital bagi content creator.
Pesan mengenai pentingnya daya kritis juga disampaikan Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sujito. Ia secara terbuka membela mahasiswa kritis yang sebelumnya mengalami teror atau intimidasi.
“Saya tegaskan, di negara demokrasi tidak boleh ada siapapun yang meneror anak-anak muda yang berpikir kritis! Kecerdasan dan daya kritis Gen Z adalah modal utama kita untuk memandang Indonesia di masa depan,” kata Arie Sujito dalam sambutannya.
Arie juga menilai Gen Z tidak semestinya dipandang hanya sebagai kelompok yang konsumtif terhadap informasi. Menurutnya, konsumsi informasi dapat menjadi pintu lahirnya kreativitas dan cara pandang baru terhadap realitas. Ia mengingatkan agar perkembangan teknologi tidak berhenti pada penggunaan alat semata.
“Digitalisasi jangan berhenti hanya sebagai alat instrumentalisasi, melainkan harus dilandasi oleh nilai-nilai,” ujarnya. Ia juga menegaskan UGM terbuka terhadap kebebasan berpendapat dan ruang debat bagi mahasiswa selama pengetahuan yang dibangun mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan pesan melalui video. Ia mengatakan tantangan generasi muda saat ini bukan lagi sekadar memperoleh informasi, melainkan kemampuan memilah informasi, menghubungkan pengetahuan, dan mengubahnya menjadi solusi.
“Inilah yang saya sebut sebagai The Thinking Generation, generasi yang tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi ikut menciptakan teknologi; tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi berani menciptakan lapangan kerja baru,” ujar Brian. Ia mengaitkan gagasan tersebut dengan semangat “Saintek Berdampak” yang mendorong kampus menjadi ruang perjumpaan mahasiswa dengan persoalan nyata melalui riset dan karya yang berguna bagi masyarakat.
Rangkaian pembukaan kemudian ditandai dengan pemukulan gong dan foto bersama pimpinan UGM, jajaran Suara.com, alumni senior SKM Bulaksumur, serta perwakilan mahasiswa. Gen Z Impact Fest selanjutnya diisi dengan sejumlah diskusi dan sesi interaktif mengenai kehidupan anak muda, mulai dari pengelolaan keuangan, karier, hingga keamanan digital.
Melalui perjumpaan tersebut, tradisi kritis pers mahasiswa dipertemukan dengan generasi yang hidup dalam ekosistem informasi yang jauh berbeda.
Baca Juga
-
Ulasan Novel Dompet Ayah, Sepatu Ibu: Catatan Perjuangan Karya J.S. Khairen
-
Kontroversi Uan Juicy Luicy: Mengapa Humor Misoginis Tak Boleh Dimaklumi
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Menangkis Label Generasi Sial, Gen Z Impact Fest Bedah Ketahanan Finansial
-
Di Era AI dan Digital, Mengapa Belajar Filsafat Justru Semakin Penting?
Artikel Terkait
News
-
Kisah Juni Bangun Fun English for Ladies, Bukti Nyata Semangat Women Support Women
-
Mengenal Proyeksi Gall-Peters: Mengungkap Distorsi Geografis di Peta Mercator
-
Generasi Muda Harus Melek Tradisi: Bagaimana Topeng Blantek Tetap Eksis?
-
Tinggalkan Gawai Sejenak, Nikmati Akhir Pekan yang Tenang Bersama The Write and Wonder Club
-
Menangkis Label Generasi Sial, Gen Z Impact Fest Bedah Ketahanan Finansial
Terkini
-
Modernisasi Keselamatan Kelautan: Dari Analisis Pascatragedi Menuju Pencegahan Dini Berbasis AI
-
Belajar Tidak Menilai Orang dari Luarnya lewat Novel Senior
-
Dianggap Cacat, Jaksa di Bad Prosecutor Justru Melawan Penegak Hukum Korup
-
Ulasan Toy Story 5: Ketika Gadget Perlahan Mengambil Alih Masa Kecil Anak
-
Bukan Kisah Menyeramkan, Ini Keunikan Persahabatan di Buku The Skeleton and the Cat