Belanda merupakan bangsa Eropa ketiga yang menjelajahi kepulauan Nusantara. Akan tetapi, bangsa Belanda yang paling lama menjalankan Misi 3G (Gold, Glory, and Gospel) di kepulauan yang subur akan rempah-rempah tersebut.
Singgahnya Belanda di Banten
Mengutip buku Sejarah Nasional Indonesia, Jilid III, Pada tahun 1595 Masehi, bangsa Belanda yang terdiri dari empat buah kapal dagangnya berupaya menuju ke Kepulauan Maluku. Pelayaran perdananya itu menghabiskan waktu sangat lama, yakni 1 (satu) tahun lebih 2 (dua) bulan. Hal tersebut dikarenakan belum adanya pengalaman pelayaran jarak jauh.
Di tahun selanjutnya, yaitu tahun 1596 Masehi, setibanya Belanda di wilayah Banten, mereka disambut dengan baik dan ramah oleh petinggi-petinggi Banten. Kemudian, Cornelis de Houtman dari pihak Belanda menjalin persahabatan dengan pihak Banten dan melakukan perjanjian dagang. Strategi yang dilakukan oleh pihak Belanda di Banten, yakni untuk menguasai pasar Banten yang merupakan tempat jual-beli rempah-rempah dari berbagai wilayah Nusantara, termasuk rempah-rempah dari Kepulauan Maluku.
Seiring berjalannya waktu, timbul persaingan karena Belanda ingin mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Pihak Belanda menyuruh Banten untuk memberikan rempah-rempah dengan jumlah yang besar. Akan tetapi, Belanda hanya sanggup membayar dengan harga rendah. Dengan adanya hal tersebut menimbulkan ketegangan, karena pihak Belanda bersikap serakah. Belanda pun diusir dari wilayah Banten.
Ketika menjumpai wilayah-wilayah pesisir lainnya, pihak Belanda ditolak oleh wilayah-wilayah yang ingin mereka singgahi. Kejadian tersebut dikarenakan sikap keserakaran pihak Belanda sudah tersebar kabarnya ke wilayah-wilayah pesisir utara.
Penjelajahan yang dilakukan bangsa Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman di pulau Jawa, tepatnya Banten, sudah dilakukan dan tidak benar-benar berhasil. Masih mengutip dari buku Sejarah Nasional Indonesia, Jilid III, pada tahun 1598 Masehi, penjelajahan tersebut digantikan oleh Jacob van Neck, wearwijck, dan Heemskerck.
Penjelajahan Belanda ke Kepulauan Maluku
Dengan berbekal pengalaman dari pelayaran sebelumnya, penjelajahan Belanda kali ini dipimpin oleh Jacob van Neck dengan merangkul perusahaan-perusahaan Belanda. Penjelajahan yang dipimpin Jacob van Neck akhirnya tiba di Kepulauan Maluku, sebuah pulau yang memproduksi rempah-rempah.
Jacob van Neck berhasil dalam penjelajahannya dengan membawa rempah-rempah ke negeri asalnya, yakni Belanda. Pada tahun 1602 Masehi, Belanda membentuk Kongsi Dagang yang diberi nama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). di VOC-lah perusahaan-perusahaan Belanda terhimpun.
Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) melakukan penjelajahan menuju Kepulauan Maluku. Pada tahun 1605, di Kepulauan Maluku, VOC menggempur benteng pertahanan bangsa Portugis. Sesampai Portugis mengundurkan diri dari Kepulauan Maluku.
Dua tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 1607 Masehi, pihak Kesultanan Ternate meminta bantuan militer dari VOC untuk menggempur Spanyol. VOC yang membantu Kesultanan Ternate pun diberi imbalan, yaitu VOC diperbolehkan melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah. Bangsa Belanda diperbolehkan pula mendirikan benteng pertahanan mereka.
Berlabuhnya Belanda di Aceh
ketika Jacob van Neck berlabuh ke Kepulauan Maluku, di sisi lain penjelajahan yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman berlabuh ke wilayah ujung pulau Sumatera, tepatnya di Aceh.
Pada tahun 1599, de Houtman menyandarkan kapal-kapalnya di dermaga wilayah Aceh. Serupa dengan halnya di Banten, awalnya kedatangan Cornelis de Houtman disambut dengan baik oleh pihak Aceh.
Pihak Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman tidak mengambil pelajaran dari peristiwa pengusirannya di wilayah Banten. Kemudian, Belanda melakukan kesalahan dengan tingkahnya yang arogan, sehingga yang terjadi ialah munculnya konflik di wilayah Aceh.
Pertempuran yang terjadi antara keduanya, mengakibatkan pihak Belanda kewalahan dalam menghadapi serangan dari Aceh. Dalam pertempuran tersebut, terbunuhnya Cornelis de Houtman dan beberapa pasukannya.
Tag
Baca Juga
Artikel Terkait
Kolom
-
Internalized Misogyny: Ketika Perempuan Justru Melestarikan Ketimpangan
-
Menguliti Narasi 'Kuliah Itu Scam': Apa Gelar Masih Menjadi Senjata Utama?
-
Belajar Bahasa Asing Itu Bukan Cuma soal Grammar, tapi soal Rasa
-
Kawasan Tanpa Rokok, Tapi Mengapa Asap Masih Bebas Berkeliaran?
-
Merayakan Small Wins: Strategi Bertahan atau Justru Menidurkan Ambisi?
Terkini
-
Sudah Sukses Tapi Merasa Hampa? Kenali Fenomena Hedonic Adaptation
-
Film We Bury the Dead: Duka di Tanah Penuh Zombie yang Mengerikan!
-
4 Drama Korea Adaptasi Webtoon dibintangi Oh Yeon Seo
-
5 Film Baru Sambut Akhir Pekan, Ada The Housemaid hingga Modual Nekad
-
4 Mix and Match Daily OOTD ala Wooyoung ATEEZ, Street Style ke Formal Look