Bekerja sambil liburan, atau yang dikenal dengan istilah workcation, telah menjadi tren baru di kalangan pekerja modern. Dengan laptop dan koneksi internet, siapa pun kini bisa bekerja dari vila di Bali atau kafe di tepi pantai. Tapi, apakah workcation benar-benar efektif? Ataukah ini hanya ilusi kebebasan di tengah tekanan kerja yang tak berujung?
Konsep workcation sebenarnya menarik. Bayangkan mengetik laporan sambil diiringi suara ombak, atau menghadiri pertemuan virtual dengan latar belakang pegunungan. Ide ini terdengar seperti solusi sempurna untuk mengatasi kejenuhan kantor.
Namun, kenyataannya tidak selalu seindah itu. Banyak yang melaporkan bahwa workcation sering kali berakhir menjadi "bekerja penuh waktu dengan sedikit momen liburan," bukan kebalikannya.
Masalah utamanya adalah garis batas antara kerja dan waktu santai menjadi kabur. Saat berada di lokasi yang indah, ada keinginan untuk menikmati liburan, tetapi tugas pekerjaan tetap menuntut perhatian. Akibatnya, fokus bisa terganggu.
Alih-alih mendapatkan relaksasi, banyak yang justru merasa lebih lelah karena harus membagi perhatian antara profesionalisme dan eksplorasi tempat baru.
Namun, tidak dapat disangkal bahwa workcation juga membawa keuntungan. Bagi mereka yang bisa mengatur waktu dengan baik, workcation menawarkan penyegaran mental.
Pergantian suasana dari lingkungan kerja yang monoton dapat meningkatkan kreativitas dan produktivitas. Selain itu, workcation menjadi pilihan ideal bagi pekerja yang sulit mengambil cuti panjang karena tanggung jawab yang menumpuk.
Tantangan lain dari workcation adalah biayanya. Meski terlihat menyenangkan, bekerja sambil liburan membutuhkan perencanaan yang matang, termasuk biaya akomodasi, transportasi, dan fasilitas seperti internet yang stabil.
Jika tidak dihitung dengan cermat, workcation justru bisa menjadi beban finansial tambahan, alih-alih menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Jadi, apakah workcation efektif? Jawabannya tergantung pada tujuan dan cara pelaksanaannya. Jika tujuan utamanya adalah produktivitas, mungkin workcation bukan solusi terbaik.
Namun, jika ingin mencari suasana baru sambil tetap menyelesaikan pekerjaan, ini bisa menjadi opsi menarik. Hal yang terpenting, pastikan jadwal dan ekspektasi jelas, baik dari diri sendiri maupun dari atasan.
Tren workcation mencerminkan kebutuhan generasi modern untuk menemukan keseimbangan antara bekerja dan menikmati hidup.
Namun pada akhirnya, hal yang paling penting adalah memahami bahwa liburan sejati adalah tentang memutuskan hubungan dengan pekerjaan, setidaknya untuk sementara waktu. Karena apa gunanya pemandangan indah, jika pikiran tetap sibuk dengan target dan jangka waktu tertentu?
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Dilema 'Tidurnya Orang Berpuasa', Sebuah Alibi atau Kompensasi Energi?
-
Putaran Tanpa Arah Menjelang Magrib: Pelajaran Kecil dari Jalanan yang Saya Dapat Saat Ngabuburit
-
Scroll, Klik, Ngiler! Cara Menyiksa Diri di Aplikasi Makanan saat Ramadan
-
Menggugat Adab Membangunkan Sahur: Atas Nama Tradisi, Bolehkah Teriak-teriak?
-
Logika vs Durhaka: Mengapa Berargumen Sering Kali Dianggap Tidak Tahu Adab?
Artikel Terkait
-
Tren Ngopi di Indonesia Mulai Fokus pada Kesehatan: Lebih Baik Robusta atau Arabika?
-
Kaleidoskop Tren Fashion Sepanjang Tahun 2024: Thrifting Sampai Coquette
-
12 Hari Menyambut Natal: Ada Deretan Hadiah Menggiurkan di Hotel Ini!
-
Kaleidoskop Tren Kecantikan di Media Sosial Sepanjang Tahun 2024 yang Paling Diminati
-
"Honey Pack": Tren Seks Berbahaya di Kalangan Mahasiswa yang Bikin Dokter Cemas
Kolom
-
Seni Curhat ke Orang Tua: Baru Ngomong "A", Eh Nasihatnya Sudah Sampai "Z"
-
Dopamin Jam 3 Pagi: Ketika Setan Dibelenggu, Tapi Doomscrolling Terus Melaju
-
Membunuh Literasi, Membunuh Demokrasi: Saat Akses Bacaan Dicekik Negara
-
Misi Glow Up Lebaran: Antara Kejar Tayang Kulit Bening dan Dompet yang Kering
-
MBG dan Pergeseran Peran Psikologis Orang Tua
Terkini
-
Review Novel Satine: Realitas Pahit Menjadi Budak Korporat di Jakarta
-
Jangan Baca Pesan Terakhirku
-
Review Film Marty Supreme: Perjalanan Gelap Seorang Underdog yang Ambisius!
-
Tuhan Nggak Butuh Pengacara: Belajar Beragama "Santuy" tapi Berisi Bareng Mbah Nun
-
Tips PDKT Lewat Gelas: Anime Botan Kamiina Siap Bikin Kamu "Mabuk" Cinta di April 2026!