Negara Indonesia sedang dalam masa-masa yang sulit. Masa sulit sebagaimana dimaksud adalah kita sedang berhadapan dengan pandemi Covid-19 yang masih merebak dan menjangkit masyarakat. Bukan itu saja, masalah perekonomian juga harus jadi perhatian. Apalagi belakangan, harga-harga sembako meningkat. Ditambah lagi masalah perpolitikan di Indonesia juga. Dengan banyaknya masalah ini, maka kita harus mengambil peran.
Salah satunya dengan membangun kembali budaya gotong royong. Gotong royong maksudnya adalah bersama-sama dalam menyelesaikan masalah maupun pekerjaan. Jikalau pemerintah kewalahan, maka masyarakat membantu. Bantuan itu dapat berupa saran, masukan dan kritik maupun dengan tindakan nyata.
Sebagai contoh, dalam menghadapi pandemi Covid-19, dapat dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan dengan ketat seperti pakai masker, cuci tangan, jaga jarak dan lain sebagainya. Menghadapi masalah perekonomian seperti harga sembako naik, maka kita bertugas mengurangi pemakaian minyak goreng dan tidak memakan tahu atau tempe untuk sementara waktu.
Cara tersebut adalah bentuk peran serta kita membangun budaya gotong royong. Kita tak boleh ikut memperumit masalah dengan masalah baru. Kita jangan meminta dengan cara-cara kekerasan, tetapi dengan santun dan penuh dengan kehormatan. Budaya gotong royong merupakan cara yang ampuh dalam meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan sebagai anak bangsa.
Budaya gotong royong itu adalah kebersamaan kita memecahkan setiap masalah sulit di negeri ini. Sebab itu, kita jangan melakukan hal-hal di luar aturan dan adab kehidupan bermasyarakat. Bergotong royong adalah cara terbaik yang harus kita ambil saat ini untuk menciptakan kesejahteraan dan keadilan.
Sebab itu, pemerintah pun harus setiap waktu menyampaikan dan mengajak seluruh anak bangsa menerapkan budaya gotong royong dalam kehidupan. Kita dapat memulainya dengan cara sederhana dulu seperti ikut membersihkan lingkungan rumah, membuat acara bantuan kesehatan dan pendidikan serta banyak lagi. Dengan demikian, negara akan sangat terbantu dengan peran serta masyarakat menguatkan budaya gotong royong.
Perlu diingat juga, jangan sampai kita bertengkar karena sebuah urusan, agenda kegiatan maupun sesuatu acara yang melibatkan kita. Apa yang sulit dikerjakan maka diselesaikan dengan cara bergotong royong tadi. Alhasil, kita bisa mendapatkan apa yang menjadi keinginan seluruh masyarakat. Mari bergotong royong dimulai dari sekarang dalam menghadapi masalah di negeri ini.
Baca Juga
-
Pesona Veteran di Piala Dunia 2026: Pembuktian Kualitas Melampaui Usia
-
Dihalangi Visa hingga Diusir: Mengapa Iran Jadi Korban Diskriminasi di Piala Dunia 2026?
-
Bukan Sekadar Menang: Pelajaran Berharga dari Suporter Jepang di Piala Dunia 2026
-
Saatnya Bersuara: Menghentikan Eksploitasi Hutan Sebelum Terlambat bagi Orangutan
-
Beras Mahal Menjerit, Beli Rokok Sanggup: Ironi Prioritas Keluarga Indonesia
Artikel Terkait
-
Sampah Menggunung di Kampung Nelayan Kalibaru, 250 Orang Petugas Dikerahkan Untuk Bersih-bersih
-
3 Cara yang Harus Dilakukan Pemerintah untuk Menciptakan Kepuasan Publik, Salah satunya Mendengar Aspirasi
-
4 Dampak bila Anak Berada di Lingkungan Keluarga yang Toxic
-
4 Faktor yang Membuat Anak Berani Melawan Orang tua, Penting untuk Dicatat!
Kolom
-
Saat Jam Tidur Dilonggarkan: Nostalgia Masa Kecil Menonton Piala Dunia dengan Keluarga
-
Jika Gaji Rp 8 Juta Masuk Kategori MBR, Apa Kabar Karyawan yang Mentok UMR?
-
Mahasiswa Demo Atas Nama Rakyat: Tapi Rakyat yang Mana?
-
Di Balik Kenaikan Tarif Visa Jepang: Ada Saringan Kelas yang Disembunyikan?
-
Sindrom Ring of Fire: Mengapa Gempa Jepang Bikin Kita Refleks Panik?
Terkini
-
Piala Dunia 2026: Cetak Rekor, Erling Haaland Kian dekat Raih Gelar Topskor
-
Prediksi Curacao vs Pantai Gading: Misi Panas Kedua Tim di Philadelphia
-
The Bodyguard From Beijing: Film Jet Li yang Bikin Masa Kecil Kita Berdebar-debar
-
Analisis Taktik Ekuador vs Jerman: Die Mannschaft Jaga Mental Juara
-
5 Serial Netflix Terbaik 2026 yang Wajib Masuk Daftar Tontonan