Memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus nggak hanya diisi dengan upacara pengibaran bendera saja, tetapi terdapat beragam tradisi unik yang dilakoni oleh masyarakatnya. Hal ini kerap disebut sebagai agustusan, yang disemarakkan dengan beragam kegiatan epic.
Mungkin, kamu sudah akrab dengan kegiatan agustusan berupa lomba baris berbaris, lomba-lomba unik seperti makan kerupuk hingga panjat pinang, atau bahkan pawai karnaval yang menampilkan hal-hal lucu nan menghibur. Belum lagi, di beberapa wilayah ada juga bazar dan pameran dengan tujuan menyemarakkan pesona dan sensasi kemerdekaan yang nyata.
Namun, ada tradisi unik di desa Sambirejo, kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Masyarakatnya nggak hanya menyemarakkan hari kemerdekaan dengan lomba-lomba saja lho. Mereka rupanya mengadakan bancakan alias kenduri yang disebut sebagai Bancakan Pitulasan pada 16 Agustus 2025 kemarin, pada pukul 19.00 WIB.
Apa Sih Bancakan Itu?
Menurut KBBI, Bancakan memiliki 3 makna yaitu:
- Selamatan atau kenduri,
- Hidangan yang disajikan dalam selamatan,
- Selamatan bagi anak-anak dalam merayakan ulang tahun atau memperingati hari kelahiran diikuti dengan pembagian makanan.
Walau pada praktiknya, Bancakan nggak hanya digunakan untuk peringatan hari lahir saja, melainkan mencakup banyak momen. Seperti Rabo Wekasan atau acara bersih desa, Megengan atau kenduri menjelang bulan Ramadhan, dan sebagainya. Tentu saja, beda daerah beda pula tradisinya.
Filosofi Bancakan: Eksekusi Nyata Holopis Kuntul Baris
Bancakan sejatinya adalah perwujudan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa, atau segala berkah dan kenikmatan yang telah diberikan. Momen ini diikuti dengan acara kumpul masyarakat dan pembagian hidangan untuk dinikmati bersama-sama.
Menurutku, Bancakan adalah salah satu simbol nyata dari statement Holopis Kuntul Baris, sebuah ungkapan mengenai budaya gotong royong yang telah mengakar kuat. Sebagaimana formasi burung kuntul (bangau) yang terbang membentuk pola runcing, yang dikiaskan sebagai persatuan untuk menyelesaikan banyak hal. (Laman UGM)
Menu Hidangan dalam Bancakan
Umumnya, Bancakan menyajikan beberapa menu-menu penting seperti nasi tumpeng, kulupan (urap-urap beragam sayuran), mie goreng, sambal goreng kentang, dan juga lauk pauk macam ayam atau telur. Walau ada eksekusinya yang mengikuti zaman, ada beberapa variasi menu tergantung masing-masing penduduk ya.
Umumnya, hidangan akan disajikan beralaskan daun pisang dan dipurak alias dimakan bersama-sama sembari bertukar pendapat. Nikmatnya kebersamaan inilah, yang menjadi momen epic dan senantiasa dirindukan.
Bancakan Pitulasan di Dusun Bulusoban Desa Sambirejo
Pare nggak hanya dikenal dengan Kampung Inggrisnya yang legendaris, atau keberadaan markas Polres Kabupaten Kediri saja, melainkan tradisinya yang unik dalam memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Seperti yang diadakan di Dusun Bulusoban, Desa Sambirejo pada hari Sabtu, 16 Agustus 2025 pukul 19.00 kemarin.
Masyarakatnya kompak mengadakan Bancakan Pitulasan (Bancakan tujuhbelasan), dengan membawa takir alias hidangan masing-masing ke pertigaan barat dusun untuk disantap bersama-sama. Walau pada tahun-tahun sebelumnya, lokasi yang dipilih adalah di rumah Bapak Kasun, di pertigaan tengah, hingga pertigaan timur.
Dengan menggelar terpal dan tikar, pertigaan kampung disulap sebagai tempat jamuan makan yang meriah, dan dihadiri oleh seluruh penduduk dusun. Bancakan atau kenduri besar itu tentu dibarengi dengan doa dan panjat syukur terhadal Tuhan Yang Maha Esa, dan esensi gotong royong serta semangat persatuan yang kuat kendati ada perbedaan. Hal ini karena di Dusun Bulusoban sendiri, masyarakat ada yang menganut Islam, dan menganut Kristen.
Meski memiliki perbedaan keyakinan dan latar belakang yang bervariasi, lewat Bancakan Pitulasan inilah masyarakat mengurai kebersamaan dan kedamaian dalam semangat persatuan dan nasionalisme.
Tradisi unik semacam Bancakan inilah yang senantiasa menghadirkan kerinduan dan kecintaan terhadap tanah air, dimanapun djiwangga berpijak. Kendati Nusantara selalu diisi oleh banyak perbedaan suku, keyakinan, budaya, hingga tradisi, tetapi semangat juang dan nasionalismenya begitu kuat.
So, itulah tadi Bancakan Pitulasan di daerahku. Sekian.
Baca Juga
-
Kindergarten For Divine Beasts: Manhwa Siluman Versi Bocil-bocil Kematian
-
Dibalik Pesona F4: Mengapa Kita Harus Berhenti Mengagungkan Hubungan Gu Jun Pyo dan Geum Jan Di?
-
Sepasang Tangan dan Kaki dalam Shift Malam di Pabrik Roti
-
Lelaki yang Membawaku Naik Kapal dan Kabur ke Singapura
-
Pocong yang Membesar sambil Menyeringai Gila di Kebun Pisang
Artikel Terkait
-
Petugas Angkut Puluhan Ribu Ton Sampah Sisa Perayaan HUT RI ke-80 di Jakarta
-
Bocah SD Jadi Pahlawan! Nekat Panjat Tiang 12 Meter Selamatkan Merah Putih Berkibar
-
Viral! Ekspresi Patrick Kluivert Saat Kibarkan Bendera Merah Putih di HUT RI-80, STY Bisa Kaya Gitu?
-
Beda Upacara Kemerdekaan di Istana Merdeka vs IKN, Ada yang Lapangannya Bopeng
-
Duka di Hari Kemerdekaan: Cerita Keluarga S, Pemuda yang Tewas Usai Euforia Laga Sepak Bola
Kolom
-
Ironi Pelemahan Rupiah: Mengapa Masyarakat Desa Menanggung Beban Terberat?
-
Fresh Graduate dan Realita Dunia Kerja: Ekspektasi Tinggi, Kenyataan Beda
-
Dolar Tidak Ada di Dompet Kita, Tapi Ada di Harga Beras dan Minyak
-
Paradoks Demokrasi: Mengapa Pemimpin Militer Berisiko bagi Indonesia?
-
Realita Tidak Estetik Dunia Kerja yang Abu-Abu: Antara Passion dan Tagihan
Terkini
-
10 Film Dokumenter yang Tayang di Netflix Mei 2026, Didominasi Kisah Sepak Bola dan Olahraga
-
Membenahi Percaya Diri di Buku Mind Platter: Kenapa Kita Takut Bersinar?
-
Kindergarten For Divine Beasts: Manhwa Siluman Versi Bocil-bocil Kematian
-
The Kings Warden dan Luka Pemimpin yang Disingkirkan
-
Menyaksikan Lake Symphony, Tarian Air Magis dengan Panorama Ikonik KLCC