Musik yang berkembang dan meluas di era saat ini memiliki keunggulan dari segi irama dan ketukan yang dimainkan sehingga para pendengarnya memanfaatkan musik itu untuk pembuatan konten di media sosial.
Sayangnya, mereka hanya melihat dari keunggulan saja tanpa melihat sisi yang lainnya, salah satunya yaitu makna dari setiap lirik pada musik yang didengarkan.
Dari tahun ke tahun selalu ada musik yang viral di media sosial tetapi kurang etis bagi anak yang belum cukup umur, apalagi saat ini gawai sudah banyak diberikan oleh orang tua kepada anaknya sejak kecil.
Padahal dalam pemikiran mereka tidak mengerti sepenuhnya cara membedakan mana yang benar dan salah, hal ini menimbulkan kekhawatiran akan lirik yang dinyanyikan dicerna oleh mereka dan dianggap benar.
Menurut Pak Raden, pemerhati pendidikan anak mengatakan bahwa masih banyak yang kurang minat untuk menciptakan lagu anak, karena masih banyak yang memproduksi lagu orang dewasa.
Banyak komposer yang tidak membuatnya sebab khawatir tidak laku, padahal di zaman dahulu meski banyak lagu orang dewasa tetap masih bisa menyesuaikan porsinya terhadap lagu anak.
Selain itu, sekarang banyak anak yang menertawakan lagu seusianya. Hal tersebut terjadi karena sudah terbiasa mendengarkan lagu orang dewasa di berbagai platform media sosial.
Maka lagu anak dirasa saat ini terkesan ketinggalan zaman. Lalu, yang lebih merusak pikiran anak adalah ketika mendengarkan lagu orang dewasa berbau perselingkuhan, perzinaan atau berhubungan badan, dan kenakalan remaja.
Tren musik saat ini ada sebagian mengarah dari salah satu topik tersebut, misalnya lagu yang berjudul "Damn Un Grr" memiliki maksud untuk beri aku gairah atau cengkeram aku.
Walau tidak secara langsung melanggar hukum, tetapi bisa dikatakan lagu seperti ini bertentangan dengan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Contohnya pada sila kedua yang tidak mencerminkan nilai beradab dan sila keempat yang tidak mencerminkan nilai kebijaksanaan.
Orang tua memiliki peran penting untuk mencegah lagu-lagu orang dewasa yang kurang baik untuk tidak menjadi konsumsi oleh anak-anaknya. Justru seharusnya ketika anak belum cukup umur perlu pengawasan yang intens khususnya dalam menggunakan gawai agar tidak terjerumus ke hal negatif.
Mari bersama-sama membangun kembali citra lagu anak agar tetap berjaya dan tidak terkesan ketinggalan zaman, salah satunya dengan memanfaatkan alat musik modern sebagai pengiring lagu anak agar bisa sekelas musik orang dewasa sehingga mampu menarik perhatian masyarakat khususnya orang tua dan anak.
Saya juga mengajak kepada seluruh pencipta lagu untuk tidak membuat musik yang bermakna negatif karena dapat memengaruhi perkembangan mental anak dan bisa menjadi contoh buruk bagi mereka. Ciptakan musik yang dapat menginspirasi dan memotivasi anak bangsa agar selalu bersemangat dalam belajar untuk meraih impian.
Kemudian kepada para pencinta musik diharapkan untuk tidak terlena dengan irama dan iringan yang dimainkan ketika mendengarkan lagu saja, tetapi penting untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya.
Kenalkan anak dengan musik-musik yang cocok di usianya, bukan musik yang dapat menimbulkan kontroversial dalam norma kehidupan sehari-hari. Dengarkan lagu-lagu anak yang mendidik generasi dan memberi inspirasi sebagai contoh teladan yang baik untuk menjalani kehidupan.
Secara tidak langsung, musik juga memiliki peran untuk membentuk karakter dan pola pikir anak. Akibat didominasi oleh lagu orang dewasa yang viral di media sosial bisa membuat anak-anak terpapar dengan lirik yang tidak sesuai dengan usianya.
Minimnya produksi lagu anak turut memperparah keadaan ini sehingga perlu ada tindakan preventif untuk menghadapi masalah ini.
Baca Juga
-
Review Bebek Boedjang Karawang: Sensasi Bebek Jumbo Daging Empuk Rp50 Ribu
-
Kereta Api Bukan Dapur Berjalan! Alasan Logis Mengapa Stopkontak KAI Haram untuk Rice Cooker
-
Validasi Sosial Mengalahkan Literasi: Mengapa Kita Lebih Takut Kusam daripada Bodoh?
-
"Diutus" Presiden: Mengapa Ucapan Ketua MPR Ahmad Muzani Picu Kontroversi Konstitusi?
-
Kartelisasi Politik dan Urgensi Gerakan Massa Melawan Dominasi Kekuasaan
Artikel Terkait
-
Riau Bangga! Tarian Anak Pacu Jalur Viral Dunia, Ditiru Bintang PSG hingga Pemain AC Milan
-
5 Mesin Cuci Portable untuk Anak Kos: Praktis, Hemat Listrik, Harga di Bawah 1 Juta!
-
Break Out Day 2025 Hadir di Bandung, Rayakan Musik Tanpa Batas di Tritan Point 26 Juli!
-
Kondisi Mental Shafeea Dikhawatirkan Psikolog Usai Ahmad Dhani Unggah Video Gibah Maia Estianty
-
5 Inspirasi Desain Kamar Anak ukuran 3x4, Mungil tapi Tetap Nyaman
Kolom
-
Jangan Asal Posting: Mengapa Twibbon MPLS Bisa Jadi Ancaman Privasi bagi Si Kecil
-
Digital Decluttering Era Modern: Timeline Bersih, Pikiran pun Lebih Ringan
-
RUU Perampasan Aset: Melindungi HAM atau Melindungi Koruptor?
-
Instagram Exclusive Artis: Saat Parasocial Relationship Jadi Ladang Bisnis
-
Kesejahteraan atau Integritas: Benarkah Gaji Tinggi Mengurangi Korupsi?
Terkini
-
All She Was Worth: Misteri Pembunuhan yang Berawal dari Jeratan Utang
-
Tak Lagi Acak! Spotify Bikin Release Radar Lebih Personal untuk Pengguna
-
Ulasan Taare Zameen Par: Kisah Mengharukan Seorang Anak dengan Disleksia
-
Drakor Flex x Cop Season 2 Siapkan 13 Cameo Ternama Jelang Tayang Agustus
-
Baru Rilis, Netflix Resmi Lanjutkan Little House on the Prairie ke Season 2