Saya tinggal bersama istri dan kedua anak saya. Dalam urusan belanja online, saya harus mengakui bahwa istri adalah orang yang paling rajin membuka aplikasi toko daring. Hampir setiap minggu ada saja paket yang datang ke rumah. Mulai dari kosmetik, alat dan bahan kecantikan, perlengkapan dapur, hingga kebutuhan sehari-hari.
Menjelang Iduladha tahun ini misalnya, beberapa paket silih berganti tiba di depan rumah. Ada alat pemanggang sate praktis, kran leher angsa untuk dapur, surban untuk saya, baju baru untuk kedua anak, hingga tisu untuk kebutuhan rumah tangga. Semua itu dibeli secara online.
Saya tidak pernah berusaha menghentikan kebiasaan tersebut. Sebab saya memahami alasan di baliknya. Saya dan istri sama-sama menghabiskan waktu dari pagi hingga sore di lingkungan lembaga pendidikan. Kesempatan untuk berbelanja langsung ke pasar atau toko offline sangat terbatas. Selain itu, istri juga kurang nyaman berbelanja di pasar tradisional yang masih menerapkan sistem tawar-menawar. Belanja online menjadi solusi yang praktis, cepat, dan efisien bagi keluarga kami.
Namun, di balik kemudahan itu, ada persoalan lain yang perlahan muncul dan terus menumpuk, yaitu sampah kemasan belanja online.
Kemudahan Belanja yang Datang Bersama Tumpukan Sampah
Setiap paket yang datang hampir selalu dibungkus berlapis-lapis. Kardus, plastik tebal, bubble wrap, selotip, plastik pengaman, hingga label pengiriman. Awalnya saya menganggapnya sebagai hal biasa. Namun ketika melihat gudang rumah mulai dipenuhi kardus bekas dan kantong plastik yang menumpuk, saya sadar bahwa kemudahan berbelanja ternyata meninggalkan jejak lingkungan yang tidak kecil.
Data survei yang pernah dilakukan LIPI menunjukkan bahwa mayoritas warga Jabodetabek mengalami peningkatan frekuensi belanja online. Dari sebelumnya hanya 1 hingga 5 kali per bulan menjadi 1 hingga 10 kali selama masa pembatasan aktivitas. Bersamaan dengan itu, penggunaan layanan pengantaran makanan juga meningkat.
Yang menarik sekaligus mengkhawatirkan, sekitar 96 persen paket dibungkus menggunakan plastik tebal dan bubble wrap. Bahkan jumlah sampah plastik dari bungkus paket disebut mengungguli sampah plastik dari kemasan barang yang dibeli.
Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi di kota besar. Di daerah-daerah pun, termasuk tempat tinggal saya, jumlah paket yang datang setiap hari semakin banyak. Jadi, volume sampah kemasan juga terus bertambah.
Ketika Paket Menjadi Masalah Baru bagi Lingkungan
Laporan internasional bahkan menunjukkan bahwa industri e-commerce menghasilkan sekitar 165 miliar paket setiap tahun di seluruh dunia. Sebagian besar menggunakan kardus, plastik, bubble wrap, dan berbagai bahan pelindung lainnya. Persoalannya, tidak semua bahan tersebut dapat didaur ulang dengan mudah. Sebagian besar berakhir di tempat pembuangan akhir, dibakar, atau mencemari lingkungan.
Karena itulah saya mulai berpikir sederhana. Jika saya tidak bisa menghentikan datangnya paket, maka saya harus mencari cara mengelola sampah yang ditinggalkannya.
Langkah pertama yang saya lakukan adalah memisahkan kardus dan kemasan berbahan kertas. Kardus-kardus bekas saya lipat dengan rapi lalu disimpan di gudang. Setelah jumlahnya banyak, saya menjualnya kepada pengepul barang bekas yang datang ke kampung. Selain membuat rumah lebih rapi, cara ini juga memberikan nilai ekonomi meskipun tidak besar.
Langkah kedua adalah memanfaatkan kembali plastik dan bubble wrap. Setelah dibersihkan dari lakban dan label alamat, plastik-plastik tersebut saya simpan untuk digunakan kembali saat mengirim barang atau membungkus dokumen penting agar tidak terkena air.
Mengubah Sampah Menjadi Manfaat di Rumah Sendiri
Bubble wrap bahkan memiliki kehidupan kedua yang lebih menarik. Anak perempuan saya sering memanfaatkannya sebagai bahan kerajinan. Ia menggunting, menempel, dan mengubah bubble wrap menjadi pakaian boneka, alas rumah-rumahan mini, dekorasi mainan, bunga-bungaan sederhana, hingga bahan kolase untuk tugas sekolah. Apa yang tadinya berpotensi menjadi sampah, berubah menjadi sarana kreativitas.
Sementara itu, selotip dan lakban bekas yang sulit didaur ulang saya masukkan ke tempat sampah residu secara terpisah. Pemisahan ini penting karena tidak semua jenis sampah memiliki jalur pengolahan yang sama.
Di rumah, saya juga mulai menerapkan sistem pemilahan sampah berdasarkan kategori. Sampah organik ditempatkan pada wadah hijau, sampah anorganik pada wadah kuning, kertas dan kardus pada wadah biru, sedangkan residu ditempatkan pada wadah abu-abu. Sistem sederhana ini ternyata sangat membantu seluruh anggota keluarga memahami ke mana sampah harus dibuang.
Bukan Sekadar Membuang, Tetapi Mengelola dengan Bertanggung Jawab
Menurut saya, membuang sampah pada tempatnya saja sudah tidak cukup. Kita harus naik satu tingkat lebih tinggi, yakni memilah, mengurangi, menggunakan kembali, dan mengelola sampah secara bijak.
Selain mengelola sampah yang sudah ada, kita juga perlu mengurangi sampah sejak awal. Caranya cukup sederhana.
Pertama, menggabungkan beberapa kebutuhan dalam satu kali transaksi agar jumlah paket berkurang.
Kedua, memilih penjual yang menggunakan kemasan lebih ramah lingkungan.
Ketiga, meminta penjual mengurangi penggunaan plastik berlebihan.
Keempat, membeli produk dari lokasi yang lebih dekat untuk mengurangi emisi transportasi.
Pada akhirnya, masalah sampah belanja online bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, perusahaan ekspedisi, atau toko daring. Ini juga tanggung jawab kita sebagai konsumen. Kemudahan berbelanja memang memberikan kenyamanan, tetapi kenyamanan itu tidak boleh dibayar dengan kerusakan lingkungan.
Jika setiap keluarga mulai memilah kardus, menggunakan kembali bubble wrap, mengurangi plastik yang tidak perlu, dan mengelola sampah secara bertanggung jawab, maka jutaan paket yang datang setiap hari tidak akan berubah menjadi jutaan masalah lingkungan di masa depan.
Karena peduli lingkungan bukan hanya soal membuang sampah pada tempatnya. Peduli lingkungan adalah tentang bagaimana kita mengurangi, memilah, memanfaatkan kembali, dan bertanggung jawab atas setiap sampah yang kita hasilkan.
Tag
Baca Juga
-
Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko
-
Honor Pad X10 Mini Mengandalkan Layar 90 Hz, Bodi Metal, dan Baterai untuk Aktivitas Seharian
-
Tecno Spark 50S 5G Resmi Meluncur, Ponsel Terjangkau dengan Fitur FreeLink yang Menarik
-
Huawei FreeClip 2 Dual Color Rilis: TWS Unik dengan Desain Jepit Telinga dan Baterai Awet
-
Dompet Ayah Sepatu Ibu: Novel yang Membuat Saya Lebih Menghargai Perjuangan Orang Tua
Artikel Terkait
Kolom
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
-
Di Balik Pahitnya Matcha, Ada Ancaman Gula Berlebih yang Bikin Tubuh Menjerit!
-
Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?
-
Saya Kira Saya Malas, Ternyata Otak Saya Disetel Ulang untuk Gagal Fokus
-
Sering Dianggap Remeh, Segini Mahalnya Biaya Menjadi Perempuan Setiap Bulan
Terkini
-
Manga Komedi-Romantis Hiragi-san's House of Vampires Dapat Adaptasi Anime
-
Love's Ambition: Akting Sedih Zhao Lu Si yang Patahkan Genre Romansa CEO
-
Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik
-
Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?