Kasus dugaan manipulasi data riset yang lagi ramai dibicarakan belakangan ini—seperti yang menyeret nama akademisi Prihantini—jujur bikin saya sebagai alumni FMIPA merasa sedih sekaligus malu. Sebagai lulusan Kimia, kasus ini langsung memicu refleksi mendalam.
Di Indonesia, jumlah peneliti itu sudah sedikit banget, ditambah lagi anggaran dana sering kali terkendala atau malah dimanfaatkan untuk hal-hal yang nggak produktif.
Padahal, semua anak sains sudah pasti tahu yang namanya penelitian itu mahal harganya. Sangat disayangkan kalau dana yang ada nggak dipakai untuk menghasilkan sesuatu yang baik.
Kisah Nyata di Lab: Berburu Sampel Sampai Luar Pulau
Waktu kuliah dulu, pas bagian penelitian tugas akhir, laboratorium kampus kami belum memadai. Jadi, saya harus mengirim sampel ke luar untuk pengujian. Mau uji XRF, XRD, bahkan GC saja, kami harus mengirim sampelnya jauh-jauh ke Lampung sampai ke ITB di Bandung.
Bayangkan, sekali kirim sampel itu biayanya sekitar 100 ribu rupiah lewat ekspedisi. Kemarin itu, saya sampai harus mengirim sampel sampai 10 kali, itu saja sudah habis sejuta sendiri. Belum lagi biaya uji XRD dan XRF yang totalnya habis sekitar 700 ribuan sekali uji. Bagi mahasiswa, angka segini tentu bukan jumlah yang kecil.
Sudah keluar uang, masalah waktu juga bikin stres. Pengiriman lewat ekspedisi itu butuh waktu, kadang kami harus menunggu sampai seminggu untuk tahu hasilnya.
Nah, selama seminggu itu, kami benar-benar luntang-lantung di kampus, nggak tahu mau ngapain karena semua langkah kerja tertahan sebelum data lab keluar. Dan apesnya, dalam dunia sains, sekali kirim itu nggak mungkin langsung berhasil.
Untungnya, saya punya dosen pembimbing yang sangat baik. Beliau membantu sebagian finansial riset kami sedoping dan mengarahkan saya sampai akhirnya bisa lulus tepat waktu.
Godaan "Otak-atik" Excel di Detik-detik Terakhir
Tapi, ada satu momen yang nggak akan saya lupakan. Waktu itu saya sempat stuck beberapa minggu karena data nggak kunjung bagus. Di posisi capek dan stres itu, jujur sempat terbersit di pikiran saya untuk memalsukan data.
Logikanya, itu gampang banget. Tinggal buka Excel, otak-atik angkanya sedikit, maka grafiknya langsung jadi mulus sesuai kemauan kita.
Apalagi waktu itu pendaftaran sidang sudah mau mepet hari terakhir. Pilihan jalan pintas itu ada di depan mata. Tapi hati kecil saya menolak. Saya mikir, telat lulus nggak apa-apa deh, yang penting ini hasil keringat sendiri daripada harus pakai data orang lain atau memalsukan angka.
Di hari terakhir itu, saya putuskan nggak mau menyerah. Saya coba running sampel untuk terakhir kalinya, dan voila! Akhirnya keluar grafik yang valid dan langsung di-ACC oleh dosen pembimbing.
Dampak untuk Peneliti Indonesia: Sistem yang Harus Dibenahi
Kasus Prihantini itu masalah pilihan moral individu yang serakah demi mengejar gelar Guru Besar dan tuntutan publikasi. Peneliti itu modal utamanya harus integritas dulu dari awal, dalam kondisi sesulit apa pun.
Kalau kebiasaan memalsukan data ini terus dibiarkan karena sistem kita yang cuek, dampaknya ke dunia peneliti Indonesia bakal ngeri banget:
Riset Kita Nggak Dipercaya Dunia: Jurnal-jurnal dari Indonesia bakal dicap buruk dan diragukan validitasnya di tingkat internasional.
Sains yang Sia-sia: Kita bangga punya banyak publikasi ilmiah, tapi aslinya cuma di atas kertas karena datanya hasil manipulasi dan nggak bisa diterapkan di industri nyata.
Saran untuk Sesama Peneliti: Jangan Tukar Integritasmu
Buat teman-teman mahasiswa MIPA atau peneliti yang sekarang lagi berdarah-darah di laboratorium, lagi stuck, atau grafiknya nggak sesuai teori: jangan pernah menyerah pada integritas.
Lebih baik kita telat sidang atau mengulang sampel berkali-kali daripada harus membawa data palsu seumur hidup. Grafik yang jelek pun tetaplah sebuah data yang jujur.
Namun di sisi lain, pemerintah dan institusi kampus juga harus melek. Jangan cuma menuntut dosen dan mahasiswa menghasilkan jurnal internasional kalau fasilitas lab di kampus-kampus daerah masih memprihatinkan sampai harus kirim sampel ke pulau seberang.
Dukung dananya, benahi alatnya, dan hargai proses risetnya. Karena dari lab yang jujur dan didukung penuh lah, sains Indonesia baru bisa maju.
Baca Juga
-
Saya Baru Sadar, Masakan Ibu Tak Pernah Membosankan Meski Itu-Itu Saja
-
Paradoks Karier: Kenapa Resign Terlihat Begitu Keren di TikTok Tapi Terasa Berat di Dunia Nyata?
-
Pendidikan Tinggi Sedang Sekarat, Kenapa Negara Malah Sibuk Urus Makan Gratis?
-
Jangan Sampai Gajian Cuma Numpang Lewat, Hentikan 5 'Kebocoran' Dompet Ini Sekarang!
-
Yakin Baju di Lemarimu Aman? Awas Limbah Serat Mengancam Bumi!
Artikel Terkait
-
Motif di Balik Riset Fiktif Peneliti WNI di Denmark
-
Dugaan Riset Palsu WNI di Denmark Ikut Jadi Perbincangan di Australia
-
Status Kim Soo Hyun Terbukti Bersih, Mengapa Netizen Masih Ogah Percaya?
-
Skandal Riset AI Kedokteran Demi Travel Grant, MGBKI Desak Audit Total
-
DPR Murka! Skandal Riset Palsu WNI di Denmark Hancurkan Marwah Akademisi RI
Kolom
-
Ironi Perlindungan Negara: Surat Kehilangan Lebih Dicari daripada Motornya
-
Kontestasi 2029: Menguji Batas Antara Pelayanan Publik dan Modal Politik
-
Dilema Social Battery Low: Baru Nongkrong Kok Udah Pengen Pulang?
-
Bukan Terapis Keluarga: Ketika Guru Juga Diminta Memperbaiki Luka di Rumah
-
Tahun Ajaran Baru Tak Harus Serba Baru, Orang Tua Tak Perlu Memaksakan Diri
Terkini
-
The Odyssey: Hadir dengan Tema Kesetiaan dan Perjalanan Heroik yang Epik!
-
Hyunsuk CIX Gabung Study Group 2, Bakal Jadi Musuh Utama Hwang Minhyun
-
BM Seaside View Resto & Cafe: Hidden Gem Seafood Tepi Pantai di Anyer
-
Inggris Tumbang, Argentina Bangkit Dramatis dan Tantang Spanyol di Final
-
Doraemon the Movie: Misteri Kapal dan Bangkitnya Sistem Otomatis Atlantis!