Prabu Angling Dharma adalah salah satu tokoh legenda dalam tradisi Jawa, yang dianggap titisan Batara Wisnu.
Prabu Angling Dharma dikenal memiliki ilmu 'Aji Senyawa' seperti Nabi Sulaiman as, dapat mengerti bahasa segala jenis binatang. Ilmu dapat mengerti bahasa jenis semua binatang ini, di wariskan oleh seorang teman resinya yang bernama Naga Bergola. Dan setelah menitiskan ilmu 'Aji Senyawa' akhirnya Naga Bergola wafat.
Pada suatu hari, ketika Prabu Angling Dharma berburu di dalam hutan, tiba-tiba ia dikejutkan oleh pemandangan yang tidak mengenakkan mata. Istri sahabatnya, Nagini berselingkuh dengan seekor ular sanca. Kemudian, ia bermaksud memanah ular sanca tapi naas malah mengenai ekor Nagini, istri sahabatnya.
Nagini marah karena ketahuan perselingkuhannya dan juga terkena panah Angling Dharma, dan bermaksud akan melaporkan kepada suaminya, Naga Bergola atas perlakuan Angling Dharma tersebut.
Setelah bertemu suaminya, Nagini menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Lalu dia memfitnah Angling Dharma dengan alasan akan membunuhnya karena menginginkan mahkota di kepalanya.
Tentu saja, Naga Bergola menjadi marah besar, dan berusaha menemui Angling Dharma. Tetapi dalam perjalanannya menuju rumah Angling Dharma, Naga Bergola mendengarkan semua cerita Angling Dharma kepada istrinya, tentang kejadian perselingkuhan Nagini dengan sanca.
Dan Naga Bergola, bersumpah lebih baik mati daripada menerima seorang istri yang telah berbuat serong dengan sanca. Sebelum melaksanakan sumpahnya, Naga Bergola mengajak Angling Dharma naik ke atas punggungnya dan terbang ke tempat yang sepi.
Setelah sampai ke tempat yang sepi Naga Begola berwasiat kepada Angling akan mewariskan ilmu 'Aji Senyawa' untuk menambah kewibawaan dalam memimpin rakyatnya. Setelah mewariskan ilmu 'Aji Senyawa' Naga Bergola meninggalkan dunia fana.
Cerita semacam itu pernah menghiasi tayangan film sinetron Angling Dharma yang pernah disiarkan oleh stasiun TV Swasta nasional.
******
Belum lama ini kita dikejutkan adanya berita temuan kerajaan Angling Dharma di Pandeglang, Banten. Rajanya bernama Baginda Sultan Iskandar Jamaludin Firdaus. Ini benar-benar ngawur kuadrat. Setelah belum lama kita dikagetkan munculnya kerajaan Sunda Empire, ternyata banyak yang pada suka halu kelas dewa di negeri ini.
******
Legenda tentang Prabu Angling Dharma berasal saja masih menjadi polemik. Ada beberapa daerah yang mengklaim terkait asal-usul Prabu Angling Dharma. Pertama, klaim berasal dari Pati, Jawa Tengah. Tepatnya di Desa Mlawat Kecamatan Sukolilo.
Di Desa Mlawat sampai sekarang masih menjadi salah satu objek wisata sebagai peninggalan bersejarah yang kerap di kunjungi wisatawan. Nama Mlawat mirip dengan Malawapati, Kerajaan Angling Dharma.
Di desa ini, terdapat makam sang patih, Batik Madrim. Terdapat gua yang sangat dalam yaitu gua Eyang Pikulun Naga Raja guru Prabu Angling Dharma. Ada pula sendang Naga Raja dan Naga Gini yang disakralkan oleh warga masyarakat.
Kedua, klaim berasal dari Bojonegoro, Jawa Timur. Di daerah Bojonegoro juga terdapat situs Mlawatan di Desa Wotangare, Kalatidu yang dipercaya sebagai petilasan Angling Dharma.
Angling Dharma bahkan sempat diwacanakan menjadi ikon kota Bojonegoro. Sampai-sampai tulisan gapura perbatasan berbunyi :”Selamat Datang di Bumi Angling Dharma”. Tim kesebelasan kota itu, Persibo, juga punya julukan “Laskar Angling Dharma”.
Ketiga, klaim pernah di Temanggung, Jawa Tengah. Tepatnya di lereng gunung Sumbing, yaitu di Kedu, arah ke Parakan, Temanggung, Jawa tengah.
Keempat, klaim bahwa makam Angling Dharma terdapat di tanah Sunda, Jawa Barat beserta kerajaannya.
******
Patut diduga, kerajaan Angling Dharma di Pandeglang, Banten, Jawa Barat adalah hasil rekayasa dan proses halusinasi klaim keempat. Memang sedikit ngawur bin nglindur. Walaupun demikian, saya salute dan apresiasi proses kreatif dan inovatif terbentuk kerajaan Angling Dharma di Pandeglang, Banten.
Saya apresiasi sebesar-besarnya kepada Baginda Sultan Iskandar Jamaludin Firdaus yang telah menghibur masyarakat di dunia nyata. Semoga jadi tambah terkenal baik di dunia maya maupun di dunia nyata di Indonesia.
Menyusul ketenaran tetangga sebelahnya Rangga Sasana yang mengaku Sekretaris Jenderal Sunda Empire yang sempat menghebohkan dunia maya dan dunia nyata.
Bagi saya, masih mendingan menonton hiburan semacamnya ini di masa pandemi, daripada menonton drama para politisi negeri ini yang semakin hari semakin lucu, yang mengancam profesi para komedian di negeri ini.
JUNAEDI SE, esais Mbantul
Baca Juga
-
Hukum Musik dalam Perspektif Islam yang Dinamis dan Kekinian
-
Hati-hati Glorifikasi kepada Saipul Jamil Bisa Berbahaya, Ada Hati yang Terluka
-
Baliho Politik Bukti Rendahnya Jiwa Kenegarawanan Politisi
-
5 Kebijakan dan Kasus yang Bisa Melemahkan KPK, Termasuk Pelanggaran Etik Lili Pintauli
-
Fenomena Maraknya Pengamen Berkostum Badut di Jalanan Yogyakarta
Artikel Terkait
-
Escape 3 Jam dari Jakarta: Menikmati Sisi Magis Pandeglang Sambil Healing Tipis-tipis
-
Penghormatan Terakhir untuk Tiga Prajurit UNIFIL TNI yang Gugur di Lebanon
-
Diterpa Hujan dan Angin, Atap Stadion Indomilk Arena Rusak
-
Gaji Rp3,5 Juta Jadi Umpan: Perempuan Dijebak Sindikat Prostitusi Online di Cilegon
-
Polda Banten Bongkar TPPO Modus Open BO via Aplikasi, Dua Pelaku Ditangkap
Kolom
-
Ilusi Gaji UMR: Terlihat Besar di Atas Kertas, Hilang Begitu Saja Sebelum Akhir Bulan
-
Cerita Perantau di Batam: Gagal Makan Ayam Penyet, Ujung-ujungnya Mi Ayam Jadi Penyelamat
-
Bertahan dengan Gaji UMR: Seni Agar Tidak Jatuh Miskin, Tapi Juga Tidak Pernah Kaya
-
Upah Beda, Perjuangan Sama: Siasat Bertahan dengan Gaji UMK
-
Birokrasi Komunikasi Lewat Satu Huruf: Kenapa Chat "P" Itu Egois Banget?
Terkini
-
Mencintai yang Berbeda: Mengapa Novel 'Kisah Seekor Camar dan Kucing' Wajib Anda Baca
-
Liturgi dari Rahim Silikon
-
Pemanasan Sebelum Coachella! Pinky Up ala Katseye Bikin Hook-nya Nempel Terus di Kepala
-
Review Bloodhounds Season 2: Bromance Brutal Is Back, Udah Siap Liat Rain Jadi Villain?
-
Besok Sisa Sengsara? Udah, Rayakan Hari Ini Aja Bareng Lagu "Kita ke Sana" dari Hindia