Hayuning Ratri Hapsari | Desyta Rina Marta Guritno
Marco Bezzecchi (Instagram/@marcobez72)
Desyta Rina Marta Guritno

Persaingan memperebutkan gelar juara dunia MotoGP 2026 kali ini diprediksi bakal berlangsung ketat, pasalnya 4 besar klasemen sementara terus berubah-ubah sejak awal musim hingga sekarang.

Marco Bezzecchi yang semula tampil dominan dan berada di posisi puncak, kini turun ke posisi tiga, bahkan sempat di urutan keempat saat performanya turun, beberapa waktu lalu.

Kemudian, ada Jorge Martin yang secara mengejutkan tampil konsisten hampir di setiap balapan sehingga kini sukses memimpin klasemen. Meskipun baru sekali memenangkan balapan musim ini, dia selalu mengumpulkan poin untuk memperkuat posisinya di kejuaraan.

Marc Marquez juga tak ketinggalan dalam meramaikan persaingan juara dunia musim ini, kendati kondisi fisiknya masih belum pulih sepenuhnya, serta performa motor yang mulai tersaingi, Marc tetap tampil memukau dengan memenangkan 4 balapan dengan 3 diantaranya kemenangan ganda.

Melihat situasi ini, agak sulit memprediksi siapa yang akan menjadi juara dunia di akhir musim. Berbeda dengan tahun lalu di mana Marc Marquez tampil dominan di setiap balapan dan memiliki jarak poin yang jauh dari para pesaingnya.

Terkait dengan hal tersebut, bos Ducati, Gigi Dall'igna, memberikan pendapatnya bahwa MotoGP 2026 akan dimenangkan oleh pembalap yang tenang dan konsisten di setiap balapan.

Menurut saya, kejuaraan dunia ini akan dimenangkan oleh siapa pun yang tetap tenang mulai sekarang hingga akhir musim,” ujar Dall'igna, dilansir dari laman Crash.

Lebih lanjut, dia juga menyampaikan bahwa setiap poin yang dikumpulkan akan sangat penting untuk menentukan siapa yang akan menjadi juara dunia.

Belajar dari tahun 2024, di mana Jorge Martin menang dengan selisih 10 poin dari Pecco Bagnaia. Padahal, Pecco pada waktu itu memenangkan 11 balapan Grand Prix, sedangkan Martin hanya 3 balapan saja.

Namun, ketidakkonsistenan Pecco yang sering jatuh di sesi sprint membuatnya tetap kalah dari segi poin. Sementara Jorge Martin, meskipun menang lebih sedikit dia tetap berusaha finis di posisi terbaik di setiap balapan sehingga meskipun tidak menang, dia tetap mengumpulkan poin berapa saja yang ternyata sangat penting untuknya di akhir musim.

Penting untuk meraih poin dan tidak membuat kesalahan, karena sejarah baru-baru ini menunjukkan bahwa memenangkan 11 balapan bukanlah hal yang terpenting. Namun, menang lebih sedikit pun sudah cukup. Tapi Anda harus lebih konsisten dan, yang terpenting, jangan sampai mencetak nol poin," tambahnya.

Hal tersebut juga terjadi tahun ini, Marc Marquez dan Marco Bezzecchi telah memenangkan balapan lebih banyak dibandingkan Jorge Martin (Marc Marquez 4, Marco Bezzecchi 4, Jorge Martin 1).

Namun, Marc mengalami kendala di awal musim akibat cedera yang menyebabkan dia kehilangan banyak momen untuk mengumpulkan poin.

Begitu pula dengan Marco Bezzecchi yang performanya sempat menurun serta cedera jelang pertengahan musim, membuat posisinya sebagai pemimpin klasemen tergeser di Assen.

Sementara itu, Jorge Martin justru mampu memanfaatkan situasi tersebut dengan menjaga konsistensinya di tengah persaingan yang semakin ketat.

Alih-alih terlalu memaksakan diri untuk mengejar kemenangan, pembalap tersebut terlihat lebih fokus mengamankan posisi finis dan menghindari kesalahan yang bisa membuatnya kehilangan poin.

Dengan kondisi klasemen yang masih berubah-ubah, strategi tersebut bisa menjadi modal berharga bagi Martin untuk mempertahankan posisi teratas hingga akhir musim.

Terlebih, persaingan masih panjang sehingga satu kali gagal finis atau kehilangan banyak poin bisa langsung mengubah peta perebutan gelar juara dunia.

Karena itu, pesan Gigi Dall'Igna tampaknya menjadi pembelajaran yang tepat untuk para pembalap. Gelar juara dunia musim ini kemungkinan besar bukan hanya ditentukan oleh siapa yang paling sering menang, tapi siapa yang mampu menjaga ketenangan, menghindari kesalahan, dan terus membawa pulang poin di setiap seri hingga balapan terakhir.