Setahun sudah aku menyandang status pengangguran. Hidup terasa nyaman karena biaya hidup ditanggung orang tua, tetapi pikiran tak lagi waras. Teriakan dari kiri dan kanan membuatku ingin rasanya lenyap dari dunia ini.
"Percuma sarjana kalau masih duduk di rumah."
"Lihat anak si Fulan, lulus kuliah langsung bekerja."
"Kalau duduk di rumah saja, bagaimana mau dapat kerja?"
Begitu banyak kata-kata yang membuat diri ini semakin tidak tenang. Sudah puluhan lamaran yang aku ajukan (apply), tetapi tidak ada satu pun yang diterima. Bukan karena aku tidak punya kemampuan (skill), melainkan sering kali "orang dalam" yang membuatku tersingkir.
Kini, pada lamaran ke-100, aku dipanggil wawancara. Bukan di kampung halamanku, melainkan di kota tempat aku kuliah dulu, Bukittinggi. Saat mendapatkan surel (email) panggilan wawancara tersebut, aku tidak lagi melompat kegirangan seperti sebelumnya. Aku hanya memohon doa restu Bunda agar wawancara esok dilancarkan.
Saat aku hendak berangkat, entah kenapa raut wajah Bunda tak seperti biasanya. Ia menitipkan pesan yang membuatku bertanya-tanya, "Nanti kalau tidak diterima, pulang saja, ya!" Bukannya memberikan semangat, pesannya malah membuat perasaanku tidak keruan.
Sampai di alamat tujuan, hal pertama yang kulihat bukanlah sebuah kantor, melainkan ruko yang sudah mulai usang. Dalam pikiran, aku bertanya apakah aku ditipu? Namun, alamatnya benar. Dengan berat hati aku masuk, dan anehnya, bagian dalam ruko itu didesain layaknya kantor. Aku pun mulai percaya.
Dalam bayanganku, wawancara akan dilakukan oleh HRD. Namun nyatanya, aku berhadapan dengan seorang staf wanita berbadan agak gemuk. Dari logatnya, aku bisa menilai ia orang Medan. Saat berkasku diminta, aku tidak ditanya terkait administrasi, melainkan diperkenalkan dengan produk alat kesehatan dari bebatuan yang dirangkai membentuk tasbih dan semacamnya. Harga jualnya tak begitu bersahabat di kantong. Aku menyimak setiap penjelasannya. Arah pembicaraannya mengisyaratkan bahwa aku akan dilatih (training) selama satu bulan sebagai sales.
Pertanyaanku satu, "Bu, saya melamar sebagai staf administrasi, kenapa pelatihannya menjadi sales?"
Pertanyaanku tidak dijawab. Ia tak lagi menerangkan soal produk, tetapi memintaku datang lagi esok hari. Katanya, terkait pelatihan akan dijelaskan oleh pimpinan. Aku penasaran, apakah benar untuk menjadi staf administrasi pelatihannya harus menjadi sales? Apa kaitannya?
Karena penasaran, aku datang lagi sesuai instruksi. Aku sedikit terlambat karena jarak indekos temanku lumayan jauh. Saat sampai, aku diajak masuk lebih jauh ke dalam ruangan. Muncul rasa takut, tetapi segera kutepis saat mendengar suara laki-laki dan perempuan yang sedang melakukan ice breaking.
Di salah satu ruangan, aku diminta bergabung tanpa ada sesi perkenalan. Pekerjaan apa ini? Hatiku kembali gelisah melihat pemandangan laki-laki dan perempuan yang berpegangan tangan. Mereka melakukannya karena sedang ada permainan (game). Aku tidak terbiasa dengan hal semacam itu karena lingkunganku mengajarkan batasan yang ketat antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.
Tiba di akhir kegiatan, salah seorang laki-laki mendekatiku dan mengulurkan tangan. Cukup lama kupandangi tangannya yang terjulur, baru kemudian kubalas dengan mendekapkan tangan di dada. Ia tersenyum dan berkata, "Maaf, kamu tidak terbiasa bersalaman dengan laki-laki, ya?" Aku hanya tersenyum dan meminta maaf kembali.
Dalam kegiatan pagi yang singkat itu, perasaanku campur aduk. Aku menyukai kekompakan dan semangat mereka. Apalagi sebelum turun ke lapangan, semua orang di sana melaksanakan salat dhuha terlebih dahulu. Mereka berdoa diiringi tangis dan penuh harap. Aku pun ikut menangis selesai salat. Yang kutangisi bukan soal "bagaimana nanti", melainkan apakah ini benar-benar jalan yang Tuhan berikan atau justru sebuah jebakan?
Sekitar pukul 08.30, semua orang bergerak dengan tim masing-masing. Aku diminta bergabung dengan tim yang menuju Kota Padang Panjang. Dalam timku ada orang baru juga, katanya ia baru lulus SMA dan bergabung tiga hari yang lalu. Di perjalanan, sambil mempelajari strategi meyakinkan calon pelanggan, aku mencari tahu lebih banyak informasi.
Hal yang sangat mengejutkan, orang-orang di sana bukan hanya warga Bukittinggi, melainkan ada yang datang jauh-jauh dari Lampung, Medan, hingga Jawa. Semuanya diminta menjadi sales terlebih dahulu. Antara yakin dan tidak yakin, aku merasa terjebak, sekaligus merasa baru saja dikenalkan dengan dunia yang belum pernah kujamah.
Hari itu sangat melelahkan. Kami menyusuri hampir setengah daerah di Padang Panjang. Aku melihat calon pelanggan yang ragu, bahkan kami ditolak dan diusir dari rumah mereka. Aku mengira saat jam makan siang tiba, kami akan singgah di rumah makan karena perutku sudah keroncongan dan kakiku pegal. Nyatanya, mereka hanya singgah di warung kecil yang menjual makanan ringan. Lebih mengejutkan lagi, makan yang dijanjikan perusahaan ternyata hanya sarapan pagi. Untuk makan malam, ada jadwal piket memasak masing-masing. Lelucon apa ini?
Hari hampir sore dan masih ada satu tempat lagi yang harus didatangi sebelum kembali ke Bukittinggi. Saat itu, aku meyakinkan diri untuk tidak melanjutkan. Untuk memantapkan hati, aku bertanya pada ketua tim mengenai posisi apa yang ia lamar dahulu. Ternyata, dia memang melamar sebagai sales dan sudah tiga bulan meninggalkan Pulau Jawa untuk merantau ke Bukittinggi. Aneh, biasanya orang merantau ke Jawa, kenapa ini sebaliknya?
Sejauh ini, aku sudah tahu keputusan yang harus kuambil. Aku bersyukur sempat masuk ke dalam tim mereka. Semangat mereka membuatku paham bahwa bekerja bukan sekadar soal uang. Terkadang kita harus merasakan perih terlebih dahulu sebelum melihat hasil yang sesungguhnya.
Namun, maaf, aku memilih mundur dan kembali menyandang gelar pengangguran.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Kierkegaard dan Eksistensialisme: Menemukan Makna Hidup di Dunia yang Berisik
-
Bosan Gaya Simpel? Intip 4 Look Bold dan Modern dari Bailey ALLDAY PROJECT
-
Hangout Makin Stylish, Intip 4 OOTD Harian ala Oh Hayoung APINK
-
Pandji Pragiwaksono dan Polemik Mens Rea: Mengapa Kita Sering Dibenturkan Sesama Warga?
-
Novel Promise: Ternyata Jujur adalah Nama Tengah Cinta