Yoursay mengadakan kompetisi menulis dengan tema yang sangat menarik, yakni ‘Andai Aku Dapat THR’. Saat pertama kali membaca temanya, aku langsung membayangkan banyak barang yang ada di keranjang kuning yang belum sempat ter-check out, barisan wishlist barang receh di catatan yang belum tercoret, sampai keinginan random yang sebenarnya sangat mulia seperti donasi kepada orang yang membutuhkan.
Sejarah THR
Oke, sebelum masuk ke bagian ‘pengandaian’ versiku, ada baiknya kita mencari tahu terlebih dahulu sejarah THR di negeri kita tercinta ini. Rupanya, setelah menyelam di mesin pencarian beberapa saat, THR pertama kali dibagikan pada tahun 1951 pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Tujuan utama pemberian THR ini pada awalnya adalah untuk memenuhi kebutuhan para pekerja serta buruh agar mereka dapat merayakan hari raya keagamaan. Namun, entah sejak kapan sasaran THR saat ini semakin meluas hingga ke para bocil alias anak-anak.
Bahkan, para bocil ini hidupnya lebih makmur saat momen-momen Lebaran seperti ini karena mendapat THR dari sanak saudara, sedangkan para pemuda (remaja hingga dewasa) dianggap sudah terlalu besar dan tidak membutuhkan THR lagi.
Itu sama sekali tidak benar! Aku yakin semua orang dewasa setuju bahwa semakin dewasa seseorang, kebutuhan finansial juga akan semakin meningkat. Jadi, seharusnya jangan hanya bocil saja yang diistimewakan.
Andai Aku Dapat THR
Baiklah, sekarang aku akan masuk ke bagian ‘berandai-andai’. Andai aku dapat THR dari Yoursay melalui kompetisi menulis ini, aku akan mempertimbangkan beberapa hal terkait pengunaan uang THR tersebut. Implementasi atau pelaksanaan dapat berubah tergantung situasi dan kondisi di masa depan.
Berikut adalah tiga pertimbangan alokasi dana THR ala aku, andai aku dapat THR dari kompetisi menulis ini.
1. Segera mengosongkan keranjang kuning
Pertimbangan pertama ini sebenarnya bersifat impulsif, karena inilah yang petama kali terlintas di pikiranku saat membaca tema kompetisi menulis kali ini. Jangan salah paham dulu, isi barang-barang yang ada di keranjang kuning di market place-ku tidak semuanya receh dan unfaedah.
Ada beberapa buku, mulai dari fiksi sampai nonfiksi, yang sudah menjadi incaranku sejak lama. Jika seandainya aku mendapat uang THR dari kompetisi ini, aku jamin akan digunakan untuk membeli barang-barang berfaedah seperti buku untuk mengurangi beban dan limit keranjang kuningku (walaupun buku bukan kebutuhan tersier, tapi ini bukan tentang kebutuhan pokok, melainkan hobi!).
2. Didonasikan sebagian untuk mereka yang membutuhkan
Pertimbangan kedua, didonasikan. Sangat mulia, bukan? Namun, aku sadar aku juga masih membutuhkan uang tersebut. Jadi, jika memang ‘pengandaian’ ini akhirnya jatuh pada opsi kedua, aku akan mendonasikannya sekian persen. Sisanya? Masih dipertimbangkan.
Berdonasi kepada orang yang membutuhkan tentu perbuatan yang mulia, apalagi di momen Lebaran ini. Apa aku donasikan dalam bentuk THR saja kepada para bocil di lingkungan sekitar? Tapi jika hal ini aku lakukan, aku jadi tidak konsisten dengan perkataanku di awal tadi tentang korelasi antara usia dan THR.
3. Menabung untuk kebutuhan mendatang
Pertimbangan ketiga ini cukup bijak, yakni jika aku mendapat THR, maka akan aku menabung. Pertimbangan yang sangat bijak, sekaligus sangat sulit. Biasanya uang yang didapat dari hasil hadiah atau diberi oleh seseorang jarang sekali bisa ditabung, inginnya dibelanjakan sesuatu seperti barang tertentu sebagai kenang-kenangan.
Aku meletakkan ‘pengandaian’ ini di urutan ketiga karena tahu tantangan menabung ini lebih sulit. Meski demikian, aku harap jiwa-jiwa hematku berada dalam keadaan mendominasi nantinya jika memang aku berhasil mendapat THR!
Keputusannya?
Akhirnya, semua tergantung situasi dan kondisi nanti. Belum tentu juga aku yang dapat THR nantinya. Tapi tidak ada salahnya berandai-andai.
Setelah dipikir ulang, aku bisa saja mengalokasikan dana yang didapat ke ketiga poin yang ada. Andai aku dapat THR, aku akan check out satu barang yang tidak terlalu mahal, sisanya akan diberikan kepada orang yang membutuhkan, sisa dari semuanya akan ditabung. Terdengar lebih bijak, bukan?
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
5 Sepatu Bola Terbaik 2026: Harga Mulai 100 Ribuan, Kualitas Nggak Main-Main
-
Membongkar Perempuan di Titik Nol: Kisah Nyata yang Lebih Ngilu dari Fiksi
-
Laptop Berat dan Susah Dibawa? Ini 5 Rekomendasi Paling Tipis dan Ringan!
-
Bye-Bye Mata Panda! 4 Eye Cream Korea Ini Bikin Area Mata Makin Cerah
-
Rambut Rontok Parah? Ini 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik Mulai Rp30 Ribuan
Artikel Terkait
-
Beri Hadiah di Bulan Ramadan hingga THR di Hari Raya, Ternyata Pahalanya Berlipat Ganda!
-
Rahasia Kelola THR: Pisahkan di Rekening Lain, Mudah Buka Rekening BRI Lewat BRImo
-
Hindari THR Ludes Sia-sia! Simpan di Tabungan BRI, Mudah Buka Rekening Lewat BRImo
-
Tips dan Trik Siasati Anggaran Mudik Agar Tak Membludak: Cari Tiket Promo!
-
Sandra Dewi dan Harvey Moeis Beri THR ke ART Setara Gaji Satu Tahun, Gimana Nasibnya Sekarang?
Kolom
-
100 Tahun Naar de Republiek Indonesia: Menelanjangi Neokolonialisme 2026, Republik untuk Siapa?
-
Kenapa La Copa de la Vida dan Waka Waka Masih Jadi Jawaranya Lagu Piala Dunia?
-
Cara Saya Menemukan Kembali Makna Proses di Balik Lembar Pengesahan Skripsi
-
Membaca Hasil Survei MBG: Dari Kepuasan Menuju Kapabilitas
-
Sebuah Ironi: Saat Akses Pendidikan Kalah Cepat dari Program Makan Siang
Terkini
-
Bukan Mistis! Ini Alasan Kenapa Kamu Sering Lihat Wajah Makhluk Hidup di Benda Mati
-
Review Dukun Magang: Komedi Absurd yang Sukses Bikin Merinding Sekaligus Ngakak!
-
Bukan Karena Malas, 5 Hal Ini Jadi Alasan Utama Kenapa Kamar Anak Kos Cepat Berantakan
-
Tanpa Jeda
-
Review The Gangster, The Cop, The Devil: Adu Brutal Polisi Nekat dan Bos Mafia Melawan Sang Iblis