Belakangan ini ramai diperbincangkan pekerja yang resign dengan alasan tidak ingin transit di Stasiun Manggarai. Banyak opini yang bermunculan akibat kejadian tersebut. Opini tersebut tentunya berbeda-beda dari setiap orangnya. Ada yang pro dan mendukung, ada juga yang kontra menganggap hal tersebut berlebihan.
Seperti yang kita ketahui, Stasiun Manggarai adalah stasiun sentral yang terletak di kota Jakarta Selatan. Stasiun ini merupakan stasiun paling aktif serta padat merayap di Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh jalur Stasiun Manggarai yang mengarah ke tempat-tempat pusat yang menjadi tujuan mayoritas orang di ibu kota.
BACA JUGA: 4 Fakta Menarik Stasiun Manggarai, Menyimpan Kisah Mistis 'Kereta Hantu Manggarai'
Stasiun Manggarai memiliki jalur yang mengarah ke Jatinegara, Tanah Abang, Bogor, dan lain-lain. Pengguna kereta api yang transit di Manggarai tentu selalu membludak dari pagi hingga malam, dari jam berangkat kerja sampai jam pulang kerja.
Mengenai pekerja yang mengundurkan diri dari tempat kerjanya demi menghindari transit di Manggarai, menurut saya wajar tak wajar.
Wajar dan bisa dimengerti apabila seorang karyawan resign dari tempat kerjanya demi menghindari kepadatan Stasiun Manggarai.
Tingkat stres sepulang kerja yang dipadukan dengan suasana ramai nan sumpek Stasiun Manggarai tentu bukanlah suatu perpaduan yang baik untuk kesehatan mental. Belum lagi bahaya tindak kejahatan (copet) yang bisa saja terjadi di tempat padat tersebut.
BACA JUGA: Stasiun Manggarai Trending di Twitter, Panen Keluhan Pengguna Jasa KRL
Perihal kenapa pekerja tersebut tidak mencari alternatif lain seperti menggunakan ojek online atau angkutan lain, orang tersebut pasti sudah terpikirkan sebelum resign dan memang tidak menemukan jalan keluar. Mengingat harga tiket kereta api terhitung paling terjangkau di antara kendaraan umum lainnya di Jakarta.
Namun, alasan resign kerja karena Manggarai ini sekilas konyol dan tak wajar juga. Karena seperti yang dirasakan banyak orang, mencari dan menemukan pekerjaan baru yang benar-benar cocok untuk kita bukanlah hal yang mudah di negara ini. Indonesia memiliki lapangan pekerjaan yang tidak sebanding dengan jumlah masyarakat produktifnya.
Daripada memilih jadi pengangguran yang tidak jelas sampai kapan waktunya, bukankah lebih baik bersabar menghadapi Manggarai yang pasti akan segera mendapat penanganan pemerintah atau memilih alternatif kendaraan umum lain meski harganya lebih mahal?
Tetapi bagaimana pun, setiap orang berhak mengambil keputuasannya sendiri. Wajar ataupun tak wajarnya hal tersebut menurut orang lain, tak ada pengaruhnya untuk pribadi orang tersebut.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Xdinary Heroes Umumkan Tanggal dan Kota Tur Dunia 2025 "Beautiful Mind"
-
Selesai Wamil, Kai EXO akan Lanjutkan Siaran TV Detective: The Trade Secret
-
Solar MAMAMOO Bagikan Teaser Pertama untuk Comeback April dengan "WANT"
-
Yukaris, Fan Cafe Resmi Kim Soo Hyun Beri Klarifikasi soal Isu Penutupan
-
Sukses Main Drama Bareng, Park Bo Gum dan IU Kini Bersatu di "IU's Palette"
Artikel Terkait
-
Penyaluran KUR Pekerja Migran Pindah ke BP2MI: Ini Kata Menteri UMKM
-
Saatnya Resign setelah Lebaran?
-
Dinilai Jadi Penghambat, Wamenaker Cari Cara Hapus Pembatasan Usia Pelamar Kerja
-
Wamenaker Noel Sowan ke Markas FPI, Habib Rizieq Minta Tekan Angka Pengangguran
-
ASN Tak Boleh Telat di Hari Pertama Masuk Kerja Usai Lebaran, Wamendagri: Nggak Bisa Santai-santai!
Kolom
Terkini
-
Review Anime Solo Leveling Season 2, Sung Jin-Woo Semakin Overpower
-
Piala Asia U-17: Media Vietnam Kritik Postur Tubuh Skuad Timnas Indonesia
-
Ulasan Manga Sesame Salt and Pudding: Potret Romantis Pernikahan Beda Usia
-
Ulasan Novel Notes from Underground: Memahami Pemikiran Eksistensialis
-
Review Film Pabrik Gula: Teror dengan Kombinasi Kocak yang Seru Banget!