Di balik senyum hangat dan catatan akademik yang tampak biasa saja, banyak mahasiswa di Indonesia sebenarnya memikul beban yang jauh lebih berat dari sekadar tugas kuliah.
Mereka dikenal sebagai bagian dari sandwich generation yaitu generasi yang harus menopang dua sisi kehidupan sekaligus mulai dari membantu kebutuhan orang tua di rumah, sekaligus menyiapkan masa depan pribadi mereka.
Di usia muda, mereka terjebak dalam tanggung jawab ekonomi, menjadi tulang punggung keluarga sambil berusaha tetap menyelesaikan kuliah tepat waktu. Ini bukan hanya tentang lelah fisik, tapi juga tekanan mental yang sering kali tak terlihat.
Fenomena ini perlu dibaca lebih dalam, karena tidak semua mahasiswa menjalani kehidupan kampus yang ideal. Ada yang harus membagi waktu antara kelas pagi dan shift kerja malam. Ada pula yang diam-diam menggunakan uang beasiswa bukan untuk pendidikan, melainkan untuk membeli beras di rumah.
Dalam konteks inilah kita perlu mempertanyakan kembali bagaimana sistem sosial dan ekonomi kita masih membebani generasi muda dengan tanggung jawab struktural yang seharusnya tidak mereka pikul sendiri. Apakah kita sudah cukup memberi ruang dan dukungan bagi mahasiswa yang berada dalam situasi ini?
Antara Kuliah dan Kebutuhan Rumah
Bagi mahasiswa sandwich generation, kuliah bukan hanya tentang mengejar ilmu, tapi juga tentang bertahan hidup. Banyak dari mereka yang mengambil pekerjaan sampingan mulai dari menjadi barista, ojek online, freelance, hingga berdagang untuk mencukupi kebutuhan harian keluarga.
Sayangnya, pilihan ini sering kali membuat mereka kewalahan membagi waktu dan energi. Prioritas akademik pun harus rela bergeser demi memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga.
Situasi ini tak jarang memengaruhi performa akademik dan kesehatan mental. Ketika teman sekelas bisa fokus membuat skripsi atau mengikuti organisasi, mahasiswa sandwich harus menunda mimpi mereka demi realita yang mendesak.
Mereka menjalani hari-hari penuh tekanan, takut gagal, tapi juga tak punya kemewahan untuk beristirahat. Di titik ini, kuliah menjadi perjuangan yang tidak lagi soal cita-cita, tapi tentang kelangsungan hidup.
Tekanan Sosial yang Tak Terucap
Meski beban yang mereka tanggung berat, banyak mahasiswa sandwich memilih diam. Mereka khawatir dianggap lemah, tidak bisa mengatur waktu, atau kalah bersaing dengan mahasiswa lain yang hidupnya lebih "tenang".
Budaya kompetitif di kampus yang cenderung memuji pencapaian tanpa memahami konteks, justru membuat mahasiswa dalam posisi ini merasa terasing dan kurang dihargai perjuangannya.
Tak hanya itu, dalam keluarga sendiri pun mereka sering tidak dianggap sedang berkorban. Sebagai anak sulung, misalnya, ada ekspektasi untuk membantu adik-adik sekolah, membayar listrik, bahkan ikut melunasi utang keluarga.
Tekanan sosial dari dua arah ini menciptakan ruang sunyi yang sulit ditembus, perjuangan mereka nyaris tak pernah diberi panggung.
Harapan akan Sistem yang Lebih Peka
Realita ini menuntut perhatian dari berbagai pihak, baik lembaga pendidikan, pemerintah, maupun masyarakat.
Kampus sebagai ruang belajar seharusnya bisa memberikan dukungan khusus bagi mahasiswa dalam situasi ekonomi sulit, misalnya dengan fleksibilitas perkuliahan, akses konseling gratis, hingga peluang beasiswa yang lebih berpihak pada realitas kebutuhan.
Lebih dari itu, sudah saatnya narasi tentang kesuksesan tidak hanya diukur dari kecepatan lulus atau nilai IPK. Kita perlu menciptakan ekosistem yang memahami bahwa setiap mahasiswa berangkat dari titik start yang berbeda.
Memberi ruang bagi cerita-cerita perjuangan seperti mahasiswa sandwich bukan hanya soal empati, tapi juga bentuk keadilan sosial dalam dunia pendidikan.
Menjadi mahasiswa di tengah tekanan ekonomi keluarga bukan pilihan, tapi kenyataan pahit yang harus dijalani oleh banyak anak muda hari ini. Di balik gelar sarjana yang mungkin kelak mereka raih, ada mimpi-mimpi yang ditunda, energi yang dikorbankan, dan waktu muda yang habis untuk bertahan.
Sudah saatnya kita tidak lagi menutup mata terhadap perjuangan ini. Sebab mereka bukan sekadar mahasiswa, mereka adalah pahlawan sunyi dalam rumahnya.
Baca Juga
-
Psikologi Perubahan Iklim: Mengapa Kita Sadar Lingkungan tapi Malas Bertindak?
-
Sudah Sukses Tapi Merasa Hampa? Kenali Fenomena Hedonic Adaptation
-
Kepercayaan Publik yang Kian Menjauh dari Pemerintahan
-
Saat Bertahan Sendiri Dijadikan Standar Kedewasaan: Apa Arti Mandiri?
-
Banjir yang Berulang: Peringatan Sistemik yang Tak Kunjung Didengar
Artikel Terkait
-
Gen Z dan Milenial Banjiri Industri Kreatif, Menteri Teuku Riefky: Gaji Lebih Tinggi dari UMR
-
9 HP Buat Mahasiswa: Budget Pas-pasan, tapi Fitur Gak Kaleng-Kaleng!
-
4 Daftar Beasiswa Selain LPDP Periode Juli Agustus: Kampus Dalam dan Luar Negeri
-
Prabowo Dorong Perluasan Pemanfaatan NBD Hingga Usul South-South Economic Compact
-
Beasiswa LPDP Ditolak Kampus Top Dunia Viral Gegara Biaya Hidup? Ini Faktanya
Kolom
-
Psikologi Perubahan Iklim: Mengapa Kita Sadar Lingkungan tapi Malas Bertindak?
-
Kepekaan Perempuan Terhadap Bencana, Mengapa Kepedulian Dianggap Ancaman?
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Internalized Misogyny: Ketika Perempuan Justru Melestarikan Ketimpangan
-
Menguliti Narasi 'Kuliah Itu Scam': Apa Gelar Masih Menjadi Senjata Utama?
Terkini
-
Penuh Chemistry! 3 Rekomendasi Drama Korea Go Yoon Jung di Netflix yang Bikin Baper
-
Anime Coming-of-age The Ramparts of Ice Siap Tayang April di Netflix
-
Terseret Isu Penelantaran Anak, Denada Unggah Pesan Haru untuk Mendiang Ibu
-
Mata Istri
-
Kulit Kepala Gatal? Ini 5 Sampo Ampuh untuk Dermatitis Seboroik