Tak terasa, Agustus tahun ini kita akan merayakan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, di tiap desa, begitu riuh masyarakat menyambut hari kemerdekaan dengan memasang bendera, umbul-umbul, beragam hiasan warna-warni di tepi jalan atau gang, dan tentunya diramaikan dengan berbagai perlombaan.
Harus saya akui, effort masyarakat Indonesia dalam merayakan kemerdekaan memang patut diacungi jempol. Namun, ada hal yang mengganggu benak saya, terkait dana yang digunakan untuk merayakan kemerdekaan yang tentunya tidak sedikit.
Biasanya, perangkat atau petugas di tiap desa akan menarik iuran ke tiap warga dengan nominal yang telah ditentukan. Besaran iuran tentunya sangat beragam antara satu desa dengan desa yang lainnya.
Di desa saya sendiri, per kepala keluarga ditarik Rp40.000. Mungkin iuran sejumlah nominal tersebut tampak sangat kecil dan sepele bagi mereka yang memiliki gaji tetap atau pekerjaan yang mapan. Sementara bagi mereka yang miskin atau belum memiliki pekerjaan, tentunya akan menjadi beban tersendiri.
Nyatanya, dalam praktiknya, saya menyaksikan tak semua warga menyerahkan iuran sesuai dengan nominal yang telah ditentukan. Ada yang cuma bisa bayar separuhnya saja.
Dari fakta tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tak semua warga mampu untuk membayar iuran tersebut. Terlebih bagi mereka yang hidupnya pas-pasan. Di tambah kondisi perekonomian saat ini yang bisa dibilang begitu memprihatinkan. Pasar-pasar yang tampak sepi pembeli, sebagian petani yang gagal panen, dan seterusnya.
Jangan Sampai Kehilangan Esensi
Memang, yang namanya merayakan kemerdekaan Republik Indonesia adalah hal yang sudah selayaknya dilakukan bagi setiap warga negara. Namun jangan sampai kita kehilangangan esensinya. Jangan hanya sebatas kemeriahan yang diutamakan, apalagi sampai memberatkan masyarakat dengan iuran yang begitu besar. Karena kondisi masyarakat kita berbeda-beda. Ada yang mampu, ada yang kurang mampu, bahkan benar-benar tidak mampu.
Menurut hemat saya, yang terpenting di tiap perayaan kemerdekaan kita harus merenungi kembali esensi dari kemerdekaan itu sendiri. Bagaimana cara kita mengisi kemerdekaan dengan beragam aktivitas yang bermanfaat. Baik manfaat untuk diri sendiri maupun orang lain.
Benarkah Kita Sudah Merdeka?
Bicara tentang kemerdekaan, sebenarnya ada satu pertanyaan yang mengganjal benak. Benarkah kita sudah merdeka dari hal-hal yang membuat kita terpuruk selama ini?
Mengapa kalau sudah merdeka, praktik korupsi makin marak dan seolah sulit diberantas? Mengapa masih banyak orang yang seenaknya sendiri dan suka merendahkan sesama, melakukan perundungan misalnya. Parahnya lagi ketika yang melakukan perundungan itu, misalnya, mereka yang berasal dari kalangan berpendidikan tinggi seperti dosen, guru, dokter, bahkan tokoh agama?
Bagi saya, merayakan kemerdekaan tidak harus dengan cara-cara menguras uang yang banyak. Kita bisa memulai hal-hal yang mungkin tampak kecil atau sepele, tapi memiliki dampak positif yang baik bagi kita dan lingkungan sekitar.
Misalnya, berusaha menjaga daerah kita dari sampah. Menjaga sungai-sungai di tiap desa agar bersih dari sampah sehingga bisa menjadi ruang publik dan rekreasi yang nyaman bagi warga. Terapkan peraturan di tiap desa, bagaimana caranya agar warga mau menyadari tentang pentingnya hidup bersih, sehat, dan bebas dari sampah. Bagaimana cara mengolah sampah agar bisa menjadi hal yang bermanfaat.
Tentu sangat miris ketika kita merayakan kemerdekaan tapi di sisi lain kita malah melakukan hal yang merugikan. Contohnya, ketika ada perlombaan dalam rangka perayaan kemerdekaan. Usai perlombaan, bisa kita lihat tempat perlombaan tersebut akan diwarnai dengan aneka sampah berserakan di sana-sini.
Ini artinya, kesadaran warga masih minim tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Bukankah salah satu tanda kemerdekaan adalah ketika lingkungan kita bersih dan merdeka (terbebas) dari sampah?
Semoga tulisan sederhana dan singkat ini bisa menjadi renungan bersama dalam rangka merayakan kemerdekaan RI yang ke-81.
Baca Juga
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
Artikel Terkait
-
Kontradiksi Simbolik: Merayakan Kemerdekaan dengan Cara yang Masih Feodal
-
Jadi Destinasi Baru Bulan Agustus, Styles Land Ajak Pengunjung Eksplorasi Dunia Kreatif di Jakarta
-
Ironi di Lapangan Upacara: Pejabat Duduk Nyaman, Peserta Berdiri Kepanasan
-
Bendera Merah Putih Mulai Menghiasi Jalanan, Mengapa Tradisi ini Penting?
-
HUT ke-81 RI, Wamendagri Wiyagus Dorong Aparatur Junjung Semangat Juang dan Sportivitas
Kolom
-
Merdeka dari Gaya Hidup Konsumtif: Gen Z Siap Tinggalkan Budaya Checkout?
-
Desa Les, Astra dan Pendidikan: Ngupapira Kearifan Lokal hingga Aksi Nyata yang Selangkah Mendahului
-
Ijazah Makin Tinggi, Kerja Layak Makin Langka: Siapa yang Gagal?
-
Bukan Selalu Tone Deaf, Bisa Jadi Standar Kita yang Sudah Berbeda
-
Bahaya Racun Makeup Viral: Tren Glowing yang Merusak Kulit Wajah
Terkini
-
4 Ide OOTD Y2K Revival Style ala Natty KISS OF LIFE, Timeless dan Stylish!
-
Review Drama You Are My Hero, Misi Kemanusiaan dan Perjalanan Asmara
-
Semua Ikan di Langit: Novel Unik yang Mengajak Merenungi Arti Kehidupan
-
Review The Price of Confession: Kisah Misteri Gelap Penjara Korea Selatan!
-
Memoar Seorang Geisha: Mengungkap Kehidupan Geisha Sebelum Perang Dunia II