M. Reza Sulaiman | Budi Prathama
Søren Kierkegaard. (Instagram/@kierkegaardclub)
Budi Prathama

Hidup di Indonesia zaman sekarang itu lelahnya tidak masuk akal. Kita seolah-olah dipaksa ikut balapan lari yang garis finisnya dipindah-pindah sesuka hati. Syaratnya seragam: pokoknya harus cepat lulus, cepat kerja, gaji dua digit, lalu menikah agar tidak ditanya-tanya terus saat Lebaran. Media sosial pun bertransformasi menjadi wasit yang galak sekaligus panggung pamer. Kalau hidupmu tidak berkilau, tidak produktif, dan tidak estetis, selamat, kamu dianggap gagal menjadi manusia.

Masalahnya, banyak dari kita—terutama yang usianya masih kepala dua atau tiga—mendadak merasa hampa. Padahal, semua daftar tugas (checklist) hidup dari orang tua dan masyarakat sudah dicentang. Namun, mengapa saat malam hari hendak tidur, rasanya ada yang kosong? Mau bertanya, "Hidup ini untuk apa, sih?", malah dibilang kurang bersyukur atau terlalu banyak menonton konten filsafat.

Nah, di saat-saat galau begini, Søren Kierkegaard hadir seperti teman yang tiba-tiba bertanya saat kita sedang asyik berkumpul: "Sebenarnya, kamu itu benar-benar hidup atau hanya menjadi figuran di hidup orang lain?"

Kierkegaard bukan tipe motivator yang akan memberimu jargon "positive vibe" atau cara kaya dalam tujuh hari. Ia justru tipe yang mengajak kita melihat kenyataan pahit bahwa kita akan mati, pilihan kita terbatas, dan hidup memang sering kali mencemaskan.

Menurut Kierkegaard, hidup bukan sekadar bernapas, membayar cicilan, lalu mati. Hidup adalah soal kesadaran sebagai individu yang memiliki kebebasan. Masalahnya, kita sering kali menjadi "budak algoritma". Kita makan di mana, memakai baju apa, sampai memilih karier apa, sering kali merupakan hasil mencontek standar orang lain. Kita lupa bertanya: ini benar-benar keinginanku atau hanya keinginan agar tidak dibilang kurang pergaulan (kuper)?

Beliau juga sangat tidak suka dengan teori-teori besar yang tidak membumi. Baginya, pertanyaan "apa itu manusia" tidak lebih penting daripada pertanyaan "apa yang harus aku lakukan agar hidupku tidak sia-sia". Sayangnya, di negara kita, pertanyaan kedua ini sering kalah telak oleh pertanyaan "kapan nikah?" atau "kerja di mana?".

Kierkegaard juga mengingatkan bahwa kita hanya memiliki satu nyawa dan waktunya tidak lama. Namun, alih-alih membuat kita makin paranoid, ia ingin kita sadar: karena waktu terbatas, janganlah hidup menggunakan mode autopilot. Jangan hanya bangun, kerja, menggulir (scrolling) layar sampai jempol keriting, lalu tidur. Itu bukan hidup, itu namanya simulasi menjadi robot.

Satu lagi yang menarik, Kierkegaard bilang bahwa rasa cemas tidak selalu buruk. Cemas adalah tanda bahwa kita bebas memilih. Kalau kamu cemas soal masa depan, itu wajar karena kamu sadar memiliki kuasa untuk memilih jalanmu sendiri. Sayangnya, kita sering disuruh membungkam rasa cemas itu dengan hiburan instan. Padahal, cemas adalah alarm bahwa jiwa kita butuh jawaban: "Saya ini mau ke mana?"

Ia juga menyindir fenomena "kerumunan". Orang kita paling senang jika melakukan sesuatu bersama-sama. "Yang lain juga begitu, kok," menjadi alasan paling sakti untuk tidak menjadi diri sendiri. Padahal, menjadi manusia autentik itu butuh nyali untuk berdiri sendiri di luar tekanan sosial.

Kierkegaard membagi hidup menjadi tiga tahap. Ada tahap estetis (yang penting senang dan kelihatan keren)—ini tahap paling laku di era digital, tetapi paling gampang membuat hampa. Lalu, ada tahap etis, dan puncaknya adalah tahap religius. Di sini, iman bukan hanya soal ritual formalitas agar dibilang saleh, melainkan hubungan personal yang nekat dan penuh risiko dengan Tuhan.

Intinya, Kierkegaard hanya mau bilang: mumpung masih hidup, beranilah untuk gelisah. Jangan menjadi orang yang asal "baik-baik saja", padahal jiwanya mati. Hidup yang benar-benar hidup bukanlah hidup yang lancar jaya tanpa hambatan, melainkan hidup saat kamu berani mengambil keputusan sendiri, seberat apa pun risikonya.