Sekar Anindyah Lamase | Desyta Rina Marta Guritno
Marc Marquez dan Jorge Lorenzo (Instagram/marcmarquez93)
Desyta Rina Marta Guritno

Pembalap MotoGP, Marc Marquez, telah mengungkapkan sebuah momen yang membuatnya tertekan selama berkarier di ajang balap motor paling bergengsi di dunia.

Selama 13 musim, Marc telah memenangkan 7 gelar juara dunia yakni tahun 2013, 2014, 2016, 2017, 2018, 2019, dan 2025. Semuanya diraih dengan perjuangan yang tidak mudah, tak lain karena dia harus menghadapi lawan yang tangguh.

Oleh karena itu, selain prestasi Marc Marquez juga banyak mengukir kisah persaingan yang panas di MotoGP, salah satu yang terkenal dan kontroversial adalah saat dia melawan Valentino Rossi dalam perburuan gelar juara dunia MotoGP 2015.

Kisah yang dianggap sebagai pengkhianatan bagi Rossi tersebut masih terus dibahas hingga sekarang dan menjadi konflik paling sensitif di MotoGP.

Kendati demikian, Marc Marquez tidak menganggap itu menjadi sebuah momen yang berat dalam kariernya. Baru-baru ini, pembalap bernomor 93 tersebut mengaku bahwa perjuangannya dalam merebut gelar juara dunia pertamanya adalah yang tersulit.

Ini terjadi pada tahun 2013 di musim perdana Marc Marquez di MotoGP, saat itu Marc baru bergabung dari Moto2 ke MotoGP bersama pabrikan Honda, menggantikan Casey Stoner yang pensiun.

Tanpa basa-basi, The Baby Alien yang masih berstatus sebagai seorang rookie langsung meramaikan persaingan untuk meraih gelar juara dunia di tahun tersebut melawan Jorge Lorenzo, pembalap yang memegang gelar tahun sebelumnya.

Saat itu, Marc memimpin klasemen dengan 313 poin, unggul 13 poin dari rival terdekatnya, Jorge Lorenzo, sehingga hanya butuh finis di posisi keempat untuk mengunci gelar.

Di akhir balapan, Jorge Lorenzo keluar sebagai pemenang, diikuti Dani Pedrosa di posisi kedua, dan Marc Marquez finis ketiga. Dengan demikian, poin yang didapat Marc sudah sangat cukup untuk memastikannya jadi juara dunia.

Tambahan poin dari finis ketiga ini memastikan Marc Marquez mengumpulkan total 334 poin, unggul 4 angka atas Lorenzo (330 poin), sekaligus menorehkan sejarah sebagai pebalap rookie pertama yang juara dunia kelas premier sejak Kenny Roberts Sr. pada 1978.

“Saya akan mengatakan Valencia 2013, berjuang untuk Kejuaraan Dunia pertama saya di MotoGP melawan Lorenzo. Terlihat mudah untuk finis di empat besar, tetapi pada saat yang sama itu sulit. Valencia, balapan terakhir, dingin... Itu adalah hari Minggu yang sulit," ujar Marc, dilansir dari laman Crash.

Kebetulan, tahun ini situasinya tidak jauh berbeda. Marc Marquez kembali tampil menjadi kontender juara dunia MotoGP 2026.

Usai meraih kemenangan ganda di GP Misano, Marc sempat memimpin klasemen sebelum akhirnya turun lagi ke posisi dua setelah kesulitan di GP Austria.

Dalam perburuan gelar keduanya bersama Ducati ini, Marc berhadapan dengan 2 pembalap Aprilia, Jorge Martin dan Marco Bezzecchi.

Dia berada di tengah-tengah mereka dengan selisih 12 angka dari Martin dan 30 angka dari Bezzecchi. Alih-alih merasa terancam, Marc justru mengatakan bahwa dengan tekanan ini dia merasa nyaman serta memberi konsentrasi ekstra.

"Tapi biasanya dengan tekanan ekstra, saya menyukainya. Saya merasa nyaman, dan itu memberi saya konsentrasi ekstra," katanya.

Kata-kata ini seperti peringatan bagi lawan Marc bahwa dia tidak bisa dipandang sebelah mata, terbukti dari defisit 102 poin Marc bisa membalikkan keadaan dengan menjadi pemimpin klasemen.

Meskipun penampilannya masih kurang konsisten karena masalah ini dan itu, Marc berusaha tetap berusaha menampilkan yang terbaik di setiap seri dan mengumpulkan poin sebanyak yang dia bisa.

Karena dengan tujuh seri tersisa di musim ini dan persaingan yang sangat ketat, setiap poin sangat berharga untuk memperbesad peluang menjadi juara dunia.