Scroll untuk membaca artikel
Hikmawan Firdaus | inaya khoir
Ilustrasi Arus Balik Pasca-Lebaran (Pexels.com/Mikechie Esparagoza)

Lebaran telah usai, beberapa pekerja sudah mulai kembali ke perantauan. Puncak arus balik Idulfitri 2025 diperkirakan akan berlangsung pada 5 s.d. 7 April. Salah satu fenomena menarik pada arus balik Lebaran adalah ternyata arus balik tidak hanya diisi oleh para pekerja yang kembali ke perantauan, tetapi juga diisi oleh pendatang baru yang mencoba mencari peruntungan untuk mendapatkan pekerjaan di kota, terutama di kota-kota besar.

Urbanisasi (perpindahan penduduk dari desa ke kota) pasca-Lebaran merupakan fenomena tahunan yang pasti dialami oleh kota-kota besar di Indonesia. Sebagai pusat pemerintahan dan pusat ekonomi, Jakarta masih menjadi primadona bagi para perantau untuk mencari peruntungan. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) DKI Jakarta menunjukkan sebanyak 16.207 orang melakukan urbanisasi ke Jakarta pasca-Lebaran 2024. Tahun ini, Disdukcapil DKI Jakarta memperkirakan urbanisasi akan mencapai 10.000 sampai 15.000 orang (news.detik.com, 2025).

Fenomena urbanisasi pasca-Lebaran dapat dilihat sebagai representasi ketimpangan ekonomi, sosial, dan pembangunan antarwilayah di Indonesia. Ketidakmerataan dalam distribusi sumber daya dan pembangunan telah menciptakan jurang pemisah yang signifikan antara kota-kota besar dengan wilayah pedesaan atau daerah. Tidak hanya terlihat dari perbedaan pendapatan, jurang ini bahkan juga mencakup akses terhadap layanan dasar, seperti pendidikan, kesehatan, layanan transportasi, hingga infrastruktur yang sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat.

Konsentrasi kegiatan ekonomi dan industri yang terpusat di kota-kota besar menciptakan daya tarik yang amat kuat bagi masyarakat daerah. Peluang kerja yang lebih beragam dan potensi penghasilan yang lebih tinggi menjadi alasan kuat yang sukar untuk diabaikan. Kesenjangan dalam pembangunan infrastruktur juga menjadi faktor pendorong utama masyarakat berbondong-bondong melakukan urbanisasi. Pembangunan infrastruktur cenderung difokuskan di kota-kota besar karena dianggap lebih efisien dan memiliki potensi pengembalian yang cepat dan lebih tinggi. Hal tersebut makin memperlebar jurang antara desa dan kota dalam hal pembangunan fasilitas dan peluang ekonomi.

Urbanisasi menyebabkan arus modal dan sumber daya menjadi terkonsentrasi di pusat-pusat kota. Daerah yang ditinggal akan menjadi kehilangan potensi pembangunan dan generasi muda yang seharusnya menjadi motor penggerak pembangunan di daerah. Fenomena ini mengakibatkan lingkaran kesenjangan yang tidak berujung. Kurangnya arus modal, investasi, dan distribusi sumber daya di daerah makin mendorong masyarakatnya untuk mencari peluang di kota yang pada akhirnya memperlebar kesenjangan dan makin memperlambat potensi pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut.

Gelombang urbanisasi pasca-Lebaran yang tidak terkendali dan tidak terantisipasi dengan baik juga dapat membawa tantangan tersendiri bagi kota-kota besar tujuan migran, tidak terkecuali Jakarta. Meskipun Jakarta dan kota-kota besar lain menawarkan berbagai peluang pekerjaan dan janji kehidupan yang lebih baik, meningkatnya jumlah pendatang baru secara massif sering kali membebani infrastruktur dan layanan publik yang sudah ada. Tingginya arus urbanisasi juga dapat memperburuk masalah transportasi dan kemacetan, tingginya harga hunian akibat tingginya permintaan, bertambahnya beban pada fasilitas kesehatan, pendidikan, serta fasilitas dasar lainnya.

Selain itu, urbanisasi juga dapat menyebabkan masalah ketenagakerjaan akibat tidak semua migran dapat terserap di dunia kerja. Tidak sedikit para migran yang menghadapi kesulitan dalam menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi dan keterampilan mereka. Lebih jauh, hal ini dapat menyebabkan terjadinya peningkatan angka pengangguran dan memunculkan kawasan permukiman kumuh yang menjadi tempat tinggal bagi mereka yang belum mendapatkan pekerjaan yang layak.

Ketimpangan ekonomi dan pembangunan yang diperlihatkan dalam urbanisasi pasca-Lebaran ini menunjukkan betapa pentingnya pembangunan berkelanjutan. Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi seyogyanya tidak hanya terfokus pada kota-kota besar, tetapi juga harus sampai di daerah-daerah pinggiran. Pemerintah perlu memiliki strategi yang mendorong pengembangan dan pembangunan daerah, serta memperkuat sektor-sektor ekonomi lokal yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang layak bagi masyarakat-masyarakat terutama generasi muda di daerah asal.

inaya khoir