Kenapa, ya, orang tua lebih senang anaknya mahir bahasa asing daripada bahasa Indonesia atau bahasa daerahnya sendiri? Belakangan ini saya menemukan video anak-anak artis dan selebgram yang berseliweran di beranda medsos, mereka fasih saat berbicara dengan bahasa Inggris.
Hal membuat saya resah adalah mereka justru tidak terlalu menguasai bahasa Indonesia atau bahasa daerah, yang mana seharusnya itu menjadi bahasa ibu mereka.
Nah, kalau anak-anak di masa depan lebih cenderung dibiasakan menggunakan bahasa asing, bagaimana nasib bahasa Indonesia dan bahasa daerah kita?
Sama halnya saat saya pernah bertemu dengan anak umur 5 tahunan bersama bapaknya di sebuah kedai kopi. Saya terkejut kala bapak dari anak itu menggunakan bahasa Inggris saat berbicara dengan anaknya, awalnya saya kagum karena si anak juga bisa menjawab dengan lancar.
Akan tetapi, yang agak mengganggu pikiran saya adalah anak itu malah bertanya apa 'thank you' dalam bahasa Indonesia. Seketika terbesit dalam benak saya kalau begini caranya bahasa Indonesia bisa segera punah, lebih-lebih bahasa daerah.
Melansir dari laman Balai Bahasa Kalimantan Selatan, di era sekarang ini tantangan dalam menggunakan bahasa Indonesia semakin berat, terbukti di ruang publik bahasa Indonesia mulai tergantikan dengan bahasa asing.
Di mall kita lebih sering menemukan kata berbahasa Inggris seperti exit, lobby, toilet, no smoking, dan lain-lain. Dalam aktifitas sehari-hari kita juga lebih familiar dengan kata download daripada unduh, upload daripada unggah, dan save daripada simpan.
Dengan ini secara tidak sadar, tak hanya orang dewasa, anak-anak pun juga akan terbiasa dengan barang-barang atau aktifitas yang menggunakan bahasa asing.
Belajar bahasa asing memang sangat penting dilakukan, mengingat seiring berkembangnya zaman, seseorang dengan kemampuan bahasa asing juga makin dibutuhkan. Akan tetapi, bukan berarti bahasa Indonesia dan bahasa daerah boleh diabaikan.
Sebagai orang yang sehari-hari belajar tentang bahasa, saya menganggap tiga bahasa itu (bahasa asing, Indonesia, dan daerah) wajib dipelajari, utamanya oleh anak. Karena suatu saat, 3 bahasa itu akan digunakan sesuai kebutuhannya sendiri-sendiri.
Misalnya, untuk belajar dan mengikuti perkembangan kita butuh bahasa asing, kemudian untuk kegiatan resmi kita butuh bahasa Indonesia, dan saat berbicara dengan orang tua atau bergaul dengan lingkungan kita butuh bahasa daerah.
Oleh karena itu, penting untuk selalu mengingat intisari amanat UU No.24/2009, yakni 'Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing'.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Makin Canggih, Ini 4 Kelebihan dan Kekurangan Teknologi dalam Sepak Bola
-
Bukan Aksesori, Ini 6 Fungsi Jam Tangan yang Digunakan Wasit Sepak Bola
-
MotoGP Jerman 2026: Kembali ke Sachsenring, Marc Marquez Siap Juara Lagi?
-
Bukan Hanya VAR, Ini 7 Teknologi Canggih yang Digunakan di Piala Dunia 2026
-
Terungkap! Ini 7 Alasan Kenapa Jersey Sepak Bola Piala Dunia Harganya Mahal
Artikel Terkait
Kolom
-
Tren Soft Launching Pacar: Estetika Romantis atau Taktik Manipulasi Berkedok Privasi?
-
Euforia Kelulusan: Mengapa Perayaan Boleh, Tapi Penggunaan Gelar Harus Ditahan?
-
Ketika Negara Tidak Kompak, Rakyat Harus Apa?
-
Validasi Sosial Mengalahkan Literasi: Mengapa Kita Lebih Takut Kusam daripada Bodoh?
-
Benarkah Gen Z Memang Generasi yang Gampang Bosan?
Terkini
-
Layak Tonton atau Lewatkan? Kupas Tuntas Film Moana Live Action 2026
-
Tim FIP UNY Bekali Guru PCM Tonjong Modul Ajar Berbasis Deep Learning
-
FH UNY Gelar PkM di MIM Tonjong, Kenalkan Pendekatan 'Deep Learning' untuk Guru Muhammadiyah
-
Lebih dari Sekadar Kungfu: Mengapa Tai Chi Master adalah Film Jet Li yang Paling Ngenes?
-
Diundur Sebulan, Sony Pictures Jadwalkan The Nightingale Rilis Maret 2027