
Jika ditanya seberapa sering Anda melakukan tes PCR? Bila jawabannya sering banget berarti mungkin Anda sering berpergian menggunakan pesawat terbang. Lah iya, kan hanya pelaku perjalanan udara yang wajib tes PCR ini, moda lainnya mah santuy aja, maksimal swab antigen lanjut gas pol.
Saya bukan anti tes PCR ya, cuman kalo itu "hanya"diwajibkan untuk moda udara saja kok rasanya bagaimana gitu ya. Saya kurang sepaham dengan argumen pemerintah tentang pentingnya tes PCR bagi pelaku perjalanan udara setidaknya dengan beberapa alasan sebagai berikut.
1. Mobilitas utama adalah darat
Saya yakin data dari Kemenhub bisa menunjukkan persentase perjalanan masing masing moda, darat, laut dan udara akan didominasi perjalanan darat. Nah, kalau begitu mestinya aturan jenis tes disamakan dong.
Jangan hanya untuk udara saja yang perlu PCR. Jenis angkutan darat antar kota sendiri kan banyak, ada kereta, travel, bus, mobil pribadi. Kalau perjalanan lintas kota atau pulau mestinya juga diwajibkan PCR juga dong untuk lebih mengoptimalkan proses screening kasus Covid-19.
2. Dukungan teknologi di dalam kabin pesawat
Apakah dalam semua jenis moda transportasi kecuali pesawat udara sudah dilengkapi dengan teknologi pembersih udara yang dilengkapi dengan filter HEPA. Setahu saya hanya pesawat udara yang sudah didukung teknologi ini. Nah, kalau moda lain saja tidak terdapat teknologi ini dan penumpang tidak perlu tes PCR kenapa naik pesawat harus pakai tes PCR.
Lebih jauh lagi, kita pasti sudah tahu dong bahwa bioskop sudah dibuka untuk umum dan anak kecil diperbolehkan untuk masuk dengan persyaratan protokol kesehatan, pertanyaannya adalah apakah di dalam bioskop sudah dilengkapi dengan teknologi filter udara yang dilengkapi HEPA?
3. Tidak semua kota dengan bandara aktif yang sudah tersedia tes PCR
Alasan ketiga ini adalah alasan yang paling merepotkan bagi pelaku perjalanan udara. Meskipun pemerintah sudah menginformasikan bahwa bandara perintis tidak perlu mempersyaratkan tes PCR, namun bandara non perintis apabila ingin ke kota besar akan sangat merepotkan.
Pengalaman pribadi saya yang baru melakukan perjalanan kedinasan di Luwuk, Ibukota Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah, disana tidak tersedia klinik yang bisa melakukan tes PCR, melainkan hanya antigen. Karena tiket saya tidak jenis terusan langsung ke Jakarta saya harus tes swab dulu untuk pergi ke Makassar.
Tes PCR di Makassar, menginap semalam makan Coto Makassar sambil menunggu hasil keluar dan pulang esok harinya. Sangat "efektif" bukan persyaratan tersebut. Memang bagi pemegang tiket terusan tidak perlu turun dari pesawat, namun kan tidak semua penumpang bisa mendapat tiket itu dan memang ada kegiatan lain yang harus dilakukan di kota besar.
4. Harga dan batasan harga Tes PCR
Meski pemerintah sudah menurunkan tes pcr dan adanya batasan harga, namun di lapangan pasti akan berbeda. Jika tidak percaya silahkan cek di kota-kota di luar Jawa khususnya. Contohnya di Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara.
Di sana hanya ada satu tempat tes pcr dengan hasil keluar 2-3 hari. Akibatnya Anda bisa menebak sendiri kan, antrean pengguna membludak dan ribetnya menunggu hasil yang keluar. Semestinya masalah harga dan batasan harga ini dulu yang dibenahi oleh pemerintah sebelum menetapkan aturan yang sifatnya wajib. Jadi masyarakat sebagai pengguna akan bisa menyesuaikan dengan regulasi yang ada.
Saya sangat setuju dan mendukung penuh kebijakan pemerintah untuk menekan angka penyebaran virus ini. Namun, perlu disadari bahwa jenis tes baik swab antigen, genose dan PCR itu hanyalah merupakan proses screening. Yang lebih penting adalah sejauh mana vaksinasi ini sudah dilakukan. Vaksinasi ini menurut saya lebih tepat dan efektif untuk menekan laju penyebaran virus selain penerapan proses yang ketat juga tentunya.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Penumpang Nekat Merokok di Pesawat Garuda, Garuda Indonesia Beri Tindakan Tegas!
-
Ketika Maskapai Penerbangan Ikut Produksi Mobil Listrik, Toyota dan Honda Wajib Introspeksi
-
Balon Udara Liar Ancam Penerbangan Mudik Lebaran, AirNav Beri Peringatan Keras
-
Pasar Saham Indonesia Terjun Hebat, Lebih Parah dari IHSG Era Pandemi COVID-19?
-
Indonesia Air Belum Dapat Lampu Hijau Kemenhub, Menhub: Surat Pengajuan Belum Ada!
Kolom
-
AI Ghibli: Inovasi atau Ancaman Para Animator?
-
Menelisik Kiprah Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan dan Politik Indonesia
-
Penurunan Harga BBM: Strategi Pertamina atau Sekadar Pengalihan Isu?
-
Jumbo: Langkah Berani Animasi Lokal di Tengah Dominasi Horor
-
Ketimpangan Ekonomi dan Pembangunan dalam Fenomena Urbanisasi Pasca-Lebaran
Terkini
-
Webtoon My Reason to Die: Kisah Haru Cinta Pertama dengan Alur Tak Terduga
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
3 Tahun Hiatus, Yook Sung Jae Beberkan Alasan Bintangi 'The Haunted Palace'
-
Review Novel 'Kokokan Mencari Arumbawangi': Nilai Tradisi di Dunia Modern
-
Hanya 4 Hari! Film Horor Pabrik Gula Capai 1 Juta Penonton di Bioskop