Menjadi anak kos saat kuliah di Semarang adalah masa yang penuh cerita. Di balik tumpukan tugas dan jadwal kuliah yang padat, hidup merantau mengajarkan saya tentang kemandirian, kesederhanaan, dan yang paling penting adalah arti pulang, meskipun dalam bentuk rasa. Dan bagi saya, rasa itu hadir lewat rendang kiriman ibu.
Saat saya masih di tanah perantauan, setiap beberapa bulan sekali, ibu di rumah akan mengirim paket kecil berisi rendang yang ditaruh di wadah plastik. Kiriman rendang dari ibu adalah penyelamat di kala dompet menipis dan semangat mulai surut.
Saat membuka bungkusnya, aroma rempah yang khas langsung memenuhi kamar kos saya yang mungil. Saat itulah, rasa rindu pada rumah seakan sedikit terobati.
Meski hanya dibungkus plastik dan dikirim lewat ekspedisi, rendang itu tak pernah gagal mengobati rindu saya. Makanan itu bukan hanya sekadar lauk pelengkap, tapi juga pelipur lara bagi anak kos yang sering kehabisan ide makan.
Hal yang paling saya ingat, setiap kali paket rendang datang, saya hampir tak pernah menikmatinya sendiri. Teman-teman kuliah saya, terutama yang juga anak kos dari luar kota, pasti ikut mencicipi.
Ada semacam kesepakatan tidak tertulis di antara kami, “Kalau ada yang dapat kiriman dari rumah, harus siap berbagi.” Dan saya dengan senang hati membagikannya pada teman-teman seperjuangan.
Kadang kami makan bersama di ruang tengah kosan, atau sekadar duduk lesehan di kamar saya, dengan nasi hangat dari rice cooker dan rendang dari ibu sebagai sajian utama.
Obrolannya sederhana, tentang tugas kampus, drama kehidupan, sampai rindu pada keluarga masing-masing. Tapi justru dalam kesederhanaan itulah, saya merasakan kehangatan. Rasanya seperti punya rumah sementara di tengah kota Semarang yang asing.
Saya ingat, suatu waktu ibu berpesan lewat telepon, “Kalau ada temanmu yang belum makan, bagi saja ya. Rendang itu insyaAllah cukup kalau dimakan rame-rame.” Pesan sederhana itu menancap dalam di hati saya. Lewat rendangnya, ibu mengajarkan saya arti berbagi dan peduli, bahkan kepada orang yang mungkin baru saya kenal di tanah rantau.
Saya juga masih ingat, ada satu teman saya yang selalu bilang, “Rendang ibumu tuh rasanya beda, ya. Kayak masakan di kampung sendiri.” Kalimat itu membekas. Karena dari situ saya sadar, rendang itu bukan cuma soal rasa yang enak, tapi juga soal rasa yang familiar, rasa yang bikin hati tenang.
Lucunya, sampai sekarang pun, saya masih suka minta ibu masakin rendang saat Lebaran. Setiap menjelang Hari Raya, saya selalu bilang, “Bu, nanti masak rendangnya jangan lupa ya, yang kayak dulu waktu aku masih ngekos.” Ibu cuma tertawa, tapi saya tahu, ia senang bisa menghadirkan rasa yang saya rindukan itu.
Lebaran tanpa rendang buatan ibu rasanya seperti ada yang kurang. Apalagi sekarang, ketika saya sudah sibuk dengan pekerjaan dan urusan sendiri, rendang ibu jadi semacam pengingat bahwa rumah selalu ada, meskipun hanya dalam sepiring makanan.
Sekarang, saat saya sudah tidak lagi tinggal di kos, momen makan rendang itu tetap punya tempat spesial. Bukan hanya karena rasanya yang lezat, tapi karena semua kenangan yang melekat padanya. Dari obrolan ringan di kos, tawa teman-teman, sampai rasa rindu yang tak pernah hilang.
Rendang ibu bukan hanya tentang daging dan bumbu saja. Ia adalah simbol cinta yang dikirim dari jauh, bentuk perhatian seorang ibu yang ingin anaknya tetap makan enak meskipun tinggal sendiri di kota yang asing. Ia juga menjadi alasan saya belajar berbagi, sebab saya tahu rasanya rindu rumah, dan saya tahu satu sendok rendang bisa jadi penghibur bagi orang lain juga.
Di antara semua makanan yang pernah saya makan selama menjadi anak kos, rendang ibu adalah yang paling membekas. Sampai sekarang pun, setiap kali saya mencium aroma rendang, ingatan saya langsung kembali ke masa-masa itu, masa ketika rendang bukan hanya sebagai lauk utama, tapi juga bahasa cinta yang tak perlu banyak kata.
Baca Juga
-
Lagu K-Pop Full Bahasa Inggris: Strategi Bisnis atau Tanda Berakhirnya Era Lokal?
-
Flexible Working Hour dan Batas Hidup Pekerja yang Semakin Kabur
-
Membaca di Era Digital: Masih Penting atau Mulai Dilupakan?
-
Content Creator Semakin Menjamur, Sekadar Hobi atau Profesi Serius?
-
Maaf Aku Lahir ke Bumi: Refleksi tentang Luka yang Tidak Pernah Bersuara
Artikel Terkait
-
Kiper Jagoan Shin Tae-yong Ungkap Alasan Gabung Arema FC
-
Ulasan Komik Persatuan Ibu-Ibu: Potret Suka Duka Menjadi Ibu Baru
-
5 Film Adaptasi Podcast, Terbaru GJLS Masih Tayang di Bioskop
-
Epilog Sendu Semangkuk Mie Ayam dan Segelas Es Teh di Bawah Hujan
-
5 Rekomendasi Skincare yang Aman untuk Ibu Hamil, Bebas Kandungan Zat Berbahaya
Kolom
-
S.Pd. vs Badai Penataan 2026: Apakah Ijazah Saya Hanya Bakal Jadi Pajangan?
-
Pink Tax Adalah Bentuk Diskriminasi yang Dijual Lewat Produk Perempuan
-
Di Balik Rumah yang Tetap Hangat, Ada Anak Bungsu yang Menahan Diri
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Generasi Cemas di Tengah Dunia yang Katanya Penuh Kemudahan
Terkini
-
Simpan Ribuan Foto Tanpa Was-was, Ini 4 HP Memori 512 GB Harga Rp5 Jutaan
-
Makna Lagu Ancika Ariel NOAH, OST Dilan ITB 1997 yang Bikin Nostalgia
-
Review Film Crocodile Tears: Kritik Sosial atas Dinamika Keluarga Indonesia
-
LCC MPR RI Butuh VAR? Warganet Usul Teknologi untuk Hindari Kecurangan Juri
-
Funiculi Funicula 2, Novel yang Mengajarkan Arti Melepaskan dan Menerima