Pernah berniat membuka media sosial hanya beberapa menit, tetapi akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling? Kebiasaan ini sering disebut doomscrolling, yaitu terus menggulir dan mengonsumsi berbagai konten tanpa benar-benar menyadari kapan harus berhenti.
Awalnya mungkin hanya ingin melihat satu video atau membaca beberapa unggahan terbaru. Namun, satu konten membawa kita ke konten lain, lalu berlanjut ke berita, komentar, drama, opini, hingga kehidupan orang yang bahkan tidak kita kenal.
Tanpa terasa, waktu yang tadinya ingin digunakan untuk beristirahat justru habis di depan layar. Kita merasa sedang mengisi waktu luang, padahal bisa jadi hanya sedang menunda banyak hal yang sebenarnya ingin atau perlu dilakukan.
Kebiasaan ini memang terlihat sepele, tetapi jika terus berlangsung setiap hari, ada banyak waktu yang perlahan terlewat. Kita menjadi terlalu sibuk mengikuti apa yang terjadi di internet sampai lupa memperhatikan kehidupan sendiri.
Oleh karena itu, menghentikan kebiasaan doomscrolling bukan berarti harus sepenuhnya menjauh dari media sosial, melainkan belajar menyadari bahwa tak semua hal di internet perlu diikuti.
Terlalu Banyak Tahu Bisa Melelahkan
Salah satu hal yang membuat doomscrolling terasa sulit dihentikan adalah banyaknya informasi yang masuk dalam waktu singkat.
Dalam beberapa menit saja, kita bisa mengetahui masalah hubungan seseorang, kabar terbaru dari figur publik, perdebatan di media sosial, kondisi politik, tren gaya hidup, hingga pencapaian orang lain. Semua informasi itu datang silih berganti tanpa memberi banyak kesempatan bagi kita untuk benar-benar mencernanya.
Masalahnya, tidak semua informasi tersebut memang kita butuhkan. Ada hal-hal yang cukup kita ketahui sekilas, lalu kita tinggalkan. Namun, algoritma media sosial justru membuat kita terus menemukan konten serupa sehingga muncul dorongan untuk mengetahui kelanjutannya.
Padahal, tidak mengetahui semuanya bukan berarti kita tertinggal. Kita tidak harus selalu punya pendapat tentang setiap isu, mengetahui setiap drama, atau mengikuti semua tren yang muncul.
Jangan Sampai Hidup dalam Cerita Orang Lain
Doomscrolling juga bisa membuat kita terlalu lama berada dalam kehidupan orang lain. Kita melihat seseorang mendapatkan pekerjaan impian, pergi berlibur, membeli sesuatu yang mahal, memiliki reationship goal, atau mencapai sesuatu di usia muda.
Dalam waktu yang sama, kita juga melihat orang lain mengeluhkan pekerjaan, hubungan, keluarga, keuangan, dan berbagai masalah hidup mereka.
Semakin banyak yang kita lihat, semakin banyak pula cerita yang masuk ke dalam pikiran. Tanpa sadar, kehidupan orang lain menjadi bahan untuk menilai kehidupan sendiri. Kita mulai merasa kurang sukses karena melihat pencapaian orang lain, merasa tertinggal karena melihat perjalanan mereka, atau ikut cemas memikirkan masalah yang sebenarnya tidak pernah terjadi dalam kehidupan kita.
Di titik tertentu, media sosial bisa membuat kita lebih sibuk mengamati kehidupan daripada menjalani kehidupan sendiri. Bagi saya, inilah salah satu alasan mengapa sesekali kita perlu "keluar" dari internet. Kita juga membutuhkan ruang untuk berkembang tanpa terus dibandingkan dengan kehidupan orang lain.
Kembali Menjalani Hidup di Luar Layar
Mengurangi doomscrolling tidak harus dimulai dengan langkah yang ekstrem. Kita tidak perlu langsung menghapus semua media sosial. Kita bisa mulai dari langkah kecil, misalnya berhenti membuka media sosial setiap kali merasa bosan atau membatasi screen time.
Waktu yang biasanya habis untuk scrolling juga tidak harus diganti dengan aktivitas yang berat atau selalu produktif. Kita bisa membaca beberapa halaman buku, berjalan kaki mengelilingi lingkungan rumah, bersepeda, berolahraga, menulis jurnal, atau sekadar duduk mengamati sekitar.
Menurut saya, bagian terpentingnya adalah kembali memiliki pengalaman yang benar-benar kita jalani sendiri. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengikuti kehidupan orang lain sampai lupa menjalani kehidupan sendiri.
Sudahi doomscrolling, letakkan ponsel, dan biarkan hidup kita punya cerita yang berasal dari pengalaman sendiri, bukan hanya dari apa yang muncul di layar.
Baca Juga
-
Ulasan Seasons of Blossom: Mengurai Luka, Duka, dan Tekanan Masa Remaja
-
Ironi di Lapangan Upacara: Pejabat Duduk Nyaman, Peserta Berdiri Kepanasan
-
Ulasan Ghost Doctor: Menggali Makna Empati dan Kemanusiaan di Dunia Medis
-
Label Beauty with Brain untuk Perempuan: Pujian atau Warisan Stereotip?
-
Ulasan Recipe for Farewell: Memaknai Perpisahan Lewat Sepiring Masakan
Artikel Terkait
-
5 HP Midrange Memori Besar Harga 3 Sampai 5 Jutaan Terbaik
-
Layanan Info Lalin Terganggu, Akun X TMC Polda Metro Jaya Diretas Pihak Tak Dikenal
-
5 HP Murah untuk Orang Tua yang Tidak Ribet, Minim Iklan dan Awet: Mulai 2 Jutaan
-
Kasus Yurizal dan Pelajaran Besar tentang Empati Tenaga Kesehatan di Era Media Sosial
-
Life Update di Media Sosial: Cara Gen Z Saling Berkabar di Era Digital
Kolom
-
Indonesia Butuh Industri Alat Kesehatan, Bukan Sekadar Pasar Impor
-
Mengenal Kerajinan 'Anam Kepang', Esensi Edukatif yang Mati Ditelan Zaman
-
Dilema Perayaan Kemerdekaan dan Iuran Besar yang Memberatkan Warga
-
Merdeka dari Gaya Hidup Konsumtif: Gen Z Siap Tinggalkan Budaya Checkout?
-
Desa Les, Astra dan Pendidikan: Ngupapira Kearifan Lokal hingga Aksi Nyata yang Selangkah Mendahului
Terkini
-
Ulasan Salat in Secret: Kisah Keberanian Anak Muslim yang Menginspirasi
-
Dan Bandung: Romansa Mahasiswa yang Hangat dengan Bumbu Persahabatan yang Kental
-
Andai Waktu Bisa Diulang Kembali: Saat Kemiskinan Merampas Kebebasan Cinta
-
Alur Gila 'The Scarecrow': Trauma Lama, Pembunuh Berantai dan Misteri Gelap
-
4 Ide OOTD Y2K Revival Style ala Natty KISS OF LIFE, Timeless dan Stylish!