Lebaran adalah momen setahun sekali yang sebentar lagi akan dirayakan umat muslim dunia. Di Indonesia sendiri, lebaran adalah ajang kumpul keluarga yang menyatukan sanak saudara dari berbagai daerah.
Sehingga di momen ini banyak orang rela bela-belain mudik walau hanya bertemu keluarga selama beberapa hari.
Meski kerap dinanti dan disebut sebagai momen penuh haru dan bahagia, tapi ternyata tidak semua orang menyukai lebaran.
Sedikit terdengar aneh, tapi hal ini terjadi karena bagi sebagian orang lebaran tidak lagi menjadi momen yang suci. Banyaknya tekanan yang terjadi di hari raya membuat sebagian orang justru bahkan membenci momen ini.
Kerap dituntut, dibandingkan, dan dihakimk akan sesuatu yang di luar kendali kita memang bisa mempengaruhi psikologis seseorang. Seperti misalnya, diburu-buru sukses, lulus kuliah, menikah dan punya anak. Padahal, walau sudah berusaha tapi sebagian orang masih belum bisa mendapatkannya. Sehingga hal yang menyedihkan ini juga bisa berubah menjadi tekanan.
Belum lagi di momen saling maaf memaafkan ini masih ada orang yang belum bisa tulus mengulurkan tangannya. Alih-alih merasakan kedamaian karena terhapusnya kesalahan, lebaran justru menambah luka baru karena tekanan yang didapat setiap tahunnya.
Walau tidak semuanya seperti itu, tapi rasa minder sedikit banyak kerap menghantui sebagian orang saat lebaran. Padahal, momen suci setahun sekali ini harusnya diisi dengan ketulusan para umatnya. Agar kita bisa melanjutkan hidup dengan enteng karena kesalahan satu sama lain yang telah terhapus.
Sehingga idealnya, di momen setahun sekali saat keluarga besar berkumpul ini bisa menjadi momen yang hangat. Dimana seluruh anggota keluarga saling bertukar kabar dengan tulus dari hati ke hari tanpa penghakiman dan dibandingkan.
Bukankah keluarga seharusnya menjadi rumah untuk berbagi dan bersandar?
Jadi lebaran tidak lagi dihiasi kepalsuan. Jadi keluarga menjalankan fungsinya secara utuh agar anak dan anggota keluarga yang lain tidak mencari 'tempat bersandar' di luar yang belum tentu baik untuknya.
Jadi lebaran seharusnya tidak hanya disibukkan dengan mengomentari hidup dan penampilan orang lain. Padahal, belum ada maaf memaafkan yang diulurkan dari lubuk hati masing-masing.
Baca Juga
-
Tak Hanya Sesama Teman, Saat Guru dan Dosen Juga Jadi Pelaku Bully
-
Kisah Relawan Kebersihan di Pesisir Pantai Lombok
-
Viral Tumbler KAI: Bahaya Curhat di Medsos Bagi Karier Diri dan Orang Lain
-
Ricuh Suporter Bola hingga War Kpopers, Saat Hobi Tak Lagi Terasa Nyaman
-
Budaya Titip Absen: PR Besar Guru Bagi Pendidikan Bangsa
Artikel Terkait
-
Terbaru! Daftar Harga Tiket Bus Jakarta-Jogja Lebaran 2025 Mulai Rp180 Ribuan
-
Mudik Nyaman Anti Lapar : Tips & Rekomendasi Menu Bekal yang Praktis
-
8 Jenis Kartu yang Bisa Dipakai untuk Bayar Tol saat Mudik Lebaran 2025
-
Harga Tiket Bus Pahala Kencana Terbaru untuk Mudik Lebaran 2025: Jakarta-Surabaya Mulai Rp 310.000!
-
Satu Keluarga Jemaah Umrah Semarang Meninggal dalam Kecelakaan Maut, Rencana Lebaran di Mekkah Pupus
Kolom
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Internalized Misogyny: Ketika Perempuan Justru Melestarikan Ketimpangan
-
Menguliti Narasi 'Kuliah Itu Scam': Apa Gelar Masih Menjadi Senjata Utama?
-
Belajar Bahasa Asing Itu Bukan Cuma soal Grammar, tapi soal Rasa
-
Kawasan Tanpa Rokok, Tapi Mengapa Asap Masih Bebas Berkeliaran?