Pada tanggal 12 Februari di setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Anti Tentara Anak Sedunia atau yang lebih populer dengan nama Red Hand Day. Melansir dari situs National Today, peringatan ini mulai digaungkan pada konvensi PBB di Jenewa yang membahas tentang Hak anak yang juga mengesahkan mengenai penanggulangan keterlibatan anak-anak dalam konflik bersenjata di dunia.
Seperti yang diketahui, penggunaan anak-anak dalam konflik militer di seluruh dunia sudah menjadi rahasia umum sejak lama. Bahkan, menurut beberapa catatan sejarah anak-anak dilibatkan dalam konflik sejak abad ke-19.
Isu permasalahan ini kemudian semakin terlihat pada abad ke-20 pada saat meletusnya perang dunia ke-1 dan ke-2. Penggunaan tentara anak dalam konflik bersenjata seakan-akan tidak pernah ada habisnya hingga hari ini pada setiap konflik militer di dunia.
BACA JUGA: Ternyata Ada Masjid Arsitektur China di Jambi, Ini Potretnya!
Penyematan Kejatahan Perang Seakan-akan Kurang Efektif Menanggulanginya
PBB melalui beragam lembaga telah menetapkan bahwa penggunaan anak-anak di bawah usia 18 tahun dalam konflik bersenjata di seluruh dunia merupakan sebuah kejahatan perang.
Namun, pada kenyataannya hal tersebut tetap tidak bisa mengurangi jumlah keikutsertaan tentara anak dalam beragam konflik di seluruh dunia. Dilansir dari situs UNICEF, pada kurun waktu 2005 hingga 2020 saja sudah ada lebih dari 93.000 tentara anak yang terkonfirmasi terlibat dalam konflik bersenjata di seluruh dunia.
Jumlah itu tentunya bisa bertambah mengingat perekrutan tentara anak tersebut selalu dilakukan secara masif dan terselubung di setiap konflik. Bahkan, diprediksi jumlah tentara anak diseluruh dunia telah mencapai lebih dari 100.000 jiwa.
Hal tersebut dikarenakan pada setiap konflik, anak-anak selalu menjadi pihak yang mudah untuk dipengaruhi dengan beragam propaganda baik secara halus maupun secara paksa. Umumnya mereka mendapatkan doktrin bahwa berjuang di sisi pemberontakan akan membuat mereka menjadi pahlawan bagi negara dan bangsanya.
Umumnya pihak yang menyematkan dirinya sebagai oposisi pemerintah atau pemberontak selalu menggunakan cara tersebut dalam melakukan perektrutan tentara anak. Beberapa konflik seperti di Afrika dan Timur tengah di era modern ini seringkali menjadi pusat penggunaan tentara anak ketika adanya konflik. Hal tersebut tentunya menjadi sebuah permasalahan yang cukup besar apabila tidak ditemukannya jalan keluar yang lebih konkrit.
Dampak Dari Penggunaan Tentara Anak dalam Konflik
Penggunaan tentara anak dalam setiap konflik nyantanya tidak hanya dipergunakan sebagai tentara kombatan atau prajurit pada umumnya. Bagi sebagian anak, khususnya para gadis mereka seringkali diperlakukan selayaknya para budak seks yang menjadi korban pelecehan baik sesama anak maupun tentara dewasa. Selain itu, biasanya para anak-anak ini juga dijadikan sebagai lini cadangan atau pembantu seperti pengangkut logistik, pengintai ataupun tukang masak dan perbekalan.
Hal inilah yang seringkali meninggalkan trauma bagi para anak-anak bekas tentara anak tersebut yang seringkali susah untuk disembuhkan. Permasalahan inilah yang seringkali menjadi hal yang paling ditakutkan oleh banyak pihak. Trauma yang dialami oleh anak-anak memang seringkali menjadi pemicu dari berbagai hal yang dilakukan mereka di masa depan.
Oleh karena itu, banyak pihak mulai menggalakkan pusat rehabilitasi yang diperuntukan terhadap mantan tentara anak dari berbagai negara. Mereka didampingi secara psikologis oleh para ahli dalam masa rehabilitasi tersebut. Meskipun langkah ini dianggap sebagai salah satu jalan keluar dalam menanggulangi efek dari penggunaan tentara anak, akan tetapi diharapkan beragam pihak dapat menemukan jalan keluar yang lebih efektif dalam menghentikan permasalahan dari penggunaan tentara anak tersebut.
Baca Juga
-
Jay Idzes Cedera Parah, Terancam Absen di Ajang FIFA Matchday November?
-
Dean Zandbergen Batal Jadi WNI, Duo Striker Brazil Justru Bisa Bela Timnas!
-
Direstui oleh John Herdman, Taisei Marukawa Segera Bela Timnas Indonesia
-
Indonesia Masuk Nominasi Grassroots dari AFC, Bukti Majunya Pembinaan Lokal
-
Jelang Piala Asia, Indonesia Lakoni 2 Laga Uji Coba Lawan Tim Timur Tengah
Artikel Terkait
-
Mengenal Sosok Paul Partohap, Suami Gitasav Ternyata Seorang Dokter dan Musisi
-
Annisa Pohan Merasa Selalu Muda Karena Punya Anak, Netizen: Seperti Adik dan Kakak
-
Bayang Mimpi Buruk dari Balik Rental PS: Trauma Mendalam 17 Korban Kekerasan Seksual di Jambi
-
10 Nama Laki-Laki dan Perempuan Terpopuler di Indonesia Versi Dukcapil, Ada Nama Anak Artis Juga, Lho!
-
Siap Menyambut Bayi Baru, Ini 7 Momen Gender Reveal Anak kedua Randy Pangalila
Kolom
-
Negara Minta Inovasi, tetapi Pelaku Agribisnis Justru Dipersulit
-
Fenomena Tren Hopping: Ambisi Kekinian yang Merusak Identitas Diri
-
Tren Soft Life dan Isu Mental Health: Bisakah Hidup Tenang Tanpa Harus Kaya?
-
Pajak Bukan Uang Cuma-cuma: Rakyat Berhak Menuntut Pertanggungjawaban
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
Terkini
-
Suho EXO dan Park Hee Soon Jadi Ayah-Anak di Film Aksi A Father's Secret
-
Prediksi Liverpool vs Arsenal: The Gunners Dibayangi Rekor Buruk di Anfield
-
Ulasan Cerpen Lotre dalam Buku Lotre dan Cerita-Cerita Lainnya
-
Rayakan 20 Tahun The Black Parade, MCR Rilis Film Pendek Prelude to The End
-
Review Laut Bercerita: Ketika Luka Sejarah Menolak Tenggelam dalam Ingatan