Sebagaimana negara yang memiliki keberagaman, Indonesia sepatutnya meningkatkan kesadaran sosial khususnya pada nilai inklusif. Inklusif berarti melibatkan dan mengikutsertakan semua orang dari berbagai kelompok tanpa terkecuali. Maka setiap warga negara pantas mendapatkan apa yang sudah menjadi hak mereka, termasuk para teman tuli. Anugerah yang diterima oleh para teman tuli sekaligus menjadi tantangan untuk seluruh pihak agar dapat menciptakan ruang publik yang seimbang.
Keterbatasan Interaksi Antara Teman Tuli dan Teman Dengar
Perbedaan cara komunikasi seringkali mengakibatkan terbatasnya interaksi antara teman tuli dan teman dengar. Terlebih lagi, edukasi mengenai bahasa isyarat sangat minim sehingga kurang familiar untuk sebagian besar masyarakat. Mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi belum ada peraturan wajib bisa berbahasa isyarat, baik bagi peserta didik maupun pengajar.
Ironisnya, aturan wajib bisa berbahasa asing sering kali dikumandangkan dengan kencang, padahal ini sama-sama persoalan bahasa yang menjembatani interaksi satu individu dengan individu lainnya. Sekolah dan perguruan tinggi yang memiliki peran dalam mendidik seharusnya menjunjung tinggi nilai inklusif, namun sangat disayangkan hal mendasar seperti bahasa isyarat justru kurang diperhatikan secara merata dalam lingkup pendidikan.
Bahasa Jadi Sekoci Menuju Indonesia yang Inklusif
Organisasi tuli pertama di Indonesia yakni GERKATIN (Gerakan Untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) selalu berupaya dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan bagi teman tuli. Bahasa jadi salah satu sekoci yang dikemudikan oleh GERKATIN dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap nilai inklusif. Pengadaan pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) dilakukan oleh GERKATIN untuk mengedukasi masyarakat sekaligus menghapus keterbatasan interaksi dengan para teman tuli.
Menurut keterangan Vinta, seorang teman tuli yang berkuliah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta sekaligus sebagai sekretaris GERKATIN Dewan Perwakilan Daerah DIY, menyatakan bahwa pelatihan Bisindo yang diselenggarakan oleh GERKATIN bersifat gratis dan terbuka untuk umum. Baginya, kegiatan ini menjadi wadah untuk membangun relasi bagi teman tuli dan teman dengar, juga sebagai sarana belajar para teman tuli dalam mengadakan sebuah acara.
Melalui bahasa, GERKATIN telah berhasil meningkatkan pengetahuan tentang Bisindo sekaligus membuka ruang bagi teman tuli dan teman dengar untuk mengembangkan potensi diri mereka. Aksi yang diselenggarakan oleh GERKATIN dapat menjadi contoh bagi seluruh pihak terutama institusi pendidikan. Peran dunia pendidikan diharapkan mampu memberi literasi dan pelatihan Bisindo guna meningkatkan pengetahuan sekaligus sebagai pergerakan menuju Indonesia yang lebih inklusif.
Artikel Terkait
Kolom
-
Pensiun Aparat Diulur, Loker Sipil Berumur
-
Kutukan di Balik Dapur SPPG: Ketika Rakyat Miskin Nyaman Jadi Buruh Murah
-
Saat Tentara Harus Pegang Cangkul: Tamparan untuk Birokrasi Sipil Kita
-
Nobar Piala Dunia Jadi Momen Bonding Keluarga yang Tak Tergantikan
-
Piala Dunia 2026: Akankah Messi dan Argentina Kembali Berpesta?
Terkini
-
Marco Bezzecchi vs Marshal: Valentino Rossi Tak Menyangka Muridnya Diskors
-
Anti-Apek! 4 Parfum Pria Paling Segar Buat Dipakai Gym dan Olahraga Outdoor
-
Proklamasi di Kedai Kopi: Lahirnya Republik Marilah Cerita
-
Demi Krypto dan Cinta: Pengorbanan yang Menjadi Jantung Film Supergirl
-
Nuku: Sultan Pemberontak yang Mengguncang Imperium VOC di Nusantara Timur